Kebakaran Hutan Parimo Kian Meluas, Api Masuk APL dan Hutan Produksi
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Parigi Moutong terus menunjukkan eskalasi. Titik api yang sebelumnya sulit dipadamkan kini justru bertambah dan membesar, bahkan telah meluas hingga lebih dari 100 hektare serta merembet ke kawasan hutan.
PALU, METROSULAWESI.NET - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Parigi Moutong terus menunjukkan eskalasi. Titik api yang sebelumnya sulit dipadamkan kini justru bertambah dan membesar, bahkan telah meluas hingga lebih dari 100 hektare serta merembet ke kawasan hutan.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Sulawesi Tengah, Asbudianto, mengungkapkan bahwa hingga saat ini kondisi kebakaran belum sepenuhnya dapat dikendalikan, terutama karena lokasi api berada di lereng-lereng gunung yang sulit dijangkau.
“Perkembangan terakhir, justru titik api bertambah dan membesar. Sebelumnya api memang ada, tetapi tidak bisa dipadamkan karena berada di lereng-lereng gunung yang sulit dijangkau tim pemadam,” ujar Asbudianto, Kamis (5/2/2026).
Ia menjelaskan, meski kebakaran relatif jauh dari permukiman warga, api tidak pernah benar-benar padam. Bara api masih tersisa dan kembali membesar saat angin kencang bertiup.
“Sekarang api kembali menyala dan luas area terbakar sudah lebih dari 100 hektare. Akses menuju lokasi sangat terbatas, sehingga proses pemadaman menjadi sangat terkendala,” katanya.
BPBD mencatat, api kini telah masuk ke kawasan hutan, termasuk Areal Penggunaan Lain (APL) dan hutan produksi terbatas. Faktor angin kencang disebut menjadi penyebab utama cepatnya penyebaran api ke berbagai arah.
“Sebaran api bergerak ke arah utara dan selatan. Sebagian titik sudah masuk kawasan hutan,” ungkap Asbudianto.
Sebelumnya, BPBD mencatat 16 hingga 17 titik karhutla tersebar di Parigi Barat, Parigi Tengah, Parigi Utara, Parigi Selatan, Tinombo, dan Sidoan. Salah satu kebakaran terbesar terjadi di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, dengan luas terdampak sekitar 20 hektare kebun warga.
Untuk mendukung pemadaman, BPBD Sulawesi Tengah terus menambah armada. Jika awalnya hanya satu unit mobil tangki air yang dikerahkan, kini jumlahnya telah ditambah.
“Awalnya satu mobil tangki, sekarang sudah kami tambahkan dua unit lagi untuk membantu pemadaman di lapangan,” jelasnya.
Terkait status kebencanaan, Asbudianto mengatakan saat ini wilayah terdampak masih berstatus Siaga Darurat, sementara kemungkinan penetapan tanggap darurat masih terus dikaji.
“Kami masih melakukan asesmen dan melihat perkembangan beberapa hari ke depan. Harapannya ada hujan, karena kondisi alam saat ini sangat menyulitkan upaya pemadaman,” ujarnya.
Menjawab permintaan warga terkait penggunaan helikopter water bombing, BPBD Sulteng mengaku telah melakukan koordinasi dengan BNPB. Namun, terdapat prosedur yang harus dipenuhi.
“Penggunaan helikopter harus diawali permintaan resmi dari kepala daerah setempat. Biasanya, penetapan status tanggap darurat menjadi salah satu syarat utama,” kata Asbudianto.
Reporter: Adi Pranata
Editor: Udin Salim
Apa Reaksimu?
