Ketika Anak-Anak Menghidupkan Seni Jepeng di Palu
Oleh: Akhsan Intje Makkah)*
DI tengah maraknya pertunjukan seni Jepeng yang diperankan oleh orang-orang dewasa pada era 1950-an dan awal 1960-an di Kota Palu, pernah hadir sebuah kelompok Jepeng yang cukup unik. Seluruh personelnya adalah anak-anak usia sekolah dasar. Kelompok itu dibentuk oleh ayah saya, Intje Makkah, seorang pegiat seni yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan musik dan kesenian tradisional di Palu.
Gagasan membentuk kelompok Jepeng yang seluruh anggotanya terdiri dari anak-anak merupakan sesuatu yang tidak lazim pada masa itu. Namun, justru karena keunikannya, kelompok ini mampu menarik perhatian masyarakat setiap kali tampil.
Kelompok tersebut dipimpin oleh kakak saya, Intje Dahkan, yang ketika itu berusia sekitar 12 hingga 13 tahun. Meski masih sangat muda, ia telah mahir memainkan berbagai alat musik seperti gambus, biola, dan gitar. Kemampuannya menjadi modal penting bagi ayah kami dalam membina kelompok tersebut.
Para pemain Jepeng dan marwas direkrut dari kalangan teman-teman sebaya. Saya sendiri menjadi salah satu anggota kelompok itu. Selain memainkan marwas, saya juga tampil sebagai penari Jepeng bersama beberapa teman lainnya.
Kami sering tampil dalam berbagai acara masyarakat, terutama pesta perkawinan dan perayaan-perayaan lainnya. Sambutan masyarakat selalu hangat dan meriah. Maklum, pada masa itu hampir semua kelompok Jepeng terdiri dari orang dewasa, bahkan banyak yang sudah berusia lanjut. Sementara kelompok kami seluruhnya beranggotakan anak-anak, mulai dari pemain gambus, pemain biola, pemain marwas, penari hingga penyanyinya.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika kami tampil di lingkungan Alkhairaat Palu. Pada kesempatan itu, kelompok kami mendapat perhatian dan apresiasi langsung dari Al-Mukarram Guru Tua, Saiyed Idrus bin Salim Aljufrie.
Menurut ingatan saya, kami tidak hanya sekali tampil di hadapan beliau. Pada berbagai kesempatan berikutnya, kelompok kami kembali diundang untuk mengisi acara-acara yang diselenggarakan Alkhairaat. Bagi kami, pengalaman tersebut merupakan kehormatan yang sangat besar.
Yang paling membekas bukanlah hadiah yang kami terima, melainkan kesempatan memperoleh nasihat dan bimbingan langsung dari Guru Tua. Selain memberikan perlengkapan salat kepada kami, beliau juga mengajarkan tata cara salat yang benar. Pelajaran itu menjadi kenangan yang tidak pernah saya lupakan hingga hari ini.
Kelompok Jepeng anak-anak yang dibentuk Intje Makkah hanyalah salah satu bagian dari kiprah beliau dalam mengembangkan seni musik di Kota Palu. Sebelumnya, pada dekade 1950-an, beliau juga membentuk Orkes Mekar Melati, sebuah kelompok musik yang seluruh personelnya perempuan dan dipimpin oleh putrinya, Sitti Ichlasiah.
Orkes Mekar Melati kemudian mencatat sejarah tersendiri ketika dipercaya tampil dalam rangka kunjungan Presiden Soekarno ke Palu pada tahun 1957. Peristiwa itu menjadi bukti bahwa semangat berkesenian yang ditanamkan Intje Makkah telah memberikan kontribusi bagi perkembangan seni dan budaya di daerah ini.
Kini, ketika mengenang kembali perjalanan kelompok Jepeng anak-anak tersebut, saya menyadari bahwa apa yang kami lakukan saat itu bukan sekadar hiburan. Kami, anak-anak kecil pada masa itu, tanpa sadar telah menjadi bagian dari upaya menjaga dan memperkenalkan seni tradisional kepada masyarakat. Sebuah kenangan sederhana yang kini menjadi bagian dari sejarah budaya Kota Palu.
*(Pemerhati seni budaya Kota Palu
Apa Reaksimu?

