Hannah Asa Indonesia Edukasi Remaja Cara Atur Keuangan
Hannah Asa Indonesia sukses menggelar Bootcamp 117 di SMP Alkhairaat 1 Palu, Sulawesi Tengah, pada Sabtu (10/10/2026). Mengusung tema “Jadi Remaja Cerdas Mengatur Keuangan”, pelatihan yang diikuti oleh 30 siswa ini bertujuan membekali generasi muda dengan kemampuan dasar mengelola uang saku demi membangun kemandirian finansial sejak dini.
PALU, METROSULAWESI.NET - Hannah Asa Indonesia sukses menggelar Bootcamp 117 di SMP Alkhairaat 1 Palu, Sulawesi Tengah, pada Sabtu (10/10/2026). Mengusung tema “Jadi Remaja Cerdas Mengatur Keuangan”, pelatihan yang diikuti oleh 30 siswa ini bertujuan membekali generasi muda dengan kemampuan dasar mengelola uang saku demi membangun kemandirian finansial sejak dini.
Pelatihan interaktif ini menghadirkan dua pemateri ahli, yakni Miswar and Defana Sandra F. Keduanya membimbing para peserta untuk memahami hubungan antara keputusan keuangan sehari-hari dengan kemampuan memenuhi kebutuhan di masa depan.
Dalam materi pertama, peserta diajak untuk tegas membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Siswa diajarkan bahwa kebutuhan sekolah seperti buku pelajaran, alat tulis, dan ongkos transportasi harus selalu diutamakan di atas keinginan yang bersifat konsumtif, seperti pengisian saldo gim daring (top-up) atau jajanan non-esensial.
Untuk mempermudah praktik sehari-hari, Bootcamp 117 memperkenalkan metode pengelolaan uang 50-30-20. Melalui rumus ini, remaja didorong membagi uang sakunya ke dalam tiga pos utama. Yaitu: 50 persen untuk kebutuhan pokok sekolah dan harian. 30 persen untuk keinginan atau hiburan. Dan 20 persennya lagi wajib disisihkan untuk tabungan.
Siswa juga dibekali trik psikologis bernama "aturan tiga hari", yaitu menunda pembelian barang non-mendesak selama tiga hari demi mengevaluasi ulang apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau sekadar lapar mata.
Hal krusial yang ditekankan dalam bootcamp ini adalah mengubah paradigma tentang menabung. Menabung harus dilakukan dengan menyisihkan uang di awal waktu setelah menerima uang saku, bukan sekadar menyimpan uang sisa di akhir bulan.
“Menjadi remaja yang cerdas secara finansial dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Jika kebiasaan menentukan prioritas dan menabung ini dilatih sejak dini, mereka akan lebih siap mengambil keputusan keuangan secara bijak saat dewasa,” jelas Miswar di hadapan para siswa.
Senada dengan hal itu, Defana Sandra F menyoroti pentingnya konsistensi dalam mengaplikasikan ilmu yang didapat ke dalam tindakan nyata.
“Pengelolaan uang saku bukan sekadar tentang berapa banyak uang yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita menggunakannya dengan bertanggung jawab. Remaja bisa mulai dengan membuat pembagian uang saku secara konsisten,” tegas Defana.
Bagi Hannah Asa Indonesia, lingkungan sekolah merupakan ruang strategis untuk menanamkan literasi keuangan. Sebagai lembaga edukasi dan pemberdayaan masyarakat yang berbasis di Indonesia Timur, lembaga ini berkomitmen memberikan pendekatan edukasi yang aplikatif dan berkelanjutan.
Melalui Bootcamp 117, mereka berharap keputusan-keputusan kecil para siswa SMP Alkhairaat 1 Palu dalam mengelola uang saku hari ini dapat menjadi fondasi kokoh untuk menghadapi tantangan ekonomi di masa depan. (din/*)
Apa Reaksimu?

