Generasi Muda Diminta Kritis Hadapi Algoritma Media Sosial

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan generasi muda untuk meningkatkan kesadaran digital agar tidak terjebak dalam fenomena "ilusi" algoritma di media sosial.

Jun 18, 2026 - 13:04
Generasi Muda Diminta Kritis Hadapi Algoritma Media Sosial
Menkomdigi Meutya Hafid mengingatkan bahwa ruang digital kerap menghadirkan persepsi yang tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya. Algoritma personalisasi yang digunakan platform digital dapat memperbesar potongan-potongan realitas tertentu sehingga menciptakan kesan yang menyesatkan tentang pandangan publik. Hal itu disampaikan Menkomdigi secara daring dalam Roadshow dan Peluncuran Buku karya Andi Ilham Paulangi berjudul "Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z" yang berla

JAKARTA, METROSULAWESI.NET- Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan generasi muda untuk meningkatkan kesadaran digital agar tidak terjebak dalam fenomena "ilusi" algoritma di media sosial.

Menurutnya ilusi algoritma apabila tidak disadari berpotensi memanipulasi persepsi terhadap realitas sosial dan demokrasi di ruang digital.

"Massa bisa menunjukkan semua marah, atau semua orang sedang tenang, atau semua yang viral pasti benar. Padahal, itu bisa hanya menunjukkan potongan realitas yang dibesarkan oleh algoritma," ujar Meutya Hafid dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Kamis.

Pesan ini turut disampaikan Meutya secara daring melalui acara peluncuran buku karya Andi Ilham Paulangi berjudul "Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z" yang berlangsung di IPB University, Bogor, Jawa Barat, Rabu (17/6).

Meutya mengatakan dalam praktiknya kebebasan berpendapat tidak hanya terjadi di ruang fisik, melainkan tumbuh dan hidup di ruang digital melalui lini masa media sosial, kolom komentar, hingga berbagai platform interaksi daring yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Akan tetapi yang terjadi saat ini karena adanya algoritma personalisasi sering kali ruang digital menghadirkan persepsi yang tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya.

Algoritma personalisasi dinilainya dapat memperbesar potongan-potongan realitas tertentu sehingga menciptakan kesan yang menyesatkan tentang pandangan publik.

Maka dari itu, Meutya mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di media sosial dan menumbuhkan kesadaran digital.

Kesadaran digital baginya menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh opini ekstrem maupun kemarahan publik yang tampak dominan di ruang digital, tetapi belum tentu mencerminkan fakta sosial yang sesungguhnya.

Pesan ini sengaja ditujukan untuk generasi muda karena generasi muda khususnya generasi Z saat ini memiliki posisi strategis dalam menentukan arah perkembangan demokrasi Indonesia di masa depan.

Kemampuan generasi muda dalam memahami cara kerja algoritma dan memilah informasi secara kritis akan menjadi modal penting untuk menjaga kualitas ruang publik digital.

Menkomdigi juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga ruang digital Indonesia agar tetap sehat, aman, produktif, dan mendukung penguatan demokrasi.

Wakil Rektor I IPB University Deni Noviana menambahkan pembahasan mengenai algoritma di media sosial.

Menurutnya kecanggihan teknologi ini berpengaruh besar terhadap cara masyarakat berinteraksi dan mengonsumsi informasi di media sosial.

Tantangan yang muncul tidak hanya terkait pemahaman teknologi, tetapi juga berkaitan dengan keberagaman perspektif dalam ruang digital.

Ia menjelaskan bahwa algoritma pada umumnya dirancang untuk tujuan komersial sehingga cenderung memperkuat pandangan yang serupa dan berisiko mengesampingkan suara yang berbeda.

"Algoritma memang dirancang untuk komersil dan hanya mendengar suara satu pihak saja dan bisa memusuhi suara yang berbeda," ujar Deni.

Ia menambahkan bahwa media sosial kini telah berkembang jauh melampaui fungsi awalnya sebagai sarana komunikasi.

Kini media sosial telah berubah menjadi ruang budaya sekaligus arena pembentukan identitas, terutama bagi generasi muda.

Dalam konteks tersebut, fenomena viralitas menjadi tantangan baru yang perlu dihadapi dengan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital yang memadai.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Andi Hakim Nasution IPB University itu dipandu oleh Direktur Eksekutif Nagara Institute Akbar Faizal.

Acara yang merupakan bagian dari upaya mendukung program edukasi nasional tersebut turut didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital diselenggarakan melalui kerja sama dengan IPB University dan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IPB University Periode 2025/2026. (ant)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow