Mekar Melati: Nada Emansipasi Perempuan dari Palu

SEJARAH sering mencatat peristiwa besar, tetapi kerap melupakan getar-getar kecil yang sesungguhnya mengubah arah zaman. Di Kota Palu pada dekade 1950-an, masa ketika perempuan nyaris tak memiliki ruang diberbagai bidang termasuk di pentas seni, namun sebuah gagasan lahir diam-diam, lalu tumbuh menjadi peristiwa penting dalam sejarah emansipasi perempuan Sulawesi Tengah.

Des 23, 2025 - 14:00
 0
Mekar Melati: Nada Emansipasi Perempuan dari Palu
Orkes Mekar Melati tampil pada kunjungan presiden Soekarno tahun 1954. (Foto: Dok Pribadi)

Oleh: Akhsan Intje Makka*

SEJARAH sering mencatat peristiwa besar, tetapi kerap melupakan getar-getar kecil yang sesungguhnya mengubah arah zaman. Di Kota Palu pada dekade 1950-an, masa ketika perempuan nyaris tak memiliki ruang diberbagai bidang termasuk di pentas seni, namun sebuah gagasan lahir diam-diam, lalu tumbuh menjadi peristiwa penting dalam sejarah emansipasi perempuan Sulawesi Tengah.

Gagasan itu datang dari Intje Makkah, yang juga tercatat sebagai perintis pers Sulawesi Tengah tahun 1935.

Pada masa tersebut, norma sosial masih memandang kehadiran perempuan di ruang publik, terlebih di atas panggung seni, sebagai sesuatu yang tabu. Seni pertunjukan dianggap wilayah maskulin; perempuan ditempatkan sebagai penonton, bukan pelaku. Dalam konteks sosiologis, kondisi ini mencerminkan pembatasan struktural terhadap ekspresi dan partisipasi perempuan.

Namun Intje Makkah membaca zaman dengan cara yang berbeda.

Ia meyakini bahwa seni bukan sekadar hiburan, melainkan medium pendidikan sosial dan kebudayaan. Dari keyakinan itulah lahir Orkes Mekar Melati, sebuah kelompok musik yang seluruh personilnya adalah perempuan, sebuah keputusan yang, pada masanya, dapat disebut "Berani" bahkan radikal.

Kepemimpinan orkes ini dipercayakan kepada putrinya, Sitti Norma, bersama adik-adiknya Sitti Ichlasiah, Nurjanah, Nuraidah serta beberapa perempuan muda lainnya dari lingkar pergaulan mereka. Nama Mekar Melati bukan pilihan tanpa makna: melati adalah lambang kesucian dan kehalusan, sementara kata mekar menandai pertumbuhan sebuah metafora bagi perempuan yang mulai membuka diri di ruang publik.

Dalam perspektif kajian gender, pembentukan Orkes Mekar Melati merupakan praktik emansipasi kultural. Tanpa slogan politik, tanpa manifesto tertulis, kelompok ini melakukan apa yang oleh akademisi disebut sebagai everyday resistance: perlawanan halus melalui tindakan sosial yang menggeser norma.

Momentum simbolik sekaligus historis terjadi ketika Orkes Mekar Melati tampil dalam kunjungan Presiden Soekarno ke Kota Palu pada tahun 1954. Kehadiran perempuan Palu di pentas seni, di hadapan Presiden Republik Indonesia, menjadi penanda kuat bahwa gagasan emansipasi tidak hanya berdenyut di pusat kekuasaan, tetapi juga berakar di daerah.

Secara historis, peristiwa ini dapat dibaca sebagai pertemuan antara emansipasi nasional dan emansipasi lokal. Soekarno, tokoh yang kerap menegaskan pentingnya peran perempuan dalam revolusi, disambut oleh karya seni yang diperankan sepenuhnya oleh perempuan daerah, sebuah dialog simbolik antara ide dan praktik.

Lebih dari sekadar kelompok musik, Mekar Melati adalah arsip hidup perjuangan perempuan Palu. Ia menegaskan bahwa perempuan bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga pencipta kebudayaan. Bahwa tampil di pentas seni bukanlah pelanggaran moral, melainkan pernyataan martabat.

Dalam konteks Hari Ibu Indonesia yang berakar dari Kongres Perempuan 1928, kisah Mekar Melati menemukan relevansinya. Hari Ibu bukan hanya tentang pengorbanan domestik, tetapi tentang keberanian perempuan memasuki ruang publik dengan kesadaran dan pilihan sendiri.

Hari ini, ketika perempuan tampil bebas di panggung seni, sejarah Orkes Mekar Melati patut diingat bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai fondasi. Sebab setiap kebebasan memiliki asal-usul, dan di Kota Palu, salah satu asal-usul itu pernah berbunyi dalam harmoni perempuan bernama Mekar Melati.

*) Pencipta Lagu-lagu Kaili/Pensiunan PNS Diskominfo Donggala.

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow