Aturan 24 Jam dan Formula 50-30-20: Cara Seru Hannah Asa Indonesia Latih Siswa Palu Melek Finansial
Mengatur keuangan ternyata bukan soal seberapa besar uang yang dimiliki, melainkan bagaimana keputusan terhadap uang tersebut diambil. Karakter finansial ini penting dibentuk sejak dini melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana, seperti mencatat pengeluaran dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
PALU, METROSULAWESI.NET— Mengatur keuangan ternyata bukan soal seberapa besar uang yang dimiliki, melainkan bagaimana keputusan terhadap uang tersebut diambil. Karakter finansial ini penting dibentuk sejak dini melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana, seperti mencatat pengeluaran dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Berangkat dari urgensi tersebut, Hannah Asa Indonesia menggelar program Bootcamp 110 pada Sabtu (26/9/2026). Bertempat di Asrama Putra Boarding School MAN 2 Palu, kegiatan ini mengedukasi para pelajar agar tidak sekadar mengenal teori menabung, tetapi memiliki kecakapan finansial (financial capability) nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pelatihan ini, Junior Trainer Associate Wealth Planner Syariah (AWPS), Sadik Fayyat, menekankan bahwa pengelolaan keuangan bagi pelajar harus dimulai dari hal-besaran yang mendasar, bukan investasi yang rumit.
"Yang paling penting adalah membangun fondasi. Kita perlu tahu uang digunakan untuk apa, berapa yang harus disisihkan, dan apa yang harus dipersiapkan ketika ada kebutuhan tidak terduga," jelas Sadik.
Untuk memudahkan siswa, mentor memberikan ilustrasi formula alokasi uang saku ideal: 50 persen untuk kebutuhan harian sekolah, 30 persen disisihkan untuk tabungan masa depan, dan 20 persen dialokasikan sebagai dana darurat.
Sebagai contoh, jika seorang siswa memiliki uang Rp500.000, maka Rp250.000 digunakan untuk kebutuhan, Rp150.000 untuk tabungan, dan Rp100.000 untuk dana darurat. Namun, Hannah Asa Indonesia mengingatkan bahwa angka ini hanyalah ilustrasi fleksibel yang porsinya bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing pelajar.
Selain formula tersebut, para siswa juga diajarkan metode "Menunda 24 Jam" ketika muncul keinginan membeli barang konsumtif demi menghindari belanja impulsif, serta komitmen tegas untuk menjauhi utang pertemanan maupun pinjaman online (pinjol).
Mengenal Investasi Aman
Setelah fondasi dasar terbentuk, materi berlanjut pada pengenalan instrumen investasi syariah yang ramah pemula, seperti emas dan reksa dana pasar uang.
Meski demikian, AWPS Junior Trainer, Qodrawin, mengingatkan para siswa agar tidak tergiur keuntungan instan semata. "Investasi bukan sekadar mencari profit. Sebelum memilih instrumen, kita harus paham tujuannya, jangka waktunya, dan risiko yang sanggup kita terima," tegasnya.
Di tengah maraknya layanan keuangan digital, para peserta dibekali prinsip 2L (Legal dan Logis) untuk memfilter setiap tawaran yang masuk. Mereka diajarkan pentingnya memeriksa legalitas penyedia layanan, mewaspadai modus investasi bodong, bahaya judi online, aktivitas trading ilegal, pinjol ilegal, hingga pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadi seperti kode OTP.
Tantangan 30 Hari
Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menjelaskan bahwa tujuan akhir dari edukasi ini adalah membentuk ketahanan finansial (financial resilience) pada diri generasi muda.
"Mengatur keuangan adalah tentang pembentukan karakter. Ketika pengetahuan ini berubah menjadi kebiasaan menghadapi keputusan nyata, di sanalah financial capability terbentuk," kata Mardiyah.
Agar materi tidak menguap begitu saja, Bootcamp 110 ditutup dengan Tantangan 30 Hari yang wajib diikuti peserta secara bertahap: Minggu I: Berfokus pada pencatatan rutin uang masuk dan uang keluar. Minggu II: Membuat rencana pembagian uang saku dan menetapkan target tabungan. Minggu III: Praktik langsung memisahkan uang tabungan setiap kali menerima uang saku. Minggu IV: Melakukan evaluasi total dan menetapkan target dana darurat secara mandiri.
Bagi siswa yang belum memiliki rekening bank, Hannah Asa Indonesia juga mendorong adanya pendampingan orang tua untuk membuka Tabungan Simpanan Pelajar (SimPel) guna mendukung aksi nyata mereka. (*)
Apa Reaksimu?

