Menjaga Kesehatan Mental Peserta Didik di Era Digital

Oleh: Pormadi Simbolon

Oktober 15, 2026 - 19:03
Menjaga Kesehatan Mental Peserta Didik di Era Digital
Dua siswi menunjukkan buku catatan kesehatan usai melakukan proses pemeriksaan kesehatan di SMA Negeri 1 Solo, Jawa Tengah, Selasa (23/9/2025). Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah menyasar anak usia 7 hingga 17 tahun dengan jenis pemeriksaan yang dilakukan disesuaikan dengan jenjang pendidikan termasuk status gizi, tekanan darah, kebugaran fisik, gigi, mata, telinga, kesehatan mental, dan riwayat imunisasi sebagai upaya pemerintah untuk mencipta

Jakarta, 15/10 (ANTARA) - Di era digital, konektivitas dan kemajuan teknologi tidak selalu membuat manusia lebih sejahtera dan bahagia. Arus informasi, tekanan sosial, dan tuntutan untuk selalu produktif dapat menguras perhatian serta kesehatan mental. Karena itu, tantangan utama kita bukan menolak teknologi, melainkan menggunakannya secara bijak agar tetap mendukung kehidupan yang sehat, bermakna, dan manusiawi.

Dalam hidup sehari-hari, kebisingan digital tidak selalu berupa suara. Ia hadir melalui notifikasi yang terus berdatangan, berita yang silih berganti, perdebatan media sosial, dan dorongan untuk segera merespons segala sesuatu. Tubuh mungkin berada di ruang kelas atau ruang keluarga, tetapi pikiran terus berpindah mengikuti layar. Kita hadir secara fisik, tetapi perhatian tercerai-berai.

Di Indonesia, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah pengguna internet mencapai sekitar 221,56 juta orang pada 2024, dengan tingkat penetrasi 79,5 persen. Angka tersebut memperlihatkan betapa luasnya ruang digital dalam kehidupan masyarakat. Tantangannya bukan sekadar memperluas akses, melainkan memastikan teknologi mendukung kesejahteraan manusia.

Tidak pernah berhenti

Filsuf Byung-Chul Han, dalam The Burnout Society (2010), menggambarkan masyarakat modern sebagai masyarakat pencapaian yang mendorong individu terus meningkatkan produktivitas. Manusia tidak hanya dituntut pihak luar, tetapi juga menuntut dirinya sendiri agar bekerja lebih cepat, berprestasi lebih tinggi, dan selalu tampil baik.

Teknologi digital memperkuat tekanan tersebut. Pekerja merasa harus selalu dapat dihubungi. Guru dituntut beradaptasi dengan teknologi, sekaligus menyelesaikan administrasi. Peserta didik menghadapi tuntutan akademis dan tekanan untuk membangun citra diri di media sosial.

Kehadiran AI menambah kompleksitas. Teknologi ini dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, tetapi efisiensi tidak selalu menghasilkan waktu luang. Jika pekerjaan yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam, kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit, lingkungan kerja tertentu justru mungkin menuntut lebih banyak hasil. Manusia pun semakin sulit membedakan waktu bekerja dan waktu beristirahat.

Tentu, teknologi tidak otomatis menyebabkan gangguan mental. Namun, ketika penggunaannya mengganggu tidur, konsentrasi, hubungan sosial, dan kemampuan mengelola emosi, di saat itulah, kita perlu mengevaluasi kebiasaan digital.

Terhubung dan kesepian

Zygmunt Bauman, melalui konsep liquid modernity (2000) atau modernitas cair, menjelaskan masyarakat yang ditandai ketidakpastian dan hubungan sosial yang semakin mudah berubah.

Media sosial memungkinkan seseorang memiliki ribuan koneksi, tetapi jumlah koneksi tidak selalu sebanding dengan kedalaman hubungan. Seseorang dapat memperoleh banyak tanda suka, tetapi tidak memiliki teman untuk mendengarkan persoalannya. Ia dapat mengikuti kehidupan banyak orang, tetapi justru semakin sering membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna.

Dampaknya perlu diperhatikan, terutama bagi remaja yang sedang membangun identitas dan kepercayaan diri. Perundungan siber, penolakan sosial, dan tekanan untuk memperoleh pengakuan dapat menambah beban psikologis.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperlihatkan persoalan ini bukan sekadar dugaan. Survei terhadap hampir 280.000 remaja berusia 11, 13, dan 15 tahun di 44 negara dan wilayah di Eropa, Asia Tengah, dan Kanada menemukan bahwa proporsi remaja dengan pola penggunaan media sosial bermasalah meningkat dari 7 persen pada 2018 menjadi 11 persen pada 2022. Temuan ini bukan gambaran khusus Indonesia, tetapi menjadi peringatan tentang risiko penggunaan yang sulit dikendalikan.

Sekolah

Dunia pendidikan memiliki tanggung jawab penting. Sekolah bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan dan mengejar prestasi akademis, melainkan ruang bagi anak untuk bertumbuh secara intelektual, emosional, sosial, dan moral.

Bayangkan, seorang peserta didik yang harus menyelesaikan tugas sekolah, menghadapi ujian, dan menjaga hubungan sosial di media digital. Pada malam hari, ia masih menerima pesan grup kelas atau melihat unggahan teman yang memperlihatkan prestasi dan kehidupan menyenangkan. Ia mungkin merasa harus terus mengikuti semuanya, meskipun membutuhkan istirahat.

Contoh ini merupakan ilustrasi, bukan gambaran yang dialami semua peserta didik. Namun, situasi semacam itu menunjukkan bagaimana tuntutan akademis dan tekanan digital dapat bertumpuk.

Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui nilai ujian dan kemampuan menggunakan teknologi. Sekolah juga perlu memastikan peserta didik merasa aman, dihargai, dan memperoleh dukungan ketika menghadapi kesulitan.

Guru tidak harus menjadi psikolog. Namun, guru dapat membangun suasana kelas yang aman, mencegah perundungan, mengenali perubahan perilaku yang mengkhawatirkan, dan menghubungkan peserta didik dengan konselor atau tenaga profesional apabila diperlukan.

Literasi digital pun harus melampaui keterampilan mengoperasikan perangkat. Anak perlu belajar memeriksa kebenaran informasi, menjaga privasi, mengelola waktu penggunaan gawai, dan berpikir kritis terhadap jawaban AI. Pendidikan tidak boleh sekadar mempersiapkan anak bersaing dengan mesin, tetapi membantunya menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemandirian berpikir.

Memulihkan

Hartmut Rosa dalam Social Acceleration: A New Theory of Modernity (2013), melalui teori percepatan sosial mengingatkan bahwa kehidupan modern bergerak semakin cepat. Namun, kecepatan tidak selalu menghasilkan pengalaman yang lebih bermakna.

Kita dapat membaca banyak informasi tanpa memahami isinya, berbicara dengan keluarga sambil memeriksa ponsel, atau mendengarkan seseorang tanpa sungguh-sungguh memperhatikannya.

Karena itu, menjaga kesehatan mental memerlukan upaya memulihkan waktu dan perhatian. Keluarga dapat membangun kebiasaan makan bersama tanpa gawai. Sekolah dapat menyediakan ruang untuk membaca mendalam, berolahraga, berkesenian, dan berdialog. Tempat kerja perlu menghormati waktu istirahat dan menghindari tuntutan komunikasi yang tidak wajar di luar jam kerja.

Tanggung jawab ini tidak boleh dibebankan hanya kepada individu. Tidak cukup meminta peserta didik mengurangi penggunaan gawai jika lingkungan sosial terus menuntut mereka selalu aktif. Perubahan kebiasaan perlu didukung keluarga, sekolah, tempat kerja, dan kebijakan yang melindungi kelompok rentan.

Kembali kepada kemanusiaan

Karena itu, persoalan utama bukan bagaimana menghentikan kemajuan teknologi, melainkan bagaimana memastikan teknologi tetap melayani manusia. AI dapat memperluas pengetahuan dan membantu pekerjaan. Media sosial dapat memperkuat solidaritas dan menghubungkan orang-orang yang berjauhan. Namun, manfaat tersebut harus disertai tanggung jawab dan kesadaran akan risikonya.

Kesehatan mental juga bukan semata-mata urusan individu agar menjadi lebih kuat. Ia berkaitan dengan kualitas hubungan sosial, lingkungan pendidikan, kondisi pekerjaan, dan akses terhadap pertolongan profesional.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi dan semakin cepat oleh AI, menjaga kesehatan mental berarti mempertahankan ruang bagi kemanusiaan. Keluarga perlu menyediakan waktu untuk percakapan yang tulus. Sekolah perlu membangun lingkungan belajar yang aman dan memanusiakan peserta didik. Masyarakat perlu menumbuhkan solidaritas, bukan sekadar mengejar popularitas.

 *) Pormadi Simbolon, pemerhati isu sosial dan pendidian, Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Banten

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow