Konflik AS-Iran Bisa Berlanjut Berbulan-Bulan Karena Isu Selat Hormuz
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran dapat berlanjut sampai berbulan-bulan karena kedua pihak terus berselisih soal Selat Hormuz dan pencapaian kesepakatan gencatan senjata jangka panjang, ungkap laporan Bloomberg, Rabu, mengutip pejabat AS, Iran, dan Eropa.
WASHINGTON, METROSULAWESI.NET- Konflik antara Amerika Serikat dan Iran dapat berlanjut sampai berbulan-bulan karena kedua pihak terus berselisih soal Selat Hormuz dan pencapaian kesepakatan gencatan senjata jangka panjang, ungkap laporan Bloomberg, Rabu, mengutip pejabat AS, Iran, dan Eropa.
Menurut laporan tersebut, pola yang terlihat dalam beberapa minggu terakhir - bentrokan terbatas Amerika Serikat dan Iran yang disusul jeda pertempuran dan permusuhan yang kembali terjadi - kemungkinan akan berlanjut.
Skenario yang paling mungkin adalah permusuhan Amerika Serikat dan Iran terus berlanjut meski tidak signifikan sedangkan negara-negara Teluk dan negara-negara seperti Pakistan berupaya meredakan ketegangan, karena mereka tidak menginginkan kembalinya konflik besar-besaran, kata media tersebut.
Laporan Bloomberg tersebut menambahkan bahwa Teheran dan Washington tetap melakukan perundingan, dan negosiasi berjalan dengan baik, dan kemungkinan besar akhirnya mencapai kesepakatan diplomatik.
Iran menyadari bahwa kemampuan Presiden AS Donald Trump untuk meningkatkan serangan militer dibatasi oleh turunnya cadangan minyak global, dan berkurangnya pasokan senjata AS.
Namun, menurut beberapa sumber, pemimpin AS itu kemungkinan tidak akan mundur sampai Iran memberikan konsesi terkait jalur perairan tersebut.
Pada malam sebelum 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani memorandum untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari.
Namun, sejak 8 Juli, pasukan AS telah melakukan seragkaian rangkaian serangan terhadap Iran.
Komando Pusat AS mengklaim serangan tersebut sebagai balasan atas tindakan Iran ke kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Pasukan Iran kemudian membalasnya dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.
Pada 12 Juli, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga berakhirnya campur tangan AS di kawasan tersebut, menyusul gelombang serangan udara lainnya antara pihak-pihak yang bertikai.
Keesokan harinya, Trump mengatakan AS akan menjadi "penjaga" Selat Hormuz. Ia juga memberlakukan kembali blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. (ant)
Apa Reaksimu?

