Santri Takut Tak Dapat Kerja? Begini Jawaban Gubernur Anwar

Suasana peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Madrasah Aliyah dan MTs Alkhairaat, Desa Wosu, Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali, terasa berbeda. Gubernur Sulawesi Tengah, H. Anwar Hafid hadir langsung dalam peringatan bertema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” tersebut. Tak sekadar seremonial, Gubernur memilih duduk bersama para santri dan guru untuk mendengarkan harapan mereka tentang masa depan pendidikan, Kamis (22/10/2026).

Oktober 24, 2026 - 09:00
Santri Takut Tak Dapat Kerja? Begini Jawaban Gubernur Anwar
Gubernur Sulawesi Tengah, H. Anwar Hafid menghadiri Peringatan Hari Santri hadir bertema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” di Madrasah Aliyah dan MTs Alkhairaat, Desa Wosu, Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali, Kamis (22/10/2026). (Foto: Biro Adpim Pemprov Sulteng)

MOROWALI, METROSULAWESI.NET - Suasana peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Madrasah Aliyah dan MTs Alkhairaat, Desa Wosu, Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali, terasa berbeda. Gubernur Sulawesi Tengah, H. Anwar Hafid hadir langsung dalam peringatan bertema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” tersebut. Tak sekadar seremonial, Gubernur memilih duduk bersama para santri dan guru untuk mendengarkan harapan mereka tentang masa depan pendidikan, Kamis (22/10/2026).

Bagi Anwar Hafid, pertemuan ini menjadi ruang untuk mendengar langsung kebutuhan para santri, guru, dan pengelola madrasah agar dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pemerintah.

“Saya sengaja datang ke sini bukan hanya untuk mengikuti kegiatan formal. Saya ingin mendengarkan langsung apa harapan para santri dan guru terhadap pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun kabupaten. Apa yang menjadi kebutuhan dan harapan adik-adik semua, silakan disampaikan,” ujar Anwar.

Ajakan itu memicu dialog yang hangat. Para santri antusias menyampaikan berbagai pertanyaan, mulai dari kesempatan kerja di tengah pesatnya pertumbuhan industri Morowali, cita-cita menjadi dokter, hingga dukungan pemerintah bagi madrasah dan tenaga pendidik.

Salah seorang siswa kelas XII MTs Alkhairaat, Moh. Rahyan, mempertanyakan langkah konkret pemerintah dalam membuka lapangan kerja bagi generasi muda lokal di tengah pesatnya perkembangan industri di Morowali.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong penyiapan sumber daya manusia (SDM) agar masyarakat lokal mampu mengambil peran dalam pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satu upayanya adalah membangun tempat pelatihan kerja dan memperkuat kerja sama dengan pemerintah kabupaten untuk mengembangkan Balai Latihan Kerja (BLK).

Menurutnya, generasi muda perlu dibekali keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Namun, ia juga mengingatkan para siswa agar tidak terburu-buru meninggalkan bangku sekolah demi langsung bekerja.

“Adik-adik jangan dulu berpikir hanya tentang pekerjaan. Teruslah belajar dan kalau bisa lanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi. Pendidikan dan keterampilan akan menjadi bekal utama menghadapi masa depan,” pesannya.

Bagi Anwar, kemajuan industri harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas SDM daerah. Anak-anak muda Sulawesi Tengah harus memiliki kesempatan berkembang, memperoleh pendidikan yang layak, serta siap bersaing untuk berkontribusi bagi daerahnya sendiri.

Harapan lain datang dari Novinur Tania, siswi kelas XII Madrasah Aliyah Alkhairaat Wosu. Ia menceritakan cita-citanya menjadi dokter dan meminta arahan serta dukungan pemerintah melalui program Berani Cerdas.

Menjawab harapan tersebut, Gubernur membeberkan rencana pemerintah untuk mengembangkan program 1.000 dokter pada 2027. Program ini diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi putra-putri daerah untuk menempuh pendidikan kedokteran dan memperkuat pelayanan kesehatan di Sulawesi Tengah.

“Kalau memang bercita-cita menjadi dokter, teruslah belajar dan persiapkan diri dari sekarang. Jangan menyerah sebelum mencoba. Pemerintah ingin anak-anak Sulawesi Tengah punya kesempatan meraih cita-citanya dan kembali untuk mengabdi kepada masyarakat,” ungkap Anwar.

Dukungan terhadap eksistensi madrasah juga menjadi sorotan. Kepala Madrasah, Amin Koyo, S.Pd.I., berharap agar kebijakan bantuan pendidikan yang selama ini dirasakan siswa sekolah umum dapat menjangkau madrasah secara merata. Ia juga menyampaikan kebutuhan rehabilitasi bangunan sekolah demi kenyamanan proses belajar mengajar.

Sementara itu, Izzat Nursaini, seorang guru sekaligus pembina santri, berharap para pendidik madrasah mendapat perhatian memadai, termasuk dalam hal pengembangan kapasitas dan kelanjutan pendidikan bagi guru.

Menanggapi aspirasi tersebut, Gubernur menyampaikan bahwa mulai tahun depan pemerintah menargetkan penyaluran dana BOS daerah dapat menjangkau sekolah-sekolah di bawah naungan Kementerian Agama. Ia juga menyebut bahwa Madrasah Aliyah kini telah memperoleh akses terhadap program Berani Cerdas. Langkah ini diharapkan memperluas akses bantuan pendidikan secara adil, termasuk bagi para santri di madrasah.

Di hadapan para siswa, Anwar juga berbagi kisah perjalanan hidup dan kariernya untuk memotivasi mereka. Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah instrumen penting untuk mengubah nasib.

“Pendidikan adalah modal utama untuk mengubah kehidupan. Jangan pernah merasa bahwa keadaan kita hari ini menentukan masa depan kita. Terus belajar, bekerja keras, dan percaya bahwa dengan usaha serta doa, kita bisa meraih apa yang dicita-citakan,” pungkasnya.

Bagi para santri, pertemuan ini menjadi momen berharga untuk menyuarakan aspirasi langsung kepada pemimpin daerah. Sementara bagi pemerintah, dialog ini menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati bukan hanya soal infrastruktur dan angka pertumbuhan ekonomi, melainkan tentang memberi ruang bagi setiap anak daerah untuk belajar, bermimpi, dan merajut masa depan. (*)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow