Siswa SD-SMP SATAP Sedoa Belajar Kelola Uang Saku
Hannah Asa Indonesia sukses menggelar Bootcamp 116 bertajuk “Memulai Langkah Cerdas dalam Mengelola Keuangan Pribadi” di SD-SMP SATAP Sedoa, Desa Sedoa, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada Jumat (09/10/2026). Pelatihan ini dirancang khusus untuk membekali siswa sekolah dasar dan menengah pertama dengan keterampilan finansial dasar melalui pendekatan yang dekat dengan keseharian mereka.
POSO, METROSULAWESI.NET - Hannah Asa Indonesia sukses menggelar Bootcamp 116 bertajuk “Memulai Langkah Cerdas dalam Mengelola Keuangan Pribadi” di SD-SMP SATAP Sedoa, Desa Sedoa, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada Jumat (09/10/2026). Pelatihan ini dirancang khusus untuk membekali siswa sekolah dasar dan menengah pertama dengan keterampilan finansial dasar melalui pendekatan yang dekat dengan keseharian mereka.
Melalui program ini, para siswa diajak memahami bahwa mengelola uang tidak perlu menunggu dewasa atau memiliki penghasilan sendiri, melainkan bisa dimulai dari keputusan kecil dalam mengatur uang saku.
Belajar Prioritas Lewat Permainan "Butuh atau Ingin?"
Dalam sesi yang dibawakan oleh Nadia, salah satu pemateri, para siswa diajak bermain klasifikasi bertema “Butuh atau Ingin?”. Lewat permainan ini, siswa belajar mengelompokkan barang esensial seperti makanan, air minum, buku, dan seragam sebagai 'kebutuhan', sementara mainan baru atau gim digital dikategorikan sebagai 'keinginan'.
Nadia menekankan bahwa melatih kemampuan menunda keinginan merupakan fondasi utama membentuk tanggung jawab finansial pada anak-anak.
“Anak-anak bisa memulainya dari uang saku yang dimiliki sekarang. Kebiasaan sederhana seperti menyisihkan uang untuk ditabung dan memikirkan ulang sebelum membeli akan menjadi bekal berharga bagi mereka untuk mengambil keputusan keuangan yang bijak di masa depan,” ujar Nadia.
Simulasi Uang Saku Rp20.000 dan Formula Menabung Rutin
Untuk memberikan pemahaman yang konkret, pemateri Fahmi memimpin simulasi pengelolaan uang saku sebesar Rp20.000. Dalam simulasi tersebut, siswa diajarkan mengalokasikan dana secara ideal: Rp8.000 untuk makanan, Rp4.000 untuk minuman, Rp3.000 untuk permen/jajan, dan Rp5.000 wajib disisihkan untuk tabungan.
Siswa juga diperkenalkan pada pencatatan keuangan sederhana (uang masuk, uang keluar, dan saldo) serta pentingnya menabung konsisten meskipun dalam nominal kecil. Sebagai ilustrasi, menabung Rp2.000 per hari selama lima hari sekolah akan menghasilkan Rp10.000, yang jika konsisten dilakukan selama empat minggu akan terakumulasi menjadi Rp40.000. Dana tabungan ini disiapkan untuk kebutuhan tidak terduga, seperti perlengkapan sekolah yang rusak atau kebutuhan darurat lainnya.
“Belajar mengatur uang bukan berarti anak-anak tidak boleh membeli sesuatu yang mereka sukai. Hal yang terpenting adalah mereka memahami batas uang yang dimiliki melalui pencatatan sederhana, sehingga pengeluaran mereka menjadi lebih terencana,” jelas Fahmi.
Selain untuk kebutuhan pribadi dan tabungan, dalam bootcamp ini para siswa SD-SMP SATAP Sedoa juga diajarkan untuk menyisihkan sebagian kecil uang saku mereka untuk berbagi guna menumbuhkan kepedulian sosial sejak dini. (din/*)
Apa Reaksimu?

