Analisis Historis Geoekonomi Politik di Balik Perang Amerika-Israel-Iran
Oleh: Moh. Ahlis Djirimu*
SERANGAN Amerika-Israel ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, mengingatkan saya pada operasi Rising Lion, tepat 13 Juni-24 Juni 2025. Solusi sementara saat itu adalah gencatan senjata. Jadi jangan percaya dengan solusi ini karena Israel dan Amerika kembali berulah, tanpa menghormati kesucian bulan Ramadhan. Inilah kekeliruan Amerika dan Israel. Kedua peristiwa ini hanyalah akumulasi dari peristiwa-peristiwa sebelumnya: Perang Tanker, Proxywar, Cyberwar. Hal ini bermula pada awal Tahun 2020, ketika itu selama dua pekan, catatan internasional didominasi oleh pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani. Peristiwa ini sebenarnya erat kaitannya dengan dampak sebar (spread effect) ‘Arab Spring’ setelah Tunisia, Mesir, Libya, Suriah, Yaman. Paling aktual saat itu adalah mundurnya Abdel Azis Buteflika setelah hampir 30 tahun berkuasa di Aljazair. Apa kaitannya?
Arab spring umumnya terjadi pada negara-negara yang secara politik sangat anti demokrasi. Logika mana yang dapat menerima seorang Pedagang asongan bunuh diri, Mohammed Bouazizi dapat menimbulkan keruntuhan rezim Ben Ali dan istrinya Leila Trabelsi di Tunisia? Lalu menimbulkan efek rambatan ke Mesir, meruntuhkan rezim Hosni Mubaraq, mengganggu Bachir El-Assad di Suriah, menjatuhkan Moammar Qadhafi di Libya? Tentu Amerika dan Israel berada di balik ini semua. Efek rambatan “Arab Spring” dapat saja berlanjut pada pada anggota enam negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council) lain umumnya monarki absolut seperti Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Oman, Kuwait, Uni Emirates Arab. Tentu negara-negara berbasis monarki ini merasa terancam, sehingga membolehkan tanahnya bercokol homebase militer Amerika.
Apa yang terjadi di Timur Tengah sebenarnya merupakan pertama, rebutan hegemoni Amerika dan Tiongkok di satu sisi dan kedua, keinginan untuk menyelesaikan sendiri friksi Arab Saudi-Iran di sisi lain. Hegemoni tunggal Amerika Serikat semenjak krisis teluk I pada 1990 dan krisis teluk II pada 2003 terus berlangsung. Semenjak Sino-Africano Summit di Sharm-El Sheikh, di pesisir Laut Merah dan Semenanjung Sinai, Mesir pada 2009, kiblat ekonomi tidak lagi semata-mata ke Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS), tetapi bertambah ke Tiongkok. Demikian pula negara-negara Arab di Timur Tengah, tidak lagi tergantung semata-mata perekonomiannya pada AS, tetapi membangun pula poros ekonomi dengan Tiongkok. Hegemoni bagaikan piala bergilir. Inggris memulainya selama 150 tahun, lalu diambil alih oleh AS hingga saat ini. Jepang dan Jerman mencoba mengambil alihnya pada Perang Dunia II, tetapi gagal.
Hegemoni AS di Timur Tengah sangat dominan. Di Irak (di Asad-Provinsi Anbar), militer Amerika masih bercokol. Di Qatar (di Al Udeid) dan Uni Emirates Arab sejak lama menjadi home base militer Amerika dan Prancis jika sewaktu-waktu tetangga sebrang lautan di Teluk Persia, Iran mengganggunya. Padahal, Dubai di masa lalu dibangun oleh para pedagang asal Iran. Itulah alasan mengapa tindakan balasan Iran pada lima negara anggota Gulf Coperation Council (GCC): Bahrain, Uni Emirates Arab, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, di luar Oman dan Yaman, yang menjadi Proxywar Iran.
Tewasnya Mayjen Soleimani hanyalah pintu masuk menuju ekskalasi perang lebih besar. Wafatnya Usia Ali Khamenei pun sudah sepuh 90 tahun hanyalah episode berikutnya yang tak akan putus sampai perang membuat capek. Kemungkinan dia menunjuk anaknya untuk penggantinya atau dapat jadi imam ayatullah lainnya.
Namun tokoh kunci pengatur tekhnis serangan dan pemimpin perang adalah komandan Ali Ladjani seorang Jenderal jenius Iran dibantu panglima jenius lainnya seperti Ahmadi Nejad. Intinya apakah Iran dapat Running tanpa Khamenei ? Apakah Iran melemah? Hancur lebur dan kalah mungkin iya. Namun sampai saat ini Iran tidak menunjukkan kelemahannya bahkan sampai dengan siang ini Iran tidak berhenti menggempur wilayah musuh, sirene terus mengaung tak henti di wilayah musuh.
