Dinamika Kurs dan Dampaknya pada Ekonomi Desa

Oleh: Moh. Ahlis Djirimu*

Mei 17, 2026 - 22:43
 0
Dinamika Kurs dan Dampaknya pada Ekonomi Desa
(grafis : mediaalternatif)

Hampir sebulan ini, nilai tukar menjadi topik hangat di masyarakat. Ini karena pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar sepanjang April sampai dengan pertengahan Mei 2026 mengalami tekanan hingga di atas Rp17.000,- per US$. Istilah akademiknya adalah nilai tukar rupiah mengalami depresiasi atau melemah terhadap mata uang asing. Sebaliknya, mata uang asing terutama dolar Amerika Serikat mengalami apresiasi atau menguat. Bila mata domestik melemah, maka harga barang-barang di dalam negeri, apalagi yang komponen impornya besar, terdorong naik. Selanjutnya menggerus daya beli rumah tangga. Daya beli masyarakat miskin semakin terjerembab di bawah dasar garis kemiskinan, masyarakat berpenghasilan menengah dan berpenghasilan tinggi semakin tergerus pula. Sebaliknya, harga barang-barang yang mata uangnya tertekan di mana pihak asing semakin murah yang selanjutnya meningkatkan ekspor negara tersebut. Penerimaan negara meningkat pula, asalkan elastisitas ekspor lebih cepat laju ketimbang elastisitas impor.

 Kita dapat membayangkan sekarang bagaimana tekanan instabilitas politik di Timur Tengah berpengaruh menembus batas administratif negara di belahan dunia manapun, termasuk hingga ke desa. Dalam dunia yang batas administratifnya tipis karena regionalisasi dan globalisasi, desa di Indonesia yang berjumlah 75.266 unit tetap terpengaruh oleh melemahnya kurs rupiah.

Terdapat empat jalur transmisi melemahnya nilai tukar rupiah ke perdesaan yakni pertama, jalur Bahan Bakar Migas (BBM) dan Energi. Ini karena transaksi jual beli keduanya dihitung dalam satuan mata uang Istimewa dunia yaitu US$. Kenaikan harga BBM dan energi tentu menggerus pendapatan masyarakat desa. Stasiun Pengisian Bahan-Bakar Umum (SPBU), Pertamini tidak tersedia semudah di kota. Demikian, pula SPBU mobile di pesisir dan kepulauan tidak selamanya tepat waktu tergantung pada iklim dan kondisi gelombang permukaan laut. Depresiasi nilai tukar rupiah mendorong kenaikan harga transportasi, asuransi dan logistik. Risiko premium semakin mahal ditanggung oleh penyedia jasa transportasi, premi asuransi meningkat, demikian pula ongkos logistik. Konsekuensi dari kenaikan ongkos transport, asuransi dan logistik tentu saja mendorong kenaikan harga sembilan bahan Pokok (sembako). Lalu kenaikan harga BBM dan Energi membuat ongkos penggunaan mesin pertanian atau alsintan meningkat.

Sebagai negara dengan wilayah Pangan dan Hortikultura, Perkebunan, Peternakan, Perikanan dan Kelautan, transmisi kedua tekanan nilai tukar ke desa terjadi melalui jalur penggunaan pupuk dan obat-obatan pertanian seperti insektisida, fungisida, herbisida, moluskisida. Kenaikan harga bahan baku, harga pupuk, kenaikan biaya tanam merupakan beberapa fenomena yang dapat dibuktikan terjadi di desa.

Transmisi ketiga atas melemahnya rupiah ke desa, dapat dikaji melalui jalur Sembilan Bahan Pokok dan Barang Konsumsi Harian. Konsekuensi efek sebaran (contagion effect) berikutnya melalui kenaikan harga gula, kedelai, gandum yang bahan bakunya diimpor. Kedelai umumnya diimpor dari Amerika Serikat. Gandum diimpor dari Rusia yang rantai pasoknya terkena gangguan dua kali yakni Perang Rusia dan Ukraina dan tekanan pada jalur maritim Bab El-Mandab di Laut Merah. Selain itu, harga makanan olahan mengalami kenaikan dan harga minyak goreng akan meningkat pula.

Transmisi keempat atas melemahnya rupiah ke desa melalui alat dan barang-barang rumah tangga. Harga barang-barang elektronik akan meningkat karena kandungan lokalnya minim, serta komponennya lebih banyak diimpor. Harga dan suku cadang telpon genggam meningkat pula. Harga mesin pompa air dan alsintan meningkat pula, serta harga tractor, motor pembajak sawah akan meningkat pula.

Lalu dampaknya volatilitas kurs pada perekonomian desa dapat dikaji melalui pertama, petani pangan dan hortikultura yang kalender tanamnya (Katam) berjangka pendek. Ada tekanan ongkos produksi selama musim tanam. Ongkos tersebut akan lebih mahal bagi belanja pupuk, BBM, ongkos angkut dan berkurangnya marjin keuntungan. Lalu pada pekebun, ada tekanan ongkos yang sama di atas. Sedangkan pada peternak, ongkos yang lebih besar terjadi pada kenaikan harga pakan ternak dan obat-obatan. Dampak depresiasi nilai tukar akan menyasar pula pada nelayan terjadi akan lebih besar pada ongkos BBM pada nelayan perikanan tangkap. Sedangkan pada nelayan budidaya, tekanannya terjadi pada ongkos obat-obatan.

Selain itu, dampak tekanan kurs pada petani dan nelayan terlihat pula baik positif dan negatif. Dampak positif terlihat pada kenaikan ekspor. Produsen bersemangat menghasilkan barang ekspornya sesuai standar internasional. Di sisi lain harga kopi, kakao fermentasi, sawit, mengalami kenaikan. Namun, petani pangan lokal belum tentu menikmati keuntungan karena petani lokal belum tentu mempunyai kalender tanam yang sama. Sedangkan pasar menuntut kepastian ketersediaan pasokan. Tentu saja tengkulak dan pedagangan perantara paling cepat menikmati selisih harga.

Dampak selanjutnya menyasar pada buruh tani dan keuangan desa. Daya beli buruh tani semakin tergerus sebagai akibat kenaikan upah berlangsung evolutif. Lebih ekstrim lagi ada kecenderungan perpindahan profesi buruh tani ke buruh serabutan dan pekerja keluarga tanpa upah. Selanjutnya harga kebutuhan pokok meningkat dan konsumsi penduduk desa semakin tertekan, serta pendapatan buruh tani dan tabungan tergerus, bahkan penduduk desa akan menggerus pula tabungan berjaga-jaganya (precautionary saving).

Dampak berikutnya pada ongkos Pendidikan dan Kesehatan. Biaya pendidikan semakin besar meliputi uang sekolah, alat dan buku sekolah, seragam, dan lain-lain. Ongkos obat-obatan, semakin meningkat karena Pedagang Besar Farmasi mengimpor bahan bakunya. Tentunya hal ini akan menambah beban rumah tangga.

Tentu saja, pelaku ekonomi yang paling terpengaruh pada grade pertama adalah petani, nelayan perikanan tangkap pengguna BBM, pedagang barang impor, dan keluarga berpendapatan rendah yang berada pada kategori desil 1 sangat miskin dan desil 2 kategori miskin. Pada grade kedua yang terpengaruh adalah buruh tani, para supir angkutan perdesaan, pemilik warung dan pedagang barang-barang impor. Pada grade ketiga, ada pelaku ekonomi yang diuntungkan oleh depresiasi US$ yakni petani yang komoditas bertujuan ekspor, penerima remitansi atau kiriman uang dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau pekerja migran di luar negeri, ekspor hasil desa, serta produsen lokal substitusi impor.

Pada akhirnya, memang masyarakat desa tidak serta menggunakan valuta asing kecuali hanya saat berhaji. Namun, kita tidak dapat mengabaikan bahwa dalam era globalisasi, di mana batas administrasi negara semakin tipis, desa adalah unit yang pasti terpengaruh dengan volatilitas kurs. Walaupun saat ini, belum semua desa terkoneksi dengan akses internet atau masih menyisakan 3.029 desa blank spot, namun, kita tak dapat mengabaikan bahwa kurs rupiah terhadap US$ berdampak sampai ke desa melalui transmisi ongkos produksi dan distribusi, harga bahan baku dan sembako dan pendapatan petani dan buruh pertanian. Apalagi tidak ada satupun rezim kurs yang tepat bagi semua negara pada waktu yang sama (Frankel, 2004). Semenjak runtuhnya sistem Bretton Woods di Tahun 1973, rezim kurs telah beralih dari rezim stabil menjadi rezim volatilitas. Kurs ini semakin berfluktuasi tinggi seiring dengan integrasi ekonomi dunia dalam sistem keuangan yang sangat terbuka. Arsitektur keuangan dunia mengalami perubahan. Tentu saja desa patut peduli pada gejolak dan dampaknya di masa rezim kurs tervolatiled.

*) Guru Besar Bidang Ekonomi Internasional FEB-Universitas Tadulako

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow