BPDP, Ditjenbun, dan AKPY Ubah Paradigma Pekebun Morowali, Budidaya Sawit Kini Harus Berbasis Ilmu

Perkebunan kelapa sawit rakyat dituntut memasuki babak baru. Di tengah tantangan produktivitas, perubahan iklim, dan tuntutan pasar global terhadap praktik perkebunan berkelanjutan, cara mengelola kebun tidak lagi cukup mengandalkan pengalaman turun-temurun. Pekebun perlu bertransformasi dengan menerapkan budidaya berbasis ilmu pengetahuan, standar teknis, dan praktik Good Agricultural Practices (GAP).

Juli 7, 2026 - 12:58
BPDP, Ditjenbun, dan AKPY Ubah Paradigma Pekebun Morowali, Budidaya Sawit Kini Harus Berbasis Ilmu

MOROWALI, METROSULAWESI.NET – Perkebunan kelapa sawit rakyat dituntut memasuki babak baru. Di tengah tantangan produktivitas, perubahan iklim, dan tuntutan pasar global terhadap praktik perkebunan berkelanjutan, cara mengelola kebun tidak lagi cukup mengandalkan pengalaman turun-temurun. Pekebun perlu bertransformasi dengan menerapkan budidaya berbasis ilmu pengetahuan, standar teknis, dan praktik Good Agricultural Practices (GAP).

Semangat perubahan tersebut menjadi pesan utama dalam Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Sebanyak 84 pekebun dari Kabupaten Morowali mengikuti pelatihan yang berlangsung pada 6–11 Juli 2026 di Palu, Sulawesi Tengah.

Wakil Direktur AKPY, Idum Satia Santi, mengatakan pembangunan perkebunan sawit rakyat tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Menurutnya, pengelolaan kebun harus mulai didasarkan pada ilmu pengetahuan sehingga setiap keputusan budidaya memiliki dasar teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Kami percaya kemajuan industri sawit Indonesia tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, teknologi maupun investasi, tetapi juga ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya," ujarnya.

Sebagai perguruan tinggi vokasi yang fokus pada pengembangan SDM perkebunan, AKPY, lanjut Idum, memiliki komitmen membangun pekebun yang tidak hanya terampil bekerja di lapangan, tetapi juga memahami alasan ilmiah di balik setiap praktik budidaya yang dilakukan.

Menurutnya, masih banyak kebun rakyat yang dikelola berdasarkan kebiasaan, padahal tantangan industri terus berkembang. Produktivitas kebun masih perlu ditingkatkan, banyak tanaman telah memasuki usia tua sehingga membutuhkan peremajaan, sementara praktik pemupukan, pemeliharaan tanaman, hingga penanganan pascapanen harus semakin mengacu pada standar teknis.

Selain itu, perubahan iklim, perkembangan teknologi, dan meningkatnya tuntutan pasar terhadap sawit berkelanjutan menuntut pekebun untuk terus belajar dan beradaptasi.

"Keberhasilan sawit Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk yang digunakan. Yang paling menentukan adalah kualitas manusianya, kualitas petaninya," tegas Idum.

Karena itu, menurutnya, pelatihan yang didukung BPDP merupakan investasi jangka panjang untuk mengubah pola pikir pekebun agar tidak lagi mengelola kebun berdasarkan kebiasaan semata, melainkan berdasarkan pengetahuan, pengamatan, dan standar budidaya yang benar.

"Investasi terbesar yang dapat kita lakukan bukan hanya membeli pupuk atau alat panen, tetapi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan diri sendiri. Ilmu yang diperoleh hari ini akan terus memberikan manfaat bagi kebun dan keluarga di masa mendatang," katanya.

Selama pelatihan, peserta dibekali berbagai materi penerapan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari pemeliharaan tanaman, pemupukan berimbang berdasarkan kebutuhan tanaman, pengendalian gulma, konservasi tanah dan air, hingga teknik budidaya yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas kebun secara berkelanjutan.

Idum berharap pelatihan ini menjadi titik awal perubahan cara berpikir pekebun dalam mengelola usaha tani sawit.

"Sawit yang hebat tidak lahir dari kebun yang luas, tetapi dari petani yang terus belajar. Petani masa depan adalah petani yang mau belajar, mampu beradaptasi terhadap perubahan, memahami teknologi, mencatat usahanya dengan baik, dan menerapkan prinsip keberlanjutan dalam mengelola kebunnya," tuturnya.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, Muhammad Neng. Menurutnya, pelatihan merupakan sarana untuk mempercepat perubahan pola pengelolaan kebun rakyat agar semakin profesional dan berbasis pengetahuan.

"Kegiatan seperti ini sangat luar biasa. Di tengah kondisi efisiensi anggaran pemerintah, program pengembangan SDM seperti ini tetap hadir untuk membantu meningkatkan kapasitas petani sawit. Kami sangat mengapresiasi AKPY yang terus mendukung peningkatan kompetensi pekebun," ujarnya.

Muhammad Neng mengatakan arah pembangunan perkebunan kini telah berubah. Fokusnya bukan lagi sekadar meningkatkan luas areal atau produksi, tetapi pada peningkatan produktivitas, kualitas hasil, efisiensi usaha, nilai tambah, daya saing, dan keberlanjutan lingkungan.

Menurutnya, perubahan arah pembangunan tersebut hanya dapat diwujudkan apabila pekebun meninggalkan praktik budidaya yang tidak lagi relevan dan mulai menerapkan teknik budidaya sesuai standar.

"Pelatihan ini memberikan pemahaman kepada pekebun agar mampu menghadapi berbagai tantangan ke depan, mulai dari peningkatan produktivitas hingga pengembangan hilirisasi komoditas perkebunan," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan dan Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Morowali, Awalludin Nunu, menilai perubahan paradigma tidak akan terjadi hanya melalui pelatihan di dalam kelas. Menurutnya, proses belajar harus dilanjutkan melalui pendampingan sehingga ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan di kebun.

"Kami berharap setelah pelatihan ini tetap ada ruang untuk memberikan bimbingan kepada kami, baik secara kedinasan maupun kepada para peserta dan petani. Pendampingan setelah pelatihan sangat penting agar ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan di lapangan," ujarnya.

Ia mengakui perubahan perilaku membutuhkan waktu. Pendampingan menjadi penting untuk memastikan pekebun mampu menerapkan teknik budidaya yang telah dipelajari serta mengatasi berbagai kendala saat implementasi di lapangan.

Menurut Awalludin, sinergi antara AKPY, BPDP, pemerintah daerah, penyuluh, dan pekebun harus terus diperkuat agar transformasi cara berpikir pekebun benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas kebun rakyat.

Melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan, BPDP, Ditjenbun, dan AKPY tidak hanya membekali pekebun dengan pengetahuan teknis, tetapi juga mendorong lahirnya paradigma baru dalam pengelolaan kebun sawit. Ketika pengalaman lapangan dipadukan dengan ilmu pengetahuan, standar teknis, dan budaya belajar yang berkelanjutan, pekebun akan lebih siap menghadapi tantangan industri sekaligus meningkatkan produktivitas dan daya saing perkebunan sawit rakyat. (*)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow