Malei Ra Mabubu, Maputih Buku Ratimbe, Kana Kupomate Ngataku
“MERAH darah tertumpah, putih tulang tertebas, tetap kupertahankan negeriku.”
Oleh: Suaib Djafar/Budayawan Sulawesi Tengah
“MERAH darah tertumpah, putih tulang tertebas, tetap kupertahankan negeriku.”
Ungkapan “Malei Ra Mabubu, Maputih Buku Ratimbe, Kana Kupomate Ngataku” merupakan ungkapan heroik yang mengandung nilai keberanian, pengorbanan, kesetiaan, dan keteguhan hati masyarakat Kaili dalam mempertahankan ngata—tanah kelahiran, kampung halaman, tanah leluhur, dan ruang kehidupan bersama.
Dalam perspektif perjuangan berbasis kearifan lokal, “Malei Ra Mabubu” menggambarkan kesediaan menghadapi risiko dan pengorbanan demi mempertahankan kehormatan serta keselamatan masyarakat. Darah yang tertumpah menjadi simbol keberanian dan pengabdian, bukan semata-mata kekerasan.
“Maputih Buku Ratimbe” bermakna tulang yang tertebas. Ungkapan ini memperkuat pesan tentang keteguhan dan pantang menyerah. Perjuangan membutuhkan keberanian, kesabaran, serta kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan demi kepentingan bersama.
Sedangkan “Kana Kupomate Ngataku” menegaskan ikrar untuk tetap mempertahankan ngata. Dalam kearifan lokal Kaili, ngata tidak hanya berarti wilayah secara geografis, tetapi juga mencakup masyarakat, adat, budaya, tanah leluhur, kehormatan, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh para pendahulu.
Nilai perjuangan dalam ungkapan tersebut sejalan dengan semangat Sintuvu, Mosangu Morambanga yaitu hidup dalam persatuan dan kebersamaan; Nosipeili semangat saling membantu, dan Nolunu, bergotong royong; serta Nosimpoasi, saling menghormati dan menjaga hubungan sosial. Dengan demikian, perjuangan tidak dipahami sebagai perjuangan seorang diri, melainkan perjuangan bersama untuk menjaga kehidupan masyarakat.
Dalam konteks perjuangan melawan penjajahan, ungkapan ini dapat dimaknai sebagai simbol keberanian masyarakat Kaili lenaeka dalam mempertahankan tanah leluhur dan kebebasan. Sementara dalam konteks kekinian, semangat heroik tersebut dapat diwujudkan melalui perjuangan melawan kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, kerusakan lingkungan, serta lunturnya adat dan budaya.
Karena itu, “Malei Ra Mabubu, Maputih Buku Ratimbe, Kana Kupomate Ngataku” merupakan warisan nilai yang mengajarkan bahwa kecintaan kepada negeri harus dibuktikan melalui keberanian, pengorbanan, persatuan, gotong royong, dan kerja nyata.
Darah dan tulang dalam ungkapan ini menjadi simbol pengorbanan; sedangkan “ngataku” menjadi simbol tanggung jawab. Pesan utamanya adalah bahwa setiap generasi memiliki kewajiban untuk menjaga, mempertahankan, dan membangun negeri dengan menjunjung tinggi adat, budaya, persatuan, dan martabat masyarakat.
Semangatnya:
“Berani berkorban, teguh mempertahankan, Negeri bersatu dalam kebersamaan, Mosangu Morambanga Mombangu Ngata Sulteng Nambaso " Maroso Ada Maroso Agama Maroso Pamarentah Maamangata Nadeabelona" (Adat kuat Agama Kuat Pemerintah Kuat Aman Negeri Melimpah Kebaikan)
Apa Reaksimu?

