Ambisi Ketahanan Energi dalam Pembangunan Ekosistem EV
Oleh Putu Indah Savitri
Jakarta, 09/7 (ANTARA) - Mobil listrik asal Negeri Tirai Bambu membelah jalanan Kota Jakarta menuju Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma di bawah langit yang berselimut awan kelabu.
Ketika rintik hujan pada penghujung bulan Juni mulai mengetuk ringan kaca mobil, Juliansyah, sang pengemudi, memutuskan untuk memecah keheningan.
“Kalo naik ini (mobil listrik) mestinya nggak terlalu khawatir (banjir),” ujar Juliansyah sembari memberi penekanan terhadap kata ‘semestinya’.
Meski banyak pengendara kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang berhasil menembus banjir, Juliansyah tidak menepis ihwal adanya secubit rasa khawatir bila harus melakukan hal serupa. Sebab, mobil yang ia kemudikan bukanlah miliknya sendiri.
Mobil itu merupakan mobil sewaan dari vendor tempat ia mencari nafkah sebagai pengemudi taksi online. Oleh karena itu, jika terjadi sesuatu yang menyebabkan kerusakan terhadap mobil, ia harus bertanggung jawab dan bisa kehilangan pekerjaannya.
Menyambung obrolan tersebut, Juliansyah menuturkan bahwa rekan-rekan sejawatnya, para pengemudi taksi online, mulai beralih ke mobil listrik melalui kemitraan dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Menurutnya, langkah ini terasa lebih hemat dibandingkan harus menanggung cicilan, pajak, serta biaya perawatan mobil pribadi.
Selain itu, Juliansyah juga tidak mengalami kendala berarti saat beralih dari mobil konvensional berbahan bakar bensin ke mobil listrik.
“(Bedanya) cuma pas ngecas. Kira-kira sejam. Itu saya pake istirahat, tidur,” kata Juliansyah.
Dia mengatakan bahwa dalam satu hari, ia mengisi daya mobil listriknya sebanyak dua hingga tiga kali. Satu kali saat pagi hari sebelum mulai beraktivitas, kemudian pada siang atau sore hari.
Juliansyah dan rekan-rekan pengemudi taksi online yang telah menggunakan kendaraan listrik menunjukkan transisi dari mobil konvensional menjadi mobil listrik mulai terjadi di tingkat akar rumput.
Fenomena tersebut seolah menjadi sinyal bahwasanya secara perlahan namun pasti, masyarakat Indonesia mulai menunjukkan ketertarikan terhadap mobil listrik. Terlebih, setelah harga bahan bakar minyak (BBM) menampakkan kerentanannya terhadap konflik geopolitik.
Kendaraan listrik dan ketahanan energi
Kecenderungan serupa juga terlihat di negara lain. Di Jerman, misalnya, permintaan terhadap mobil listrik bekas melonjak sepanjang 2026 seiring kenaikan harga bahan bakar yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Majalah Der Spiegel, Senin (1/6), mengutip data Otoritas Transportasi Motor Federal Jerman (KBA), melaporkan bahwa lonjakan harga BBM mendorong semakin banyak masyarakat beralih ke kendaraan listrik.
Menurut laporan tersebut, hampir 120.000 kendaraan listrik bekas terjual di seluruh Jerman selama empat bulan pertama 2026. Jumlah itu hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025 dan hampir tiga kali lipat dibandingkan empat bulan pertama 2024.
Di Jakarta, menurut General Manager PLN UID Jakarta Raya Moch Andy Adchaminoerdin, pada akhir April 2026 pengguna kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sudah naik sembilan kali lipat.
Andy pun memperkirakan jumlah pengguna kendaraan listrik di ibu kota akan semakin meningkat seiring kenaikan harga BBM di tengah konflik AS-Iran.
Berbagai data tersebut mencerminkan respons konsumen terhadap ketangguhan kendaraan listrik dalam menghadapi gejolak geopolitik apabila dibandingkan dengan kendaraan konvensional.
Direktur Energy Shift Institute, Putra Adhiguna, menilai pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia memegang peranan penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Ia menyoroti Indonesia yang mengimpor sekitar 60 persen dari kebutuhan minyaknya. Selain itu, kapasitas produksi minyak di dalam negeri juga berangsur menurun akibat terjadinya natural decline.
“Kendaraan listrik menjadi sangat penting untuk ketahanan energi, untuk mendorong perubahan struktural,” ujar Putra.
Selaras dengan upaya memperkuat ketahanan energi nasional, pemerintah terus mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, pada Mei 2026 mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan insentif bagi 100 ribu mobil listrik dan 100 ribu sepeda motor listrik pada tahun ini.
Pemberian insentif tersebut bertujuan untuk mendorong penjualan kendaraan listrik sekaligus memperkuat ekosistem industri EV di dalam negeri.
Selain itu, pemerintah pun mempercepat pengembangan ekosistem industri baterai melalui pembentukan PT Industri Baterai Indonesia atau IBC, yang menyatukan grup MIND ID di bawah koordinasi Danantara Indonesia.
Kesadaran kolektif itu mulai terbentuk menjadi pemahaman bahwa pengembangan ekosistem kendaraan listrik berkaitan erat dengan upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Lantas, apa kaitannya dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia?
Hilirisasi nikel
Ketika membahas mengenai ekosistem kendaraan listrik, komponen yang tak luput dari sorotan adalah kehadiran industri baterai.
Sebagai negara yang menguasai lebih dari 40 persen cadangan nikel dunia, Indonesia memiliki kapasitas untuk mendukung kebutuhan industri baterai berbasis nikel dalam jangka panjang. Karenanya, hadir IBC sebagai orkestrator ekosistem.
Ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai ekosistem kendaraan listrik di Indonesia telah memiliki fondasi yang kuat. Namun, menurutnya, masih ada sejumlah risiko strategis yang perlu dikelola.
Yayan menjelaskan, kekuatan tersebut bertumpu pada cadangan nikel terbesar di dunia, kebijakan hilirisasi yang dibarengi larangan ekspor bijih nikel, keberhasilan membangun smelter dan rantai pasok nikel di dalam negeri, serta turunnya harga baterai global ke kisaran 99–115 dolar AS per kWh yang telah menembus ambang psikologis 100 dolar AS.
Dengan modal tersebut, Yayan memperkirakan biaya kepemilikan kendaraan listrik sudah lebih kompetitif dibandingkan kendaraan konvensional dalam jangka waktu sekitar lima tahun.
“Ini modal besar. Namun, penilaian jujur, belum cukup,” ucap Yayan.
Yayan mengidentifikasi empat tantangan yang perlu diperhatikan dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Pertama, pergeseran pasar menuju baterai berbasis litium besi fosfat (LFP), bukan lagi nikel mangan kobalt (NMC). Pangsa pasar LFP telah mencapai sekitar 50 persen pasar baterai kendaraan listrik global pada 2025. Di Indonesia, lebih dari 90 persen mobil listrik yang terjual juga telah menggunakan baterai LFP.
Kedua, Indonesia dinilai tidak bisa bertaruh sepenuhnya pada baterai berbasis nikel. Menurut Yayan, langkah tersebut justru bertentangan dengan arah perkembangan pasar. Bahkan, wacana mewajibkan penggunaan baterai NMC berpotensi mengurangi minat investor kendaraan listrik.
Ketiga, tantangan datang dari kualitas bijih dan deplesi sumber daya. Sebagian besar nikel Indonesia masih tergolong Class 2 yang lebih cocok untuk baja nirkarat, bukan battery-grade Class 1. Karena itu, Indonesia masih membutuhkan investasi besar pada teknologiHigh Pressure Acid Leaching (HPAL).
Di sisi lain, meski cadangan nikel diperkirakan masih mencukupi sekitar 30 tahun, cadangan saprolit atau bijih berkadar tinggi untuk bahan baku baterai diperkirakan hanya bertahan sekitar 13 tahun. Hilirisasi yang terlalu agresif pun berisiko mempercepat habisnya bijih berkadar tinggi sehingga laju produksinya perlu dikelola secara cermat.
Keempat, sumber listrik yang menopang industri kendaraan listrik masih didominasi energi fosil. Yayan menyoroti smelter dan sebagian jaringan listrik yang masih bergantung pada batu bara. Kondisi ini mengurangi nilai "hijau" kendaraan listrik sekaligus menekan daya saing baterai Indonesia di pasar ekspor.
Untuk menjawab keempat tantangan tersebut, Yayan mengusulkan peningkatan kapasitas produksi nikel battery-grade melalui teknologi HPAL, transisi pasokan listrik smelter dan jaringan listrik ke energi terbarukan, pengelolaan cadangan agar umur ekonomis nikel tetap terjaga selama 30–40 tahun, serta pengembangan ekosistem yang tidak hanya berfokus pada NMC, tetapi juga membuka ruang bagi LFP dengan memperkuat industri daur ulang.
Di samping untuk kendaraan listrik, hilirisasi nikel Indonesia juga berpotensi mendukung pengembangan Battery Energy Storage System (BESS), yang menjadi komponen penting dalam transisi energi dari ketergantungan pada batu bara menuju energi bersih.
Dengan kekayaan sumber daya yang dimiliki, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk membangun ekosistem kendaraan listrik secara mandiri. Namun, makna hilirisasi nikel sesungguhnya melampaui ambisi menjadi raja baterai kendaraan listrik.
Hilirisasi nikel merupakan pijakan strategis untuk memperkuat ketahanan energi, mempercepat transisi menuju energi bersih, sekaligus membangun kemandirian energi nasional. (antara)
Apa Reaksimu?

