20 Hektar Terbakar, Parimo Siaga Karhutla
Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong resmi menetapkan status siaga Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kekeringan selama satu bulan, terhitung mulai 30 Januari hingga 28 Februari 2026. Kebijakan tersebut diambil menyusul meningkatnya kejadian kebakaran lahan akibat pembakaran kebun dan cuaca panas berkepanjangan yang melanda wilayah tersebut.
PARIMO, METROSULAWESI.NET - Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong resmi menetapkan status siaga Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kekeringan selama satu bulan, terhitung mulai 30 Januari hingga 28 Februari 2026. Kebijakan tersebut diambil menyusul meningkatnya kejadian kebakaran lahan akibat pembakaran kebun dan cuaca panas berkepanjangan yang melanda wilayah tersebut.
Penetapan status siaga ini sejalan dengan kebakaran hebat yang melanda sekitar 20 hektare kebun warga di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, sejak Minggu (1/2/2026) malam. Hingga Selasa kemarin, api dilaporkan belum sepenuhnya padam dan masih dilakukan upaya pemadaman oleh tim gabungan.
Plt Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Sulawesi Tengah, Asbudianto, mengatakan bahwa secara kewenangan, penanganan kebakaran masih berada di bawah BPBD kabupaten karena luasan kebakaran per titik belum melampaui ambang batas penanganan provinsi.
“Kewenangan BPBD Provinsi berlaku apabila luasan kebakaran sudah di atas lima hektare dalam satu hamparan. Saat ini titik kebakaran masih tersebar, meski jumlahnya cukup banyak,” kata Asbudianto saat diwawancarai wartawan, Selasa (3/2).
Meski demikian, BPBD Sulawesi Tengah telah meningkatkan status kesiapsiagaan atas arahan Gubernur Sulawesi Tengah. Sejumlah dukungan logistik dan peralatan telah digeser ke wilayah Parigi Moutong.
“Kami sudah menyiagakan satu unit mobil tangki air di Parigi untuk membantu pemadaman bersama BPBD Kabupaten. Selain itu, satu unit alat ekskavator juga sudah standby, dan satu unit tambahan akan segera kami kirimkan,” ujarnya.
Asbudianto mengungkapkan, hingga saat ini terdapat sekitar 16 hingga 17 titik kebakaran di wilayah Parigi dan sekitarnya. Total luasan kebakaran diperkirakan masih di bawah 11 hektare, di luar kejadian terbaru di Desa Avolua yang mencapai sekitar 20 hektare kebun warga.
Menurut dia, penyebab kebakaran didominasi aktivitas pembakaran lahan yang dilakukan masyarakat, serta diperparah oleh kondisi alam yang sangat kering.
“Ada kebakaran yang memang dipicu pembakaran kebun oleh pemiliknya, lalu api tidak terkendali. Ada juga yang terjadi secara alamiah di padang-padang kering,” jelasnya.
Ia menambahkan, wilayah Parigi Moutong saat ini juga tengah menghadapi krisis kekeringan akibat minimnya curah hujan. Berdasarkan koordinasi dengan BMKG, kondisi kering diperkirakan berlangsung hingga akhir Februari 2026.
“Sudah lebih dari satu bulan tidak turun hujan. Dampaknya bukan hanya kebakaran, tapi juga kekurangan air. Di Parigi Utara dan wilayah Sikatan Kota sudah terjadi kekeringan, termasuk sawah di Lambunu,” katanya.
Dalam upaya antisipasi, BPBD Sulteng terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Parigi Moutong, TNI, Polri, Satpol PP, serta aparat desa dan kecamatan. Tim asesmen juga telah diterjunkan untuk menginventarisasi kebutuhan lapangan apabila situasi memburuk.
Meski telah menetapkan status siaga, Asbudianto menegaskan bahwa status darurat Karhutla belum diberlakukan.
“Statusnya masih siaga. Luasan kebakaran per titik belum besar, tapi karena titiknya banyak, semua unsur kami minta tetap bersiap,” tegasnya.
Pemerintah daerah kembali mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta ikut menjaga lingkungan, mengingat potensi kebakaran masih tinggi selama musim kering berlangsung.
Reporter: Adi Pranata
Editor: Udin Salim
Apa Reaksimu?
