TPI Modern Teluk Tomini: Menjahit Ketimpangan Antara Pertumbuhan Ekonomi 8% dengan Kemiskinan 11% di Sulteng
Oleh: Drs. Andi Azikin Suyuti*
SULAWESI Tengah patut berbangga. Pertumbuhan ekonomi kita menembus angka ∼8%, salah satu tertinggi nasional. Mesin utamanya jelas: hilirisasi nikel di Morowali dan Morowali Utara.
Namun ada paradoks yang tidak bisa ditutup-tutupi. Di saat ekonomi tumbuh kencang, angka kemiskinan Sulteng masih bertengger di 11% dari total 2,9 juta jiwa. Artinya, ada 319.000 saudara kita yang belum merasakan kue pembangunan.
Ini yang disebut growth without development. Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menetes ke bawah. Mengapa? Karena pertumbuhan Sulteng ditopang sektor ekstraktif yang padat modal, tidak padat karya. Satu smelter triliunan rupiah hanya menyerap puluhan tenaga kerja skill tinggi. Sementara kantong kemiskinan kita ada di sektor pertanian-nelayan Teluk Tomini: Parigi Moutong, Tojo Una-Una, Poso, Banggai.
Teluk Tomini: “Emas Biru” yang Belum Punya Rumah
Teluk Tomini dikelilingi 5 kabupaten: Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-Una, Banggai, plus Gorontalo. Potensi perikanannya luar biasa. Tapi nelayan kita masih menjual ikan lewat tengkulak karena tidak ada pusat pemasaran modern. Tidak ada cold storage, SPBU khusus nelayan, air bersih, dan dermaga yang layak untuk kapal modern.
Akibatnya rantai nilai putus. Nelayan dapat harga rendah, konsumen dapat ikan mahal, dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terpaksa ambil telur-ayam dari luar Sulteng. Padahal laut kita kaya.
Usulan Solusi: TPI Modern 2 Ha + Rest Area di Jantung Teluk Tomini
Untuk menjahit ketimpangan ini, Pemprov Sulteng harus berani buka pusat pertumbuhan ekonomi baru. Saya mengusulkan pembangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Modern seluas 2 Ha dengan konsep terintegrasi.
Fasilitas yang wajib ada:
- Dermaga yang mampu menampung minimal 4 kapal penangkap ikan modern yang beroperasi di Teluk Tomini & Teluk Tolo.
- SPBU khusus nelayan, cold storage, dan instalasi air bersih untuk menjamin mutu ikan.
- Penginapan & area UMKM yang menjual kuliner tradisional Sulteng berbahan ikan segar.
- Fungsi ganda sebagai Rest Area di jalur Trans Sulawesi. Wisatawan bisa singgah, belanja, dan menikmati Teluk Tomini.
Lokasi strategis: Perlu Feasibility Study (FS) segera. Dua titik potensial adalah Kabupaten Tojo Una-Una sebagai hub Teluk Tolo & Tomini timur, dan Kecamatan Moutong, Kabupaten Parigi Moutong sebagai hub Tomini barat & pintu Gorontalo.
Dampaknya: TPI ini bukan sekadar proyek perikanan. Ini proyek pengentasan kemiskinan. Akan tercipta 300-500 lapangan kerja langsung. Nelayan dapat harga adil. UMKM tumbuh. Dan yang terpenting, TPI ini jadi pemasok protein hewani utama untuk dapur MBG se-Sulteng. Pertumbuhan 8% akhirnya “bersalaman” dengan si miskin 11%.
Siapa yang Harus Mulai? Bappeda Pimpin, DKP Kerjakan
Proyek lintas kabupaten seperti ini tidak bisa diserahkan ke Pemkab. Harus Pemprov yang jadi dirigen.
Bappeda Provinsi harus jadi lead planning. Hanya Bappeda yang bisa menyatukan PU, Dishub, ESDM, Pariwisata, Koperasi-UMKM dalam satu meja. Dinas Perikanan Provinsi sebagai leading sector yang paham teknis kebutuhan nelayan dan kapal.
Langkah pertama: Alokasikan anggaran FS di APBD-P 2026. Target 2027 sudah groundbreaking dengan skema DAK KKP + KPBU.
Pembangunan Adalah Pekerjaan Sosial Skala Besar
Sebagai alumni Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung tahun 1982, dan pengabdi 35 tahun di Dinas Sosial Sulteng termasuk sebagai Kadis Sosial Prov Sulteng 2000-2005 serta Pejabat Bupati Poso 2006, saya belajar satu hal: kemiskinan tidak selesai dengan bagi-bagi bantuan. Kemiskinan selesai kalau kita buka akses dan rantai nilai ekonomi untuk rakyat kecil.
TPI Modern Teluk Tomini adalah pekerjaan sosial. Ia membuka akses nelayan ke pasar, memberi kerja untuk pemuda, dan menjamin gizi anak-anak kita lewat MBG.
Saya, menitip pesan ini untuk Pemprov Sulteng. Mari kita buktikan bahwa pertumbuhan 8% bukan hanya milik smelter, tapi juga milik nelayan Teluk Tomini.
*) Penulis adalah Pensiunan ASN tahun 2010
Apa Reaksimu?

