Kemkomdigi Siapkan Panduan Risiko Anak di Ruang Digital Untuk Platform
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama tim pakar menyiapkan panduan yang akan menjabarkan secara lebih rinci tujuh risiko anak di ruang digital yang perlu diperhatikan platform digital.
Jakarta, 07/10 (ANTARA) - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama tim pakar menyiapkan panduan yang akan menjabarkan secara lebih rinci tujuh risiko anak di ruang digital yang perlu diperhatikan platform digital.
"Dari situ kita juga melihat bahwa langkah berikutnya adalah Kemkomdigi bersama tim pakar akan melakukan turunan dari tujuh risiko yang sudah kita amanahkan atau kita tugaskan kepada para platform," kata Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid di Jakarta, Rabu.
Sebanyak tujuh risiko tersebut, kecanduan internet, kontak dengan orang asing, paparan konten tidak sesuai usia, eksploitasi komersial, kebocoran data pribadi, gangguan psikologis, dan gangguan fisik.
Dia menjelaskan setiap risiko akan dijelaskan lebih detail menjadi sebuah panduan sehingga platform digital memiliki acuan yang lebih jelas mengenai langkah yang perlu dilakukan untuk melindungi anak di ruang digital.
"Jadi turunan dari risiko kontak, konten, kecanduan, keamanan konsumen, kondisi fisik fisiologis, dan kesehatan mental akan dijelaskan dengan lebih detail," ujarnya.
Ia mengatakan panduan tersebut nantinya diterbitkan dalam bentuk keputusan menteri.
Selain penanganan risiko oleh platform, Meutya menekankan pentingnya edukasi bagi pengguna sebagai bagian dari upaya perlindungan anak di ruang digital.
Menurut dia, kewajiban platform tidak cukup hanya dengan melakukan penurunan (take down) terhadap konten atau menyediakan fitur keamanan.
Platform juga perlu memastikan pengguna memahami bahaya serta fitur-fitur yang tersedia untuk melindungi anak.
"Jadi tidak hanya men-take down, tapi penggunanya tidak diedukasi mengenai bahayanya, mengenai fitur-fitur yang ada di dalam platform tersebut, itu juga tidak kita dapat lakukan penurunan risiko ke low risk (risiko rendah)," kata dia.
Meski sejumlah platform telah memiliki mematikan fitur kontak bagi akun anak, ia menilai, upaya perlindungan belum optimal apabila orang tua tidak mendapatkan edukasi mengenai cara menggunakan.
"Akhirnya karena orang tua tidak tahu, fitur itu terus-menerus tetap ada jadi ini contoh pentingnya kewajiban edukasi," ujarnya. (antara)
Apa Reaksimu?

