Bappeda Sulteng dan Hannah Asa Indonesia Bekali 178 Petani Milenial Donggala Literasi Keuangan
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Tengah berkolaborasi dengan Hannah Asa Indonesia menggelar monitoring, evaluasi, sekaligus penguatan kapasitas bagi 178 petani milenial di Kabupaten Donggala. Langkah ini diambil untuk mendorong pelaku pertanian agar tidak hanya fokus pada hasil produksi, tetapi juga cakap dalam mengelola manajemen keuangan usaha.
DONGGALA, METROSULAWESI.NET - Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Tengah berkolaborasi dengan Hannah Asa Indonesia menggelar monitoring, evaluasi, sekaligus penguatan kapasitas bagi 178 petani milenial di Kabupaten Donggala. Langkah ini diambil untuk mendorong pelaku pertanian agar tidak hanya fokus pada hasil produksi, tetapi juga cakap dalam mengelola manajemen keuangan usaha.
Kegiatan bertajuk “Memonitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Program Petani Milenial” tersebut dilaksanakan pada Kamis (15/10/2026), bertempat di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Simou, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala.
Kepala Bidang Perekonomian dan SDA Bappeda Sulteng, Moh Saleh N.I, menegaskan bahwa evaluasi ini krusial untuk meninjau perkembangan program yang telah berjalan selama satu tahun terakhir.
"Monitoring dan evaluasi ini bukan semata-mata untuk menilai keberhasilan atau kegagalan program, melainkan untuk mengetahui sejauh mana perkembangannya, mengidentifikasi kemajuan, serta menemukan kendala yang perlu ditangani agar program ini berjalan optimal dan berkelanjutan," ujar Moh Saleh.
Selain mengevaluasi aspek teknis, program ini membekali para petani milenial berusia 19–39 tahun dengan literasi keuangan. Delapan modul pembelajaran diterapkan oleh tim Hannah Asa Indonesia untuk mengubah pola pikir petani agar bertindak layaknya pelaku usaha profesional. Modul tersebut mencakup pemisahan uang pribadi dan usaha, pencatatan transaksi, perhitungan biaya produksi, pengelolaan arus kas, hingga manajemen risiko keuangan.
Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menekankan pentingnya bagi petani untuk memahami kondisi finansial secara terukur agar bisnis mereka dapat bertahan lama.
“Petani milenial perlu memiliki cara pandang sebagai pelaku usaha. Hasil penjualan tidak selalu sama dengan keuntungan. Karena itu, pencatatan, perhitungan biaya, dan perencanaan modal menjadi dasar penting untuk mengambil keputusan usaha secara lebih bijak,” kata Mardiyah.
Sementara itu, para mentor dari Hannah Asa Indonesia, Nurul Rodiah dan Regina, menambahkan bahwa tantangan utama sektor pertanian terletak pada siklus kas, di mana biaya produksi harus keluar jauh sebelum panen terjual. Melalui kebiasaan mencatat arus kas masuk dan keluar secara sederhana, petani diharapkan bisa mengantisipasi risiko penurunan harga atau keterlambatan pembayaran.
Menutup rangkaian materi, Associate Wealth Planner Syariah (AWPS) Hannah Asa Indonesia, Abrarul Faiz Lubis, mengingatkan pentingnya mitigasi risiko sebelum melakukan ekspansi bisnis. Petani milenial disarankan untuk selalu menyiapkan dana cadangan dan tidak terburu-buru mengambil pembiayaan modal luar jika belum sesuai dengan kemampuan riil perputaran uang usaha mereka. (*)
Apa Reaksimu?

