Sulap Sampah Jadi Beras dan Biaya Berobat, Aksi Keren Warga Lalombi Donggala!
Siapa sangka, tumpukan sampah di rumah bisa jadi penyelamat dompet saat tanggal tua atau kondisi darurat? Di Desa Lalombi, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, hal ini benar-benar terjadi berkat kehadiran Bank Sampah Sintuvu.
DONGGALA, METROSULAWESI.NET - Siapa sangka, tumpukan sampah di rumah bisa jadi penyelamat dompet saat tanggal tua atau kondisi darurat? Di Desa Lalombi, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, hal ini benar-benar terjadi berkat kehadiran Bank Sampah Sintuvu.
Fakta menariknya, nama "Sintuvu" ini diambil dari bahasa suku Kaili yang berarti kebersamaan atau gotong royong. Nama yang pas banget dengan semangat warga pesisir di sana!
Dulu, karena tidak ada tempat sampah yang memadai, warga terbiasa membuang sampah ke sungai, laut, atau membakarnya begitu saja. Sekarang, kebiasaan itu berubah total. Sampah tidak lagi dianggap sebagai kotoran, melainkan "emas tersembunyi" yang bisa ditabung.
Manfaat ekonominya pun langsung dirasakan nyata oleh warga sekitar. Salah satunya adalah Asnar. Dia merasa sangat terbantu karena uang tabungan dari bank sampah bisa dicairkan secara mendadak untuk biaya pengobatan darurat.
Selain Asnar, Saena juga ikut menikmati hasil pengelolaan sampah tersebut. Saena memanfaatkan hasil tabungan sampahnya untuk menyambung hidup dengan membeli beras dapur.
Misnawati yang juga ikut menabung di bank sampah juga sangat terbantu dengan kehadiran bank sampah. Dia berhasil mencairkan uang Rp40 ribu dari sampah yang dikumpulkannya demi membiayai sang anak ikut lomba Hari Kemerdekaan RI.
Aksi keren ini bisa berjalan sukses berkat pendampingan dari Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia dan Yayasan Bonebula. Mereka adalah bagian dari Program SOLUSI yang didukung oleh Bappenas RI dan Pemerintah Jerman (IKI).
Bukan cuma mengajari cara memilah sampah dari dapur, para pengurus bank sampah ini bahkan sempat diterbangkan untuk studi tiru ke Bali guna mempelajari manajemen bank sampah dan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) yang lebih profesional.
Menurut Munifar Salim, Project Officer YKL Indonesia, kunci sukses gerakan ini adalah kerja sama semua orang. Tujuannya bukan cuma mengumpulkan sampah, tapi membangun kebiasaan baru lewat pemilahan dari rumah yang ujung-ujungnya memberi keuntungan nyata buat warga.
Strategi ini terbukti sangat jitu. Jumlah nasabah Bank Sampah Sintuvu melonjak tajam sebesar 93,75 persen, dari yang awalnya cuma 16 orang kini berkembang menjadi 31 nasabah. Hebatnya lagi, hanya dalam waktu tiga bulan (Juli–September 2026), warga Desa Lalombi berhasil mengumpulkan 1.145 kilogram atau sekitar 1,15 ton sampah!
Melihat kesuksesan ini, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala ikut angkat jempol. Inisiatif keren di Desa Lalombi ini kini resmi dilirik untuk menjadi proyek percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat bagi desa-desa lainnya. (din/*)
Apa Reaksimu?