Amerika-Israel kemungkinan hanya memilih perang Udara dan Laut. Perang Udara tentu akan melemah karena homebase militernya melemah di negara sekutu Arabnya. Perang Laut menjadi pilihan berat karena penutupan Selat Hormuz berpengaruh pada pasokan 30 persen minyak mentah dunia. Amerika akan berani menyerang dari perairan Arab di luar Selat Hormuz. Tentu hal ini membutuhkan biaya dan energi besar. Pengalaman sekitar dua tahun lalu, USS Theodore Rooselvelt Carrier Vessel Nuclear (CVN71) harus berzig zag menghindari kejaran rudal dan drone Houthi sebelum diperbaiki di Guam. Namun, tunggu dulu, USS Gerald R. Ford (CVN78) yang sedang menuju Teluk Persia via Suez sudah ditunggu Houthi Yamanite merupakan proxywar Iran di Selat Bab elMandab dengan ranjau bawah laut. Kita akan terdampak karena 30 persen pasokan minyak mentah dunia lewat di Bab El-Mandab yg pisahkan Teluk Aden dan Djibouti merupakan markas militer Prancis dan Eritrea. Bersiap kita hadapi kelangkaan BBM karena future trading. Bila Amerika-Israel memilih perang darat, ini sama saja mengantar nyawa prajuritnya. Pegunungan Zagros di Barat Daya Iran, dan Albros di Utara Iran merupakan benteng alam. Prajurit Amerika dan Israel kemungkinan akan mati hipotermia, kedinginan, sembilan belas hari jelang musim semi. Lalu, prajurit Iran telah terlatih perang delapan tahun dengan Irak, dan terlatih 47 tahun dikucilkan Amerika.
Melalui Central Asian Regional Economic Cooperation (CAREC), Tiongkok bersama negara-negara Asia Tengah melakukan kerjasama regional membangun jalur sutra di masa lalu yang dapat menghubungkan Tiongkok ke Asia Tengah hingga Asia Barat melalui ide Chinese Belt Road Initiative (CBRI) hingga ke kawasan Timur Tengah. Tentu, dengan terbangunnya kerjasama sesama negara Asia ini dengan figur tunggalnya adalah Tiongkok, akan mengancam Hegemoni geopolitik AS di Asia, Timur Tengah, yang bukan tidak mungkin mempererat kerjasama dengan Rusia di utara sehingga menyatukan kerjasama CAREC dalam Super Eurasia. Selain itu, masalah sesama dengan Arab Saudi-Iran mencoba diatasi oleh sesama negara Arab Saudi-Iran sendiri yang pada 2020, difasilitasi rembug Arab Saudi-Iran oleh Perdana Menteri Irak, Adil Abdul Mahdi di Irak. Tentu saja AS dan Israel tidak ingin ada jalan menuju “kemesraan” Arab Saudi-Iran terjadi karena akan merongrong hegemoninya di Timur Tengah termasuk pasar senjatanya. Tiongkok berkepentingan karena 30 persen kebutuhan minyak mentahnya dipasok oleh Iran.
Alasan petrodolar dan keistimewaan dolar yang terganggu menjadi peringatan bagi Tiongkok, dipilih oleh Amerika. Baik minyak bumi maupun gas masing-masing bercabang dua yakni Arabian Light produksi OPEC dan Brent produksi non-OPEC bagi minyak mentah, serta LNG dan LPG bagi gas. Harga gas selalu mengikuti harga minyak mentah. Perdagangan keduanya dilakukan berjangka. Maksudnya, kontrak transaksi jual beli hari ini, pengiriman nanti 1-3 bulan yang akan datang. Pada sisi ekonomi inilah, Arab Saudi sebagai produsen minyak nomor 2 di dunia setelah Venezuela, tentu tidak ingin sangat tergantung pada satu pasar tunggal Amerika. Oleh karena itu, Arab Saudi mengekspor minyak mentahnya juga ke Tiongkok. AS bukannya tidak punya cadangan minyak mentah. Mereka punya di Alaska yang dicadangkan selama seabad yang akan datang.
Kerjasama jual beli minyak ini dapat dilakukan melalui jalur kerjasama korporasi Aramco Arab Saudi dengan mitra kerjanya milik Tiongkok entah China National Oil Offshore Company (CNOOC) yang spesifik di laut dalam di luar negeri, China National Petroleum Corporation (CNPC), atau Sinopec, atau PetroChina. Bila kerjasama ini terjalin kuat, maka Chevron, Exxon Mobile Oil Company akan gigit jari. Tentu saja Pemerintah AS akan menggunakan segala cara agar maksud terpenuhi seperti yang pernah mereka lakukan di Kazakhstan, menyuap orang-orang di sekeliling Presiden Nur Sultan Nazarbayev. Apalagi kedekatan korporasi Tiongkok di atas juga terjadi di Venezuela dan Petrobraz.
Alasan ekonomi lain adalah hegemoni dolar. Sebagai mata uang istimewa, dolar berlaku di mana saja. Sejarah membuktikan bahwa US$700,- miliar dikeluarkan Bush Junior dalam pengejaran Osama Ben Laden, Perang Afghanistan, Perang Irak II oleh George Walker Bush, seharus AS bangkrut. AS tidak bangkrut karena pemerintahnya dominan berhutang pada rakyatnya sendiri melalui penjual Treasury Bills dan dolar sebagai mata uang istimewa dunia. Masuknya Yuan atau Renmimbi selain Dinar, Euro, Yen sebagai mata uang internasional menjadi pesaing baru bagi dolar. AS pasti akan terusik sebagai pemegang Society of Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT). Baik hegemoni geopolitik maupun hegemoni ekonomi inilah yang membuat Presiden Trump harus memutus mata rantai jelang peningkatan jalan ‘kemesraan’ Arab-Iran tercipta sehingga dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah. Inilah kemungkinan alasan logis mengapa AS memulai dengan ‘mendeleted’ Mayor Jenderal Suleimani, agar ketegangan di Timur Tengah tidak mereda, dan senjatanya laku keras hanya untuk menciptakan kelanggengan ketegangan jauh dari kesan dikotomi Suni-Syiah.
*) Guru Besar Ekonomi Internasional FEB-Untad dan Anggota Middle East Economist Association (MEEA).
Apa Reaksimu?
