Ajak 571 Siswa Melek Finansial, Hannah Asa Indonesia Gelar Bootcamp Seru di SMP Al-Azhar Mandiri Palu
Pernahkah Anda bingung ke mana perginya uang jajan bulanan atau mingguan? Ternyata, urusan mengelola uang bukan cuma PR buat orang dewasa yang sudah berpenghasilan, lho. Anak-anak usia sekolah pun sudah harus mulai belajar memegang kendali atas isi dompet mereka sendiri.
PALU, METROSULAWESI.NET- Pernahkah Anda bingung ke mana perginya uang jajan bulanan atau mingguan? Ternyata, urusan mengelola uang bukan cuma PR buat orang dewasa yang sudah berpenghasilan, lho. Anak-anak usia sekolah pun sudah harus mulai belajar memegang kendali atas isi dompet mereka sendiri.
Kesadaran inilah yang mendasari Hannah Asa Indonesia menggelar Bootcamp 113 bertema “Membangun Kebiasaan Finansial untuk Generasi Masa Depan”. Acara seru ini diadakan di SMP Al-Azhar Mandiri Palu pada Jumat pagi (2/10/2026) mulai pukul 07.15 WITA. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 571 siswa-siswi serta 20 orang guru ikut ambil bagian dalam kegiatan ini.
Dipandu langsung oleh Mardiyah (Founder Hannah Asa Indonesia) dan Sitti Nadira, AWPS, materi keuangan yang biasanya terdengar membosankan disulap menjadi obrolan yang sangat dekat dengan keseharian remaja.
Bagi Hannah Asa Indonesia, mengajarkan keuangan pada anak SMP bukan berarti menyuruh mereka berpikir layaknya menteri keuangan. Fokusnya jauh lebih sederhana: melatih cara berpikir sebelum merogoh kocek, agar mereka paham konsekuensi dari setiap keputusan keuangan yang diambil.
Sesi simulasi menjadi salah satu momen paling seru. Para siswa ditantang mengelola uang saku harian sebesar Rp20.000. Mereka diajak menghitung kebutuhan untuk makan, minum, jajan, dan berapa sisanya yang bisa dikantongi kembali.
Lewat contoh ini, para pemateri menunjukkan bahwa pintar mengelola uang itu bukan soal besar atau kecilnya nominal, melainkan cara kita mengambil keputusan.
"Bayangkan kalau punya uang Rp20.000, tapi pengin beli makanan Rp10.000, minuman Rp5.000, dan mainan Rp10.000. Totalnya kan jadi Rp25.000. Nah, dari sini adik-adik belajar bahwa keinginan harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan," jelas pemateri memberi ilustrasi. Jika dipaksakan, opsinya cuma tiga: minta tambahan orang tua, berutang, atau terpaksa membatalkan salah satu belanjaan.
Menulis "Diary" Keuangan dan Menabung dengan Target
Selain diajak berpikir kritis, para siswa juga diperkenalkan dengan kebiasaan mencatat arus kas. Caranya mudah, cukup memanfaatkan buku catatan kecil atau fitur Notes di ponsel pintar mereka. Dengan mencatat, mereka bisa tahu apakah uang jajan selama ini lebih banyak habis untuk kebutuhan penting atau sekadar lapar mata.
Konsep menabung juga dibahas secara menarik lewat strategi "menabung dengan tujuan". Daripada sekadar melarang anak jajan, mereka diajarkan untuk menyisihkan uang demi target tertentu.
Sebagai contoh, jika dalam sehari bisa menyisihkan Rp5.000, dalam seminggu sekolah mereka sudah bisa mengumpulkan Rp25.000. Jika konsisten selama sebulan, angkanya menjadi Rp100.000. Simulasi ini membuktikan bahwa uang receh yang dikumpulkan secara konsisten bisa berubah menjadi nominal yang besar. Apalagi jika punya target spesifik, misalnya ingin membeli headset seharga Rp150.000 dengan menyisihkan Rp10.000 per minggu. Menabung pun terasa lebih menyenangkan karena ada motivasi di ujungnya!
Hal menarik lainnya adalah pengenalan konsep dana cadangan versi remaja. Siswa diajarkan bahwa tidak semua uang harus dihabiskan hari itu juga. Sebagian uang sebaiknya disimpan untuk situasi tak terduga, seperti saat pulpen mendadak hilang atau ada barang sekolah penting yang rusak.
Sebagai penutup, para siswa dibekali kemampuan dasar membedakan kebutuhan (seperti buku sekolah, alat tulis, dan ongkos transportasi) serta keinginan (seperti game baru, aksesori HP, atau jajan berlebihan).
Untuk mempermudah mereka mengambil keputusan di depan kasir atau kantin, para pemateri membocorkan tiga pertanyaan sakti sebelum membeli sesuatu, yaitu: Apakah saya benar-benar membutuhkannya saat ini? Apakah uang saya cukup untuk membelinya tanpa berutang? Apa dampaknya bagi tabungan saya jika barang ini dibeli?
Melalui pendekatan yang ringan dan interaktif ini, diharapkan ratusan siswa SMP Al-Azhar Mandiri Palu bisa pulang dengan membawa kebiasaan finansial baru yang sehat demi masa depan mereka. (din/*)
Apa Reaksimu?

