Pahlawan

Liem Hok Gim: anak cerdas. Pendiam. Rendah hati. Mulai kelas satu hingga tamat SMA di kotanya, remaja berkulit putih, bermata sipit, ini tak pernah lepas ranking satu. Tak heran, bila dia mendapatkan predikat tamatan terbaik. Bukan hanya hebat dalam pelajaran, tapi di organisasi di sekolahnya pun dikenal unggul. Selain pernah dipercaya sebagai Ketua OSIS, juga dipercaya memimpin organisasi Pramuka. Namun, pada suatu masa, ketika negerinya tertutup awan kabut, Liem jadi korban kesewenang-wenangan rezim penguasa.

Feb 4, 2026 - 11:00
 0
Pahlawan

LIEM Hok Gim: anak cerdas. Pendiam. Rendah hati. Mulai kelas satu hingga tamat SMA di kotanya, remaja berkulit putih, bermata sipit, ini tak pernah lepas ranking satu. Tak heran, bila dia mendapatkan predikat tamatan terbaik. Bukan hanya hebat dalam pelajaran, tapi di organisasi di sekolahnya pun dikenal unggul. Selain pernah dipercaya sebagai Ketua OSIS, juga dipercaya memimpin organisasi Pramuka. Namun, pada suatu masa, ketika negerinya tertutup awan kabut, Liem jadi korban kesewenang-wenangan rezim penguasa.
*
Suatu malam, Liem lupa harinya. Dia hanya ingat bulan dan tahunnya: Agustus 1964. Mendekat ke ibu dan bapaknya: "Ma, Pa, Liem ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di negeri Rusia. Saya mohon diizinkan. Mama dan Papa tidak perlu memikirkan biayanya." Ibu dan Bapaknya terkejut. Keduanya saling menatap.

"Apa maksud Nak Liem mengatakan: Mama dan Papa tidak perlu memikirkan biayanya?" Bapaknya yang punya usaha pabrik roti rendahan, seketika, bertanya kepada Liem.

"Iya, Pa, Ma, saya mendapat beasiswa belajar di universitas ternama di Rusia hingga sarjana. Saya telah lulus seleksi program beasiswa yang dibuka kementerian luar negeri dalam pemerintahan Ir Soekarno. Saya kagum kepada Soekarno. Dia pemimpin hebat." Liem lalu menatap wajah ibu dan bapaknya sembari berharap diizinkan ke Rusia.

Seminggu, kedua orang tuanya mempertimbangkan rencana Liem, anak bungsunya dari tiga bersaudara, itu. Akhirnya, keduanya sepaham: mengizinkan Liem belajar di Rusia hingga meraih gelar sarjana, dengan catatan: Liem harus kembali ke negerinya tiap tahun bila tiba waktu libur panjang. Liem pun senang mendaptkan respon positif dari orang tuanya.

"Fokus belajar yang baik di negeri orang, Nak. Selalulah berkirim kabar dari Rusia. Kami, Mama dan Bapakmu, akan terus mendoakan kesuksesanmu, Nak. Selamat jalan, Nak." Kedua orang tua Liem memeluk anaknya itu di bandara. Liem pun terbang ke Rusia.
*
Di Rusia, Liem memperdalam ilmu arsitek. Dia bercita-cita menjadi arsitektur. Kelak ilmunya itu akan diterapkan di negeri yang dicintainya hingga kapan pun: Indonesia.

Liem merasa senang belajar di Rusia. Suatu malam, menjelang setahun di Rusia, tepatnya 30 September 1965, Liem, lewat berita yang disiarkan radio dari Jakarta, mendengar berita menghebohkan. Sejumlah jenderal berpengaruh di negerinya diculik dan dibunuh. Mayatnya dibuang ke sumur tua. Sumur itu, kelak, diberi nama: Lubang Buaya.

Hari-hari Liem terus mengikuti pemberitaan tragedi ini. Siaran radio mengungkapkan: peristiwa berdarah ini digerakkan oleh tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia atau PKI. Perjalanan gerakan ini dikaitkan dengan Presiden Soekarno yang dinilai dekat dengan PKI. Tuduhan ini melahirka pro-kontra. Mahasiswa bergerak. Rakyat marah. Militer tampil sebagai bayang-bayang di belakang rakyat. Ujungnya: seorang jenderal angkatan darat bernama Soeharto mengambil alih kekuasaan. Presiden Soekarno dirumahkan.
*
Pagi itu, Liem tak jadi ke kampus. Dia duduk di kamarnya dengan wajah tak bersemangat. Soeharto dan militernya menangkap semua anggota dan simpatisan PKI, termasuk rakyat pengagum Soekarno.

Paling menyedihkan Liem lantaran kedua orang tuanya dan dua saudaranya telah diculik. Entah dibawa kemana. Beberapa kali Liem menghubungi keluarganya lewat telepon, namun tak ada informasi tentang keberadaannya.

Koran-koran yang terbit di Rusia: tiap hari memberitakan peristiwa di Jakarta. Bahkan, ada koran menjadikannya laporan utama dengan judul: Soeharto Perintahkan Militer Membantai Rakyatnya.

Ketika berhasil menggulingkan Presiden Soekarno, Soeharto makin memerlihatkan kesewenang-wenangannya. Rezimnya berjejak dalam otoriter kediktatoran.

Semua warga negara Indonesia yang pergi ke luar negeri atas kebijakan Soekarno, termasuk yang mendapatkan beasiswa belajar, dilarang kembali ke negerinya. Paspornya dicabut. Beasiswanya dihentikan. Sejak itu Liem berhenti kuliah, dan hidup menderita di negeri orang.
*
Meski mendengar kabar Presiden Soeharto telah diturunkan oleh rakyat lantaran rezimnya kejam, otoriter, dan korup, Liem tak berminat lagi menginjakkan kaki di negeri leluhurnya. Liem ingin mati dan dikubur di Rusia. 

Di hari tuanya: tubuhnya kian kurus. Sakit-sakitan. Liem hidup dari bantuan sosial Rusia sebagai korban politik. Suatu hari, senja, hujan deras, dia duduk di atas kursi rodanya. Menatap lurus. Lunglai. Tak bergerak. Napasnya berhenti. Liem tak tahu Soeharto mendapat gelar: Pahlawan Nasional. (*)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow