Menghadapi "Tembok" Volatilitas Moneter dan Komoditas: Alarm Keras  bagi Ekonomi Sulawesi Tengah

Oleh: Dr. Yohan, S.E, M.Si*

Oktober 19, 2026 - 10:21
Menghadapi "Tembok" Volatilitas Moneter dan Komoditas: Alarm Keras  bagi Ekonomi Sulawesi Tengah
Dr. Yohan, S.E, M.Si, Akademisi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP), Fakultas Ekonomi dan Bisnis – Universitas Tadulako. FOTO: DOK PRIBADI

GEJOLAK hebat yang melanda pasar keuangan domestik belakangan ini bukanlah sebuah anomali jangka pendek yang bisa diabaikan begitu saja. Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi harian terdalam sejak krisis 1998 dengan anjlok hingga ke posisi angka 11,57 persen ke level 5.185, kita sedang disuguhkan alarm keras tentang rapuhnya jangkar sentimen pasar. Pengumuman konsultasi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai usulan reklasifikasi status pasar modal Indonesia menjadi Standalone Market menjadi pemantik runtuhnya kepercayaan global, yang seketika memicu capital outflow (aliran modal keluar) secara masif.

Tekanan struktural ini kian nyata saat nilai tukar Rupiah terperosok melewati ambang psikologis baru di atas Rp18.000 per Dolar AS. Depresiasi yang mendalam ini bukan sekedar angka di layar perdagangan Jakarta, melainkan sebuah transmisi risiko moneter yang akan memicu lonjakan harga barang impor (imported inflation) secara nasional. Di tengah biaya pinjaman yang diperkirakan semakin membebani disertai ketidakpastian capaian target makro ekonomi, para pelaku investasi global kini cenderung mengambil sikap wait-and-see, sehingga menciptakan potensi penurunan riil pada komitmen investasi baru di tanah air.

Dampak dari guncangan makro ekonomi di tingkat nasional ini secara bertahap mulai merembes masuk ke wilayah regional seperti Pulau Sulawesi. Provinsi-provinsi di pulau ini memiliki ketergantungan yang kuat pada pembiayaan luar serta investasi modal intensif untuk menggerakkan proyek-proyek strategis daerahnya. Ketika arus likuiditas global mengetat di pusat, laju ekspansi korporasi di tingkat regional dipastikan mengalami perlambatan akibat mahalnya biaya modal operasional.

Lebih spesifik lagi, dinamika ini menjadi bayang-bayang tantangan berat bagi Provinsi Sulawesi Tengah. Sebagai daerah yang dalam satu dekade terakhir mencatatkan pertumbuhan ekonomi fantastis berkat magnet investasi industri ekstraktif, Sulawesi Tengah kini berada di garis depan paparan risiko tersebut. Pelemahannya nilai tukar Rupiah per Dolar AS di satu sisi, dan potensi tersendatnya aliran modal asing baru di sisi lain, menuntut respons kebijakan lokal yang ekstra hati-hati demi menjaga momentum kesejahteraan rakyat di seluruh Kabupaten yang ada di Sulawesi Tengah. Sinergi pemerintah antar kabupaten perlu dilakukan untuk menjaga sirkulasi sisi permintaan dan penawaran di Provinsi Sulawesi Tengah.

Gejolak yang mengarah pada pelemahan ekonomi, situasi ini diperparah oleh badai yang terjadi serentak di pasar komoditas internasional. Berbeda dengan krisis masa lalu di mana depresiasi kurs selalu menjadi berkah bagi eksportir, saat ini keunggulan dalam perdagangan internasional tersebut justru tergerus oleh anjloknya harga komoditas global secara signifikan. Harga nikel dunia, yang menjadi tulang punggung ekspor Sulawesi Tengah, terus merosot tajam menyentuh level terendah tahun ini di kisaran US$15.137 per ton akibat kelebihan pasokan global (global oversupply).

Relasi buruk antara depresiasi Rupiah per Dolar AS dan kejatuhan harga nikel global menciptakan fenomena 'jepitan kembar' (double squeeze) bagi industri pengolahan di Sulawesi Tengah. Di kala harga jual olahan nikel di pasar dunia merosot, biaya input dan impor bijih pendukung dari luar negeri—seperti dari Filipina yang melonjak untuk memenuhi kapasitas smelter—justru membengkak karena dibayar menggunakan Dolar AS yang mahal. Akibatnya, marjin keuntungan industri hilirisasi menyusut drastis dan menekan proyeksi pendapatan pusat dan daerah.

Kombinasi tekanan ini secara langsung mengancam daya serap investasi baru pada sektor hilirisasi nikel di wilayah Morowali dan sekitarnya. Rencana ekspansi proyek berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk bahan baku baterai berisiko dan dapat mengalami penjadwalan ulang, jika investor global terus menahan modal akibat status pasar modal (Pasa Keuangan) Indonesia yang diragukan. Mandeknya investasi ini akan memukul penyerapan tenaga kerja lokal dan mengancam stabilitas Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah.

Situasi kian pelik ketika kita menelaah beban fiskal yang harus ditanggung negara. Tahun ini, Indonesia dihadapkan pada masa jatuh tempo utang luar negeri dan domestik atau “tembok utang” (debt wall) dengan nilai menembus lebih dari Rp833 triliun. Pelemahan Rupiah secara otomatis membengkakkan beban konversi untuk membayar pokok dan bunga utang dalam mata uang asing, yang pada akhirnya mendistorsi postur belanja APBN.

Bagi daerah seperti Sulawesi Tengah, sesaknya ruang fiskal nasional akibat beban utang ini berisiko mengurangi fleksibilitas penyaluran Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun stimulus infrastruktur dari pusat. Anggaran negara yang tersedot untuk kewajiban finansial jangka pendek berpotensi memotong anggaran pembangunan infrasturkut untuk mendukung  perecepatan konektivitas jalan dan pelabuhan di daerah. Akibatnya, pemerintah daerah dipaksa memutar otak untuk membiayai pembangunan dengan kapasitas fiskal lokal yang terbatas.

Guna mengantisipasi dampak yang lebih buruk, reorientasi kebijakan ekonomi mutlak diperlukan secara cepat dan terukur. Pemerintah pusat melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) harus bergerak mempercepat reformasi pasar modal domestik guna memulihkan kepercayaan investor global. Perhatian penting juga dari sisi pengendalian kuota produksi nikel nasional yang telah dicanangkan oleh Kementerian ESDM juga harus dieksekusi secara ketat untuk menyeimbangkan pasokan global demi mengerek kembali harga komoditas ke level aman, olehnya dari sisi kebijakan Kementerian ESDM kedepannya bukan didesain untuk kepentingan skala nasional.

Di tingkat daerah Sulawesi Tengah, pemerintah provinsi bersama pelaku usaha harus proaktif memperkuat benteng ekonomi domestik. Diversifikasi ekonomi di luar sektor ekstraktif, seperti optimalisasi sektor pertanian, maritim, dan serapan produk lokal, harus digenjot agar daya beli masyarakat di tingkat menengah ke bawah tidak ikut ambruk terkena penularan inflasi barang impor. Olehnya diperlukannya komitmen dan sinergi kebijakan pemerintah di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota, untuk menjaga ketahanan sektor ekonomi yang menjadi tumpuan kehidupan Masyarakat Sulawesi Tengah, agar tetap berada dalam lingkaran yang berketahanan ekonomi di tengah tekanan perubahan iklim/cuaca, volatilitas moneter dan fluktuasi harga komoditas di pasar domestik maupun di pasar global. (*)

*) Penulis adalah Akademisi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP), Fakultas Ekonomi dan Bisnis – Universitas Tadulako

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow