Pelindo TPK Pantoloan Catat 7.073 Box dan 8.459 TEUs pada Minggu Keempat September 2026

Kinerja Operasional Terus Dipantau untuk Memperkuat Produktivitas, Keandalan Layanan, dan Efisiensi Terminal

Sep 28, 2026 - 16:32
Pelindo TPK Pantoloan Catat 7.073 Box dan 8.459 TEUs pada Minggu Keempat September 2026
PT Pelindo Terminal Petikemas melalui TPK Pantoloan terus memperkuat kinerja operasional terminal dengan melakukan pemantauan throughput dan produktivitas secara berkala. FOTO: HUMAS PELINDO

PALU, METROSULAWESI.NET - PT Pelindo Terminal Petikemas melalui TPK Pantoloan terus memperkuat kinerja operasional terminal dengan melakukan pemantauan throughput dan produktivitas secara berkala. Pada minggu keempat September 2026, TPK Pantoloan mencatat realisasi 7.073 box dan 8.459 TEUs.

Berdasarkan laporan kinerja operasional minggu keempat, realisasi throughput box mencapai 79,50 persen dari target 8.897 box. Sementara itu, realisasi throughput petikemas mencapai 8.459 TEUs atau 73,44 persen dari target 11.518 TEUs.

Capaian tersebut merupakan bagian dari pemantauan kinerja mingguan yang digunakan sebagai dasar evaluasi operasional sekaligus untuk mengidentifikasi ruang perbaikan dalam pengelolaan terminal.

Secara tren, throughput box menunjukkan peningkatan dibandingkan minggu sebelumnya. Pada minggu pertama tercatat 836 box, meningkat menjadi 3.034 box pada minggu kedua, 6.675 box pada minggu ketiga dan mencapai 7.073 box pada minggu keempat. Pola yang sama terlihat pada throughput TEUs, yang meningkat dari 976 TEUs pada minggu pertama menjadi 3.562 TEUs pada minggu kedua, 8.014 TEUs pada minggu ketiga, dan 8.459 TEUs pada minggu keempat.

PT Pelindo Terminal Petikemas melalui TPK Pantoloan terus memperkuat kinerja operasional terminal dengan melakukan pemantauan throughput dan produktivitas secara berkala.  FOTO: HUMAS PELINDO

Produktivitas Operasional Terjaga

Selain volume throughput, TPK Pantoloan juga memonitor sejumlah indikator produktivitas operasional kapal. Pada minggu keempat, BSH (Box Ship Hour) tercatat 22,01, mendekati target 23, sedangkan BCH (Box Crane Hour) mencapai 20,25, melampaui target 20.

Sementara itu, indikator ET/BT (Effective Time/Berth Time) tercatat 79,11 persen, atau mendekati target 80 persen.

Capaian BCH yang berada di atas target menjadi salah satu indikator bahwa produktivitas kegiatan bongkar muat yang diukur melalui box crane hour tetap terjaga. Pada saat yang sama, capaian BSH dan ET/BT menjadi bagian yang terus dievaluasi untuk memastikan waktu pelayanan kapal dapat semakin efisien.

Dari sisi berth production, produktivitas tercatat berasal dari QCC sebesar 4.225 box dan HMC sebesar 2.848 box, sementara SC tercatat nihil pada periode tersebut. Komposisi kegiatan juga menunjukkan DSCH 50 persen dan LOAD 50 persen, dengan TEUs ratio sebesar 1,20.

Evaluasi Idle dan Non-Productive Tim

Untuk menjaga keandalan pelayanan, TPK Pantoloan juga melakukan monitoring terhadap waktu tunggu dan aktivitas nonproduktif (non-operating time/idle time).

Pada minggu keempat, komponen top NOT/idle average per ship yang tercatat antara lain rest personnel sebesar 1,88, waiting berth/crane/yard/chock engine sebesar 0,63, breakdown sebesar 0,49, waiting truck/container traffic sebesar 0,49, serta waiting for equipment support dan waiting truck masing-masing sebesar 0,30.

Sementara itu, total NOT Post tercatat 0,67 dan NOT Pre sebesar 0,62. Data tersebut menjadi bagian dari bahan evaluasi operasional untuk mengidentifikasi faktor yang dapat mempengaruhi kelancaran kegiatan kapal dan meningkatkan efektivitas pemanfaatan waktu pelayanan.

Continuous Improvement Menjadi Fokus

Terminal Head TPK Pantoloan, Chaerur Rijal, Senin 28 September 2026, mengatakan bahwa pengukuran throughput dan performance secara mingguan penting untuk memastikan setiap indikator operasional dapat dipantau dan dievaluasi secara konsisten.

“Laporan kinerja mingguan menjadi instrumen penting bagi kami untuk melihat perkembangan throughput sekaligus mengidentifikasi indikator yang masih perlu diperkuat. Tidak hanya mengejar volume, kami juga memperhatikan produktivitas, waktu pelayanan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kelancaran kegiatan kapal,” ujar Chaerur Rijal.

Menurutnya, evaluasi dilakukan secara menyeluruh dengan melihat hubungan antara volume pekerjaan, produktivitas peralatan, waktu sandar, aktivitas bongkar muat, serta faktor idle dan non-productive time.

“Target kami adalah memastikan peningkatan volume tetap diikuti dengan peningkatan kualitas operasional. Karena itu, setiap minggu kami melakukan evaluasi terhadap pencapaian dan deviasi untuk menentukan langkah perbaikan sehingga pelayanan kepada pengguna jasa dapat semakin andal dan efisien,” tambahnya.

Sejalan dengan Pertumbuhan Aktivitas Angkutan Laut

Upaya menjaga produktivitas terminal sejalan dengan dinamika sektor transportasi laut nasional. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa sepanjang Januari–Juli 2026, volume barang yang diangkut melalui angkutan laut domestik meningkat 4,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juli 2026 saja, barang yang diangkut melalui angkutan laut domestik mencapai 46,0 juta ton, meningkat 6,71 persen secara bulanan.

Dalam konteks global, UN Trade and Development (UNCTAD) memperkirakan perdagangan petikemas dunia tumbuh rata-rata 2,3 persen per tahun pada periode 2026–2030. Pada saat yang sama, industri pelayaran menghadapi ketidakpastian geopolitik, perubahan rute, volatilitas biaya dan tuntutan terhadap digitalisasi serta keberlanjutan.

Kondisi tersebut semakin mempertegas pentingnya pengelola terminal untuk menjaga produktivitas, keandalan pelayanan dan efisiensi waktu, sehingga mampu mendukung kelancaran rantai pasok dan kebutuhan pengguna jasa.

Bagian dari Penguatan Jaringan Terminal Petikemas

Pemantauan kinerja TPK Pantoloan juga menjadi bagian dari agenda yang lebih luas PT Pelindo Terminal Petikemas dalam membangun jaringan terminal yang terstandarisasi dan berorientasi pada keunggulan operasional.

PT Pelindo Terminal Petikemas saat ini mengelola jaringan 32 terminal di 15 cabang dan tujuh anak perusahaan. Sepanjang 2025, perusahaan mencatat arus petikemas sebesar 13,34 juta TEUs. Hingga Agustus 2026, arus petikemas secara nasional di jaringan SPTP mencapai 9,11 juta TEUs.

Dalam kerangka tersebut, TPK Pantoloan terus mendorong penerapan prinsip standardisasi, optimalisasi operasional, peningkatan produktivitas peralatan, pengendalian waktu pelayanan, serta penguatan customer experience.

Chaerur Rijal menambahkan bahwa capaian mingguan harus dipandang sebagai bagian dari proses perbaikan berkelanjutan.

“Setiap angka dalam laporan performance bukan hanya menjadi laporan pencapaian, tetapi juga menjadi dasar untuk menentukan tindakan perbaikan. Kami akan terus memperkuat koordinasi antara tim operasional, perencanaan, peralatan, pelayanan dan stakeholder agar potensi gangguan dapat diantisipasi lebih cepat,” tuturnya.

Dengan pemantauan throughput dan performance secara konsisten, Pelindo TPK Pantoloan berkomitmen menjaga agar pertumbuhan aktivitas terminal berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas, keselamatan, keandalan dan efisiensi pelayanan.

Langkah tersebut sekaligus memperkuat peran TPK Pantoloan dalam mendukung konektivitas logistik dan aktivitas perdagangan di Sulawesi Tengah serta menjadi bagian dari upaya Pelindo Terminal Petikemas menghadirkan layanan terminal yang semakin andal, terintegrasi, transparan dan berorientasi kepada pengguna jasa. (adv)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow