Buol Stagnan, Tokoh KKBI Kritik Tajam Bupati-Wakilnya
Sejumlah pengurus dan tokoh Kerukunan Keluarga Buol Indonesia (KKBI) di Kota Palu secara terbuka menyampaikan kritik tajam terhadap kinerja Bupati Buol, H. Risharyudi Triwibowo, dan Wakil Bupati, Mohammad Nasir Dj. Daimaroto. Memasuki dua tahun masa kepemimpinan mereka sejak dilantik pada Februari 2025, pembangunan di Kabupaten Buol dinilai stagnan atau berjalan di tempat.
PALU, METROSULAWESI.NET - Sejumlah pengurus dan tokoh Kerukunan Keluarga Buol Indonesia (KKBI) di Kota Palu secara terbuka menyampaikan kritik tajam terhadap kinerja Bupati Buol, H. Risharyudi Triwibowo, dan Wakil Bupati, Mohammad Nasir Dj. Daimaroto. Memasuki dua tahun masa kepemimpinan mereka sejak dilantik pada Februari 2025, pembangunan di Kabupaten Buol dinilai stagnan atau berjalan di tempat.
"Terus terang kami prihatin. Dalam dua tahun kepemimpinan mereka, tidak ada pembangunan yang menonjol di Buol," ujar Tokoh KKBI di Palu, Natsir Mangge, kepada Metrosulawesi di Palu, Sabtu, 24 Agustus 2026.
Didampingi sejumlah tokoh KKBI lain seperti: Adijoyo Dauda (selaku Ketua Umum KKBI), Mochtar Deluma, dan Amat Entedaim, Natsir menyayangkan minimnya gebrakan dari pemerintah daerah. Ia menilai kegagalan eksekusi pembangunan ini disebabkan oleh pola pikir kepemimpinan yang hanya bersandar pada Dana Alokasi Umum (DAU) dari Pemerintah Pusat.
Menurut Natsir, seorang kepala daerah dituntut kreatif layaknya manajer perusahaan yang mampu mengoptimalkan potensi lokal demi mendatangkan pendapatan, bukan sekadar menghabiskan anggaran seremonial.
Kritik utama Natsir tertuju pada kontradiksi antara kekayaan alam Buol dan realitas kemajuannya. Sektor pertanian dan perkebunan merupakan tulang punggung daerah, namun manajemen hilirisasinya dinilai lemah:
Natsir membeberkan bahwa petani di Buol menghasilkan sekitar 800 ribu ton jagung, tetapi hasil bumi tersebut justru dibawa dan diklaim oleh daerah tetangga. "Faktanya jagung itu dari Buol, tapi Gorontalo yang dikenal sebagai penghasilnya. Kenapa potensi ini tidak digarap bagus dengan mendatangkan investor langsung ke Buol?" cecar Natsir.
Selain jagung, Buol juga punya sawit. Luas perkebunan sawit di Kabupaten Buol diklaim jauh lebih masif jika dibandingkan dengan wilayah industri lain seperti Kabupaten Morowali.
Natsir mengatakan, Kabupaten Buol juga memiliki destinasi wisata bahari yang bernilai tinggi, salah satunya adalah Pulau Raja yang keindahannya kerap disandingkan dengan Raja Ampat. Namun, hingga saat ini objek wisata potensial tersebut belum digarap serius oleh Pemerintah Daerah (Pemda).
Di tempat yang sama, praktisi hukum sekaligus tokoh KKBI, Amat Entedaim, menyoroti efektivitas waktu kerja Bupati Buol di wilayahnya sendiri. Ia mengkritik intensitas perjalanan dinas Risharyudi Triwibowo yang dinilai terlalu tinggi.
"Pak Bupati ini jarang berada di Buol. Beliau lebih sering berada di Jakarta dan di Palu daripada di daerahnya sendiri. Jadi jangan heran kalau pembangunan di Buol begitu-begitu saja," ungkap Amat tegas.
Amat bahkan secara gamblang meminta agar Risharyudi Triwibowo lebih baik mundur dari jabatannya apabila sisa masa bakti ini tidak mampu membawa kemajuan nyata bagi masyarakat. Ia menambahkan, infrastruktur dan fasilitas publik yang ada di Buol saat ini sebagian besar masih merupakan peninggalan dari masa bupati terdahulu, Amran Batalipu.
Tokoh KKBI itu mendesak duet Risharyudi-Nasir untuk segera merumuskan kebijakan ekonomi strategis, menghentikan rutinitas seremonial, dan berfokus menarik investasi guna memberikan dampak ekonomi linier bagi kesejahteraan masyarakat Kabupaten Buol.
Bupati Buol, Risharyudi Triwibowo yang berusaha dimintai tanggapannya belum berhasil. Hingga berita ini tayang, pesan WhatsApp yang dikirim ke nomor pribadinya, belum menjawab.
Reporter: Udin Salim
Apa Reaksimu?

