Kenaikan Inflasi Mengintai Idul Fitri

Kenaikan inflasi yang terjadi di Sulawesi Tengah awal tahun ini memaksa Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) kabupaten/kota se Sulteng untuk segera mencari solusi sedini mungkin sebelum Idulfitri tiba.

Feb 28, 2026 - 06:30
 0
Kenaikan Inflasi Mengintai Idul Fitri
Wakil Gubernur Reny A. Lamadjido (kedua dari kiri) menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) TPID se-Sulawesi Tengah yang digelar secara hybrid di Gedung Pogombo, Kamis pagi (26/2/2026). (Foto: Biro Adpim Pemprov Sulteng)

PALU, METROSULAWESI.NET - Kenaikan inflasi yang terjadi di Sulawesi Tengah awal tahun ini memaksa Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) kabupaten/kota se Sulteng untuk segera mencari solusi sedini mungkin sebelum Idulfitri tiba.

Wakil Gubernur Reny A. Lamadjido meminta TPID mengambil langkah antisipatif sejak dini menyusul kenaikan inflasi pada awal 2026, khususnya menjelang periode Idul Fitri yang berpotensi meningkatkan tekanan harga.

Ajakan tersebut disampaikan Wagub Reny saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) TPID se-Sulawesi Tengah yang digelar secara hybrid di Gedung Pogombo, Kamis pagi (26/2/2026). 

Forum ini menjadi ruang konsolidasi daerah dalam merespons tren inflasi yang kembali meningkat setelah sebelumnya berhasil ditekan.

Wagub Reny mengungkapkan, inflasi Sulawesi Tengah pada Januari 2026 kembali bergerak naik melewati ambang batas yang ditetapkan, setelah pada Desember 2025 mampu dikendalikan di level toleransi 3,5 persen. 

Kondisi tersebut dinilai sebagai sinyal kuat agar seluruh unsur TPID memperkuat langkah pengendalian secara terkoordinasi.

Menurutnya, cuaca ekstrem yang melanda wilayah Sulawesi Tengah berdampak langsung pada produksi pangan dan mendorong kenaikan harga komoditas volatile food, seperti bawang, cabai, ikan laut, telur, dan beras. 

Selain faktor cuaca, perilaku masyarakat yang cenderung memborong emas dalam beberapa waktu terakhir juga disebut turut memberi andil terhadap tekanan inflasi daerah.

Menjelang libur Idul Fitri, Wagub Reny memprediksi akan terjadi kenaikan harga tiket transportasi yang berpotensi menjadi pemicu inflasi, seiring meningkatnya mobilitas dan pola konsumsi masyarakat.

“Ayo kita cari tahu betul apa yang harus dilakukan supaya inflasi ini turun dan sehat kembali,” ujarnya, mendorong peserta Rakorda agar aktif menyampaikan saran dan usulan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Muhammad Irfan Sukarna, menjelaskan bahwa dampak cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan di Sulawesi Tengah, tetapi juga di sejumlah provinsi tetangga. Kelangkaan stok pangan di daerah sekitar mendorong peningkatan permintaan pasokan dari Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah produsen terdekat.

Ia menambahkan, periode libur panjang dan tradisi mudik diperkirakan memicu lonjakan kebutuhan di berbagai daerah. Arus keluar barang dari Sulawesi Tengah untuk memenuhi permintaan tersebut berpotensi menimbulkan kelangkaan stok di dalam daerah, yang kemudian diikuti kenaikan harga.

Untuk itu, Muhammad Irfan menekankan pentingnya langkah konkret dan terukur melalui penguatan implementasi framework 4K, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Langkah-langkah yang disarankan antara lain intensifikasi sidak pasar dan pasar murah, optimalisasi neraca pangan, penguatan rantai distribusi, serta perluasan kerja sama antar daerah.

Ia optimistis, dengan strategi tersebut, inflasi Sulawesi Tengah dapat kembali dikendalikan. 

“Harapan kami, pada bulan Maret inflasi Sulawesi Tengah sudah lebih melandai,” ujarnya. (ril/*)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow