Founder Hannah Asa Indonesia: Literasi Keuangan Mahasiswa Bukan Sekadar Teori, Tapi Aksi Nyata
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks literasi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa baru mencapai 62,72 persen. Angka ini tercatat masih berada di bawah indeks nasional yang menyentuh 69,57 persen.
PALU, METROSULAWESI.NET - Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks literasi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa baru mencapai 62,72 persen. Angka ini tercatat masih berada di bawah indeks nasional yang menyentuh 69,57 persen.
Merespons kesenjangan data tersebut, lembaga edukasi Hannah Asa Indonesia berkolaborasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Datokarama Palu menggelar Bootcamp 119 bertajuk “Mempersiapkan Generasi Muda Perbankan Syariah yang Lebih Melek Finansial”. Kegiatan ini dilaksanakan di Meeting Room Lantai II Gedung FEBI UIN Datokarama Palu pada Rabu (14/10/2026) pagi, dengan menghadirkan dua pakar finansial sebagai pemateri, yakni Abdul Saifullah Maulana, AWPS, dan Arsy Akhyudi Alamsyah, AWPS.
Kegiatan strategis ini mendapat apresiasi penuh dari pihak birokrasi kampus. Dekan FEBI UIN Datokarama Palu, Dr. Sagir Muhammad Amin, M.Pd.I., menyatakan bahwa kecerdasan finansial merupakan bekal krusial bagi masa depan mahasiswa di luar pencapaian IPK tinggi.
"Pengetahuan akademik di ruang perkuliahan perlu diimbangi dengan kemampuan mengambil keputusan keuangan secara bijak, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan. Kami berharap kolaborasi ini memperkaya pengalaman belajar mahasiswa dalam menghubungkan teori perbankan syariah dengan kebutuhan nyata pengelolaan kas di masyarakat maupun dunia profesional," ungkap Dr. Sagir Muhammad Amin dalam pernyataannya. [1]
Senada dengan hal itu, Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menegaskan bahwa kecerdasan finansial generasi muda harus dipupuk melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
"Literasi keuangan bukan hanya tentang bagaimana seseorang mengatur uang yang dimilikinya, tetapi juga bagaimana ia menentukan prioritas, memahami konsekuensi dari setiap keputusan, dan mempersiapkan masa depan," ujar Mardiyah.
Ia menambahkan, di tengah masifnya transaksi digital, kemudahan layanan pesan-antar, dan godaan tren konsumsi, mahasiswa dituntut adaptif membedakan kebutuhan utama dengan keinginan fleksibel.
"Kami ingin mahasiswa mampu menerapkannya langsung, mulai dari mencatat pengeluaran secara digital, menyusun anggaran mandiri, hingga membangun kebiasaan menabung secara konsisten," tambahnya.
Dalam sesi inti, peserta Bootcamp 119 dibekali simulasi manajemen keuangan praktis menggunakan formula anggaran 40-30-20-10 sebagai acuan yang fleksibel. Menggunakan contoh alokasi uang saku Rp1,5 juta, mahasiswa dilatih mendistribusikan dana secara taktis ke dalam pos kebutuhan pokok, tabungan/dana darurat, pengembangan diri (seperti biaya pelatihan dan sertifikasi), hiburan, serta dana sosial.
Selain itu, para mahasiswa diajarkan metode kurasi belanja melalui tiga pertanyaan dasar sebelum transaksi: apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, apakah sudah memiliki barang dengan fungsi serupa, dan apakah pembeliannya bisa ditunda.
Melalui penguatan literasi terarah ini, mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah FEBI UIN Datokarama Palu diharapkan tidak sekadar menjadi konsumen atau pengguna layanan teknologi keuangan (fintech), melainkan mampu bertindak sebagai pengendali arus kas yang bijak demi kemandirian finansial jangka Panjang. (*)
Apa Reaksimu?

