Ramadhan dan Kecerdasan Ruhani: Muhasabah, Mujahadah, dan Amal Nyata
Oleh: Mohsen Hasan AlHinduan
BULAN Ramadhan adalah madrasah ilahiyah untuk membentuk al-kayyis—pribadi yang cerdas secara ruhani. Rasulullah ﷺ bersabda:
الحديث(عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:«الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ»
(رواه الترمذي)
Artinya “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dan mengevaluasi dirinya, serta beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah.”
Hadits ini mengajarkan tentang pentingnya muhasabah (introspeksi diri), pengendalian hawa nafsu, serta kesungguhan dalam beramal sebagai bekal akhirat, bukan sekadar berharap tanpa usaha.
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi ini menegaskan bahwa kecerdasan sejati adalah kemampuan menghisab diri dan beramal untuk akhirat, bukan sekadar berharap tanpa usaha.
Ramadhan: Bulan Muhasabah
Allah ﷻ berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ﴾ (الحشر: 18)
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)
Dan juga:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾(البقرة: 183)
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan muhasabah dan pembentukan takwa. Ramadhan mengajarkan kita menahan diri dari yang halal di siang hari, agar lebih mudah meninggalkan yang haram sepanjang hidup.
Menundukkan Hawa Nafsu
Allah ﷻ berfirman: ﴿وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ﴾(النازعات: 40-41)
“Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi‘at: 40–41)
Ramadhan adalah momentum mujahadah an-nafs—perjuangan melawan hawa nafsu. Orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsu lalu berangan-angan mendapatkan ampunan tanpa usaha. Rasulullah ﷺ bersabda tentang hakikat puasa: «مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»(رواه البخاري)
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan (tidak menerima) ia meninggalkan makan dan minumnya.”(HR. Imam al-Bukhari)
Puasa sejati bukan hanya lapar fisik, tetapi juga penjagaan lisan, hati, dan perilaku.
Pandangan Ulama tentang Muhasabah di Bulan Ramadhan
Para ulama klasik menekankan pentingnya muhasabah dan kesungguhan amal di bulan suci.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menulis: «اعلم أن العبد ينبغي أن يكون له في كل يوم وليلة وقت يحاسب فيه نفسه على جميع حركاته وسكناته» “Ketahuilah, seorang hamba seharusnya memiliki waktu setiap hari dan malam untuk menghisab dirinya atas seluruh gerak dan diamnya.”
Sementara Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma’arif menjelaskan tentang Ramadhan: «يا من ضاع عمره في غير طاعة، أدرك ما بقي من رمضان، فإنما الأعمال بالخواتيم» “Wahai orang yang umurnya telah berlalu tanpa ketaatan, raihlah sisa Ramadhan ini, karena sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.”
Bahkan Imam Malik ketika memasuki Ramadhan meninggalkan majelis hadisnya dan fokus kepada Al-Qur’an, menunjukkan kesungguhan para ulama dalam menghidupkan bulan ini.
Ramadhan: Antara Harapan dan Amal
Islam mengajarkan keseimbangan antara raja’ (harapan) dan amal. Harapan kepada Allah adalah ibadah, tetapi harus dibarengi usaha. Allah ﷻ berfirman: ﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ﴾ (البقرة: 218)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.”(QS. Al-Baqarah: 218)
Perhatikan, yang disebut “mengharap rahmat Allah” adalah mereka yang beriman, berhijrah, dan berjihad ada usaha nyata, bukan sekadar angan-angan.
Menjadi Al-Kayyis di Ramadhan Ini
Ramadhan adalah kesempatan emas untuk menjadi al-kayyis:
- Menghisab diri sebelum dihisab
- Menahan nafsu sebelum ditahan
- Beramal sebelum ajal.
Semoga kita tidak termasuk golongan yang mengikuti hawa nafsu dan tertipu oleh angan-angan kosong.
Semoga Ramadhan ini menjadi saksi bahwa kita telah berusaha sungguh-sungguh mempersiapkan kehidupan setelah kematian.
اللهم اجعلنا من المقبولين، ولا تجعلنا من المحرومين، وبلغنا ليلة القدر، واعتق رقابنا من النار.
آمين يا رب العالمين. (*)
Apa Reaksimu?
