Polusi Udara Palu Tembus Level Sangat Tidak Sehat
Dalam sepekan terakhir, kualitas udara Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, mengalami penurunan signifikan dalam sepekan terakhir. Tingginya konsentrasi partikel halus di udara, seperti PM2,5 dan PM10, menjadi perhatian serius Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu karena berisiko memicu gangguan kesehatan pada masyarakat.
PALU, METROSULAWESI.NET - Dalam sepekan terakhir, kualitas udara Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, mengalami penurunan signifikan dalam sepekan terakhir. Tingginya konsentrasi partikel halus di udara, seperti PM2,5 dan PM10, menjadi perhatian serius Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu karena berisiko memicu gangguan kesehatan pada masyarakat.
Sekretaris DLH Kota Palu, Ibnu Munzir, mengungkapkan bahwa indeks polusi udara di Kota Palu memburuk hingga menyentuh level berbahaya pada pertengahan Oktober ini.
“Kualitas udara Kota Palu dalam satu minggu ini memang mengalami penurunan, rata-rata hampir di angka 100. Bahkan pada Minggu (11/10/2026), PM2,5 dilaporkan mencapai angka 170. Ini menunjukkan udara kita sudah berada pada kondisi sangat tidak sehat,” ujar Ibnu, Selasa, 13 Oktober 2026.
Ibnu menjelaskan, partikel PM2,5 memiliki ukuran yang sangat kecil, sekitar 1/30 dari diameter sehelai rambut, sehingga dapat menembus saluran pernapasan hingga ke dalam paru-paru. Sementara PM10 berukuran sekitar 1/3 diameter rambut. Karena dampaknya yang berbahaya, masyarakat diminta memahami risiko paparan polusi tersebut.
Untuk menekan risiko kesehatan, DLH mengimbau warga yang beraktivitas di luar rumah agar menggunakan masker jenis N95. Masker ini dinilai efektif menyaring partikel mikroskopis, berbeda dengan masker kain biasa yang perlindungannya sangat terbatas terhadap polusi halus.
Selain itu, DLH meminta masyarakat tidak lagi melakukan pembakaran sampah secara sembarangan, sebab kegiatan tersebut memperbanyak konsentrasi partikulat seperti PM10 di udara.
“Kami berharap imbauan tidak membakar sampah ini dapat disosialisasikan kembali oleh para camat dan lurah di wilayah masing-masing melalui surat edaran Wali Kota Palu,” tambahnya.
Penurunan kualitas udara ini turut dipengaruhi oleh kondisi topografi Kota Palu yang dikelilingi pegunungan. Bentuk wilayah yang menyerupai lembah membuat pergerakan udara cenderung lambat, sehingga partikulat mudah terakumulasi dan tertahan, terutama pada pagi hari.
Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk menunda aktivitas olahraga di luar ruangan hingga sinar matahari membantu memecah ikatan partikulat di udara.
Selama kualitas udara belum membaik, warga juga diimbau menutup pintu, jendela, serta membatasi ventilasi rumah yang berhubungan langsung dengan udara luar untuk menjaga kebersihan udara di dalam ruangan.
DLH Kota Palu secara khusus memberikan perhatian kepada kelompok yang paling rentan terhadap polusi udara, seperti anak-anak, lansia, serta penderita asma atau gangguan pernapasan lainnya.
Kelompok ini disarankan membatasi kegiatan di luar rumah dan segera berkonsultasi dengan fasilitas kesehatan jika mengalami keluhan pernapasan.
“Yang utama adalah bagaimana kita menjaga kesehatan diri dan saling melindungi, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan,” tandas Ibnu.
Pewarta: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim
Apa Reaksimu?

