Preman
IBRAHIM. Kesehariannya dipanggil: Borahima. Dia tidak tahu secara jelas, atau mungkin sudah lupa asal usulnya. Dia hanya ingat: saat dia masih berumur tiga belas tahun lebih tiga bulan, ada truk mogok di depan rumahnya di daerah Camba. Bukan bannya kempes. Bukan remnya bolong. Mesinnya tiba-tiba mati. Sopirnya memeriksa aki mobilnya. Menurutnya, masih berfungsi baik. Dia lalu buka semua businya. Dia bersihkan kotorannya yang berwarna hitam pekat mirip lumut dengan amplas halus.
IBRAHIM. Kesehariannya dipanggil: Borahima. Dia tidak tahu secara jelas, atau mungkin sudah lupa asal usulnya. Dia hanya ingat: saat dia masih berumur tiga belas tahun lebih tiga bulan, ada truk mogok di depan rumahnya di daerah Camba. Bukan bannya kempes. Bukan remnya bolong. Mesinnya tiba-tiba mati. Sopirnya memeriksa aki mobilnya. Menurutnya, masih berfungsi baik. Dia lalu buka semua businya. Dia bersihkan kotorannya yang berwarna hitam pekat mirip lumut dengan amplas halus.
Saat-saat perbaikan truk, Borahima berkenalan dengan kernetnya. Ketika mesin truk pengangkut pasir itu sudah bunyi, subuh itu, dan siap melanjutkan perjalanan menuju Makassar, tanpa sepengetahuan orang di rumahnya, Borahima ikut di truk itu. Borahima tertarik ikut lantaran pengaruh dan keakrabannya dengan kernet itu.
Tiba di Makassar. Betapa senangnya Borahima. Saat truk mengantar pasir ke rumah pemesan pasir di tengah kota, di sekitar Pantai Losari, Borahima berdiri di bagian belakang tanpa memakai baju di atas tumpukan pasir. Kelihatan tubuhnya yang kekar. Tampak otot-ototnya kian berisi. Dia sungguh takjub melihat banyak mobil, motor, dan becak, berkejaran di jalan raya. Bola matanya liar dan berputar-putar mengikuti arah kendaraan. Kelihatan tak tenang. Tapi semua itu dilakukan sebagai refleksi kesenangan ketakjubannya melihat panorama kota yang hidup. Penuh hiruk-pikuk.
Borahima senang ikut mengangkat dan menurunkan pasir ke pekarangan rumah warga. Dari hasil kerjanya yang dilakukan seakan sedang bermain-main itu, Borahima mendapatkan upah harian. Betapa gembiranya hatinya. Ketika malam tiba, Borahima diajak oleh sahabatnya itu menginap di sebuah rumah gubuk yang terletak di sebuah lorong sempit di sekitar Pasar Sentral. Di gubuk itulah dia tinggal menjalani hidup. Tanpa menyewa. Dia hanya membeli nasi dan lauk seadanya. Borahima menilai sahabatnya itu orang yang sangat baik.
Suatu hari menjelang tiga bulan dia tinggal di gubuk itu, sekitar pukul dua dinihari, kernet itu mendekati Borahima di tempat tidurnya. Mungkin kedinginan. Begitu firasatnya. Lima menit kemudian, kian mendekat. Tanpa suara, kernet itu memeluknya. Tak sekadar memeluk. Borahima, seketika, menggeliat terkejut. Sahabatnya itu makin leluasa menjalarkan tangannya. Borahima berdiri. Menendang sahabatnya. Mengenai perutnya. Kernet itu menjerit kesakitan. Dia memegang perutnya sembari meminta maaf kepada Borahima.
Tepat pukul dua lewat tiga puluh menit dinihari: Borahima membuka pintu gubuk. Berlari. Kencang. Meninggalkan kernet truk sendirian. Sejak saat itu, Borahima memutuskan persahabatannya dengan si kernet. Dan meninggalkan aktivitasnya sebagai buruh harian pada truk pengangkut pasir.
*
Dalam pelariannya, Borahima berkenalan dengan preman-preman Pasar Sentral. Dari perkenalan itu, dia merasakan betapa mudahnya mendapatkan uang. Dia pun mendapat ilmu tentang bagaimana menjadi seorang pencopet yang lihai dan disegani.
Pada mulanya Borahima menjadi buruh pengangkat barang-barang jualan milik seorang Tionghoa. Mendapat kepercayaan, suatu hari, dia melihat laci meja bosnya terbuka sedikit. Sembari melihat-lihat suasana. Merasa aman. Borahima membuka laci itu. Seketika mengambil semua uang dalam laci.
Hasil curian itu Borahima membagikan kepada bos dan teman-teman premannya. Mengetahui buruhnya yang meludeskan uang di lacinya, Tionghoa itu marah besar. Hendak menghajarnya. Anehnya, setelah dia tahu kalau Borahima menjadi bagian dari preman Pasar Sentral, Tionghoa itu memilih diam. Bungkam.
Sudah lima tahun menjadi preman, suatu malam Borahima tertunduk merenung. Tiba-tiba muncul perasaannya ingin keluar dari dunia hitam ini. Namun hal itu tak mungkin lagi dilakukan. Borahima sudah terikat "kode etik" dunia preman Pasar Sentral. Komandan premannya akan membunuhnya bila dia ingin berlari dan meninggalkan wilayah ini. *
Apa Reaksimu?
