Bank Sampah Sintuvu Lalombi Donggala Sulap 1,15 Ton Sampah Jadi Beras Hingga Biaya Berobat
Pengelolaan sampah rumah tangga mulai membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Lalombi, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
DONGGALA, METROSULAWESI.NET – Pengelolaan sampah rumah tangga mulai membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Lalombi, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Kehadiran Bank Sampah Sintuvu tidak hanya berhasil mendorong warga menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mengubah sampah bernilai menjadi sumber tabungan keluarga.
Langkah ini menjadi terobosan penting bagi Desa Lalombi. Sebelumnya, keterbatasan fasilitas tempat penampungan sementara (TPS), sarana daur ulang, dan pengolahan membuat sebagian sampah berakhir di sungai, laut, menumpuk di sekitar permukiman, atau dibakar secara terbuka. Kini, Bank Sampah Sintuvu sukses menggeser cara pandang masyarakat terhadap sampah.
Manfaat ekonomi dari pemilahan sampah ini dirasakan langsung oleh warga. Salah seorang nasabah bernama Asnar mengaku terbantu karena bisa mencairkan tabungan bank sampah untuk biaya pengobatan darurat. Sementara Saena menggunakan hasil tabungannya untuk menyambung dapur dengan membeli beras. Kisah lain datang dari Misnawati yang berhasil menarik Rp40 ribu dari sampah untuk membiayai anaknya mengikuti lomba Hari Kemerdekaan RI.
Bank Sampah Sintuvu sendiri berkembang lewat pendampingan Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia bersama Yayasan Bonebula, yang merupakan mitra Yayasan KEHATI dalam konsorsium Program SOLUSI. Pendampingan ini meliputi edukasi pemilahan sampah dari rumah, penguatan kapasitas kelompok, hingga pembenahan tata kelola.
Munifar Salim, Project Officer YKL Indonesia saat memberikan pendampingan. FOTO: IST
Project Officer YKL Indonesia, Munifar Salim, menegaskan pentingnya keterlibatan multipihak dalam ekosistem ini, mulai dari tingkat rumah tangga hingga pemerintah daerah.
"Kami ingin pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada kegiatan mengumpulkan, tetapi dimulai dari bagaimana masyarakat memilah dari rumah. Bank sampah menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan baru tersebut sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujar Munifar dalam keterangan tertulisnya, Sabtu 10 Oktober 2026.
Strategi ini terbukti jitu. Jumlah nasabah Bank Sampah Sintuvu melonjak tajam hingga 93,75 persen, dari awalnya hanya 16 orang kini berkembang menjadi 31 orang. Sepanjang periode Juli hingga September 2026, kelompok ini bahkan sukses mengumpulkan 1.145,10 kilogram atau sekitar 1,15 ton sampah bernilai ekonomis.
Sekretaris Bank Sampah Sintuvu, Lilian, mengaku bangga melihat perubahan perilaku lingkungan di desanya. "Sebagai pengurus, saya belajar mengubah kebiasaan dan mengajak masyarakat lebih peduli. Saat melihat lingkungan menjadi lebih bersih dan sampah berserakan menjadi sesuatu yang bernilai, rasa lelah itu terbayarkan," ungkap Lilian penuh harap demi masa depan anak cucu mereka.
Untuk memperkuat manajemen internal, pengurus bank sampah bersama perwakilan Pemerintah Desa Lalombi telah melakukan kunjungan belajar ke Bali pada 28–31 Juli 2026. Di sana, mereka mendalami sistem pengelolaan bank sampah, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), serta penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) keuangan agar kelompok bisa berjalan mandiri dan berkelanjutan.
Pelatihan Pengurus Bank Sampah Sintuvu oleh prakisi. FOTO: IST
Langkah maju di tingkat tapak ini mendapat lampu hijau dari otoritas setempat. Kepala Desa Lalombi, Arus Sidora, menegaskan siap mengawal keberlanjutan program ini lewat regulasi dan kebijakan di tingkat desa.
Dukungan serupa datang dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Donggala. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Pengelolaan Sampah, dan Limbah B3 DLH Donggala, Syarif, menilai inisiatif berbasis perdesaan ini sangat potensial. Menurutnya, bank sampah di Donggala selama ini lebih banyak mendominasi wilayah perkotaan, sehingga apa yang dilakukan Desa Lalombi berpeluang besar menjadi percontohan (pilot project) bagi desa-desa lain.
Sebagai informasi, Bank Sampah Sintuvu merupakan bagian dari Program SOLUSI, sebuah kemitraan strategis antara Pemerintah Indonesia melalui Bappenas dan Pemerintah Jerman melalui International Climate Initiative (IKI). Program ini dirancang untuk merespons degradasi bentang alam dan laut, memperkuat ekosistem, serta mendorong penghidupan masyarakat yang adaptif terhadap perubahan iklim. (din/*)
Apa Reaksimu?

