Agama dalam Bayangan Ego

Oleh: Mohsen Hasan

Juli 9, 2026 - 06:13
Agama dalam Bayangan Ego
Ilustrasi.

DI sela-sela majelis kajiannya Habib Umar bin Hafiz bin Syeikh Abu Bakar menyampaikan hasil pengamatan terhadap perkembangan sebagian orang-orang beragama mengalami penafsiran dan pemahaman yang ekstrim dan egoisme sehingga suasana sarat kebisingan opini dan pendapat mengakibatkan hilangnya nilai-nilai kesucian di tengah gejolak klaim kebenaran.

Terjadinya hal itu di era modern saat sekarang ini yang penuh kebisingan opini, agama kerap kehilangan kesuciannya di tengah teriakan klaim kebenaran.

Banyak orang mengaku membela agama, tetapi sesungguhnya yang mereka bela adalah dirinya sendiri egonya, kelompoknya,tafsirnya.

Agama yang seharusnya menjadi jalan penyucian, kini berubah menjadi panggung pembenaran. Di dunia maya, kita bisa melihat dengan mudah bagaimana ayat suci dijadikan alat serang, bukan cermin untuk melihat diri.

Zaman ini telah melahirkan generasi yang religius secara simbolik, tetapi gelisah secara spiritual.Mereka mencari Tuhan di luar, tetapi menolak untuk menemukannya di dalam diri yang paling sunyi.

Penulis akan membawakan pendapat dua pakar phisikologi dan filsafat dan ilmu tasawwuf yaitu Sigmund Freud dalam karyanya The Future of  an Illusion dan Imam Ghazali seorang pakar dan tokoh hujjatul Islam pada masanya dalam sebuah karyanya Ihya ùlumiddin

Freud dan Ilusi Keagamaan

Lebih dari seabad lalu, Sigmund Freud, bapak psikoanalisis, menulis dalam The Future of an Illusion bahwa agama lahir dari kebutuhan psikis manusia akan perlindungan.

Menurutnya, manusia menciptakan figur Tuhan sebagai bentuk proyeksi rasa takut terhadap dunia yang tak terkendali.

Bagi Freud, agama adalah wish fulfillment pemenuhan hasrat terdalam manusia untuk merasa aman.

Meski banyak yang menolak pandangannya, kritik Freud membuka ruang refleksi yang tajam:

kadang kita memang tidak sedang mencari Tuhan, melainkan sedang mencari rasa tenang yang sesuai dengan keinginan diri.

Manusia modern beragama bukan untuk tunduk, melainkan untuk mendapatkan pembenaran batin.

Ia menafsirkan kitab suci seperti menatap cermin: hanya ingin melihat dirinya, bukan Tuhan yang sejati.

Freud mungkin tidak memahami kedalaman iman, tetapi ia memahami dengan sangat baik tabiat manusia bahwa ego sering kali mengenakan jubah kesalehan untuk menutupi luka batin dan ambisi tersembunyi.

 Imam Al-Ghazali dan Kesalehan yang Menipu

Namun jauh sebelum Freud, Imam Al-Ghazali telah mengingatkan hal yang sama, dengan bahasa yang lebih lembut namun jauh lebih dalam.

Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, ia menulis:  “Nafsu mencintai kedudukan, ingin tampak benar, dan membenci kebenaran bila datang dari orang lain.”

Bagi Al-Ghazali, agama bukanlah kumpulan dogma atau simbol kesalehan, melainkan proses penyucian hati.Ketika ilmu agama tidak membuat hati tunduk dan jiwa lembut, maka ilmu itu justru akan menjadi hujjah yang memberatkan di akhirat.

Ia mengkritik keras dua kelompok yang masih relevan hingga kini: para ulama yang kehilangan hati, dan para ahli ibadah yang kehilangan ilmu.

Dua-duanya berbahaya yang satu menyesatkan dengan dalil, yang lain dengan fanatisme tanpa hikmah.

Imam Al-Ghazali menegaskan:  “Ilmu tanpa adab menjerumuskan, dan ibadah tanpa ilmu menyesatkan.”

Hari ini, kita melihat bagaimana kalimat itu hidup kembali. Kebenaran direduksi menjadi argumentasi, dan kesalehan diukur dari penampilan, bukan dari kerendahan hati.

Pertemuan Dua Dunia: Psikologi dan Spiritualitas

Menariknya, jika Freud dan Al-Ghazali duduk berdialog, keduanya akan sepakat pada satu hal: manusia adalah makhluk yang mudah tertipu oleh dirinya sendiri.

Freud menyebutnya self-deception, Al-Ghazali menyebutnya ghurur.

Yang satu berbicara tentang mekanisme pertahanan ego, yang lain tentang penyakit hati.Namun keduanya mengarah ke akar yang sama: agama bisa menjadi topeng bagi ego bila tidak diiringi kesadaran diri.

Agama, dalam pengertian ini, bukan hanya sistem keyakinan, tetapi cermin moralitas batin.Ia menuntut kejujuran bukan pada dunia luar, tetapi pada diri sendiri. Karena sesungguhnya, orang yang paling sulit dihadapi bukanlah musuh di luar, tetapi ego di dalam diri yang selalu ingin menang.

 Manusia Modern dan Krisis Kesadaran

Kita hidup di masa ketika manusia ingin menjadi benar lebih dari ingin menjadi baik. Ketika agama dijadikan senjata politik, komoditas sosial, atau ajang popularitas spiritual. Kita hidup di masa ketika agama kehilangan kedalaman karena kehilangan keheningan.

Media sosial mengubah dakwah menjadi panggung kompetisi, dan kebisingan mengalahkan zikir yang sepi.

Freud menyebutnya kebutuhan narsistik; Al-Ghazali menyebutnya penyakit hati.

Dua istilah yang berbeda, namun maknanya sama: manusia modern haus akan pengakuan, bukan kebenaran.

 Kembali pada Hakikat Agama

Jalan keluar dari krisis ini bukanlah menolak modernitas, melainkan mengembalikan agama pada jantung kesadarannya.

Freud menawarkan insight kejujuran dalam melihat motif diri. Al-Ghazali menawarkan muhasabah  kejujuran dalam menilai hati.

Dua-duanya adalah bentuk cahaya kesadaran, yang menuntun manusia untuk mengenali bahwa kebenaran sejati tidak akan pernah lahir dari ego yang belum disucikan.

Agama harus kembali menjadi cermin, bukan topeng.Ketika agama dijadikan cermin, manusia akan menunduk dan memperbaiki diri. Ketika agama dijadikan topeng, manusia akan menundukkan orang lain.

Kita tidak sedang kehilangan Tuhan; kita hanya terlalu sibuk menjadi Tuhan bagi diri sendiri. Kita tidak kehilangan agama; kita hanya kehilangan kejujuran dalam beragama.

 Seperti kata Imam Al-Ghazali: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Man àrafaa nafsahu fagad àrafa rabbahu

Dan barangkali, inilah yang harus kita renungkan hari ini bahwa sebelum kita berdebat tentang siapa yang paling benar,kita perlu bertanya lebih dahulu: apakah kita sudah cukup jujur terhadap diri sendiri di hadapan Tuhan?

Agama tidak untuk menguasai, tetapi untuk mengasihi; tidak untuk menang, tetapi untuk menenangkan; dan tidak untuk membenarkan ego, tetapi untuk menyucikan jiwa. (*)

 

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow