Wamenkomdigi Ungkap Dua Aspek Krusial Wujudkan AI Nasional Berdaulat

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengungkapkan dua aspek yang krusial untuk dikembangkan Indonesia secara bersama-sama agar dapat mewujudkan pertumbuhan inovasi kecerdasan artifisial (AI) berdaulat.

Juli 9, 2026 - 11:52
Wamenkomdigi Ungkap Dua Aspek Krusial Wujudkan AI Nasional Berdaulat
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menerima audiensi dari GreatAsic/Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat. ANTARA/HO-Kementerian Komunikasi dan Digital

Jakarta, 09/7 (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengungkapkan dua aspek yang krusial untuk dikembangkan Indonesia secara bersama-sama agar dapat mewujudkan pertumbuhan inovasi kecerdasan artifisial (AI) berdaulat.

Menurutnya, pengembangan kecerdasan artifisial tidak cukup mengandalkan teknologi, tetapi memerlukan ekosistem yang mencakup sumber daya manusia, infrastruktur komputasi, dan rantai pasok semikonduktor.

"Antara manusia dan juga infrastruktur, kita perlu melakukannya secara bersamaan, paralel," ujar Nezar Patria dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Pesan serupa disampaikannya saat menerima audiensi GreatAsic/Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

Menurutnya pengembangan AI berdaulat harus ditopang oleh penguatan seluruh rantai nilai industri, mulai dari semikonduktor, infrastruktur komputasi, hingga talenta digital.

Nezar berpendapat bahwa penguasaan chip kini menjadi faktor strategis karena menentukan posisi suatu negara dalam industri AI sekaligus rantai pasok teknologi global.

Persaingan geopolitik yang semakin ketat membuat berbagai negara berlomba mengamankan teknologi canggih, semikonduktor, dan mineral kritis yang menjadi fondasi industri AI.

"Chip dan semikonduktor benar-benar strategis bagi negara-negara yang ingin memasuki industri AI ini dan juga rantai pasokan global AI," katanya.

Jika membahas modal, Nezar mengatakan sebenarnya Indonesia memiliki sejumlah mineral kritis yang dapat menjadi modal penting dalam membangun industri AI nasional. Namun, nilai tambah tidak akan tercipta apabila pengolahan mineral tersebut masih bergantung pada negara lain.

Karena itu, Indonesia perlu mendorong kolaborasi yang menghadirkan transfer teknologi dan peningkatan kapasitas nasional sehingga pengembangan industri semikonduktor mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

"Melalui kolaborasi, kita bisa mendapatkan transfer pengetahuan, kita juga bisa mendapatkan penciptaan nilai dari proses tersebut," ujar Nezar.

Menurutnya, seluruh rantai pasok AI saling terhubung sehingga tidak mungkin dibangun secara sendiri-sendiri.

Agar pengembangan AI di Indonesia menjadi lebih optimal memperkuat kemampuan nasional saja tidak cukup, Nezar menilai pembangunan AI Indonesia tetap memerlukan kerja sama lintas negara, khususnya di kawasan Asia dan ASEAN.

ASEAN memiliki kekuatan berupa pasar yang besar, sumber daya strategis, serta kedekatan sosial dan budaya yang dapat menjadi fondasi pembentukan klaster AI regional.

"Jika kita ingin membangun AI yang berdaulat, kita tidak bisa melakukannya sendiri. Karena semua hal saling terkait, terhubung," katanya.

Lebih lanjut, Nezar mengatakan pemerintah Indonesia terus mempersiapkan diri menghadapi perkembangan teknologi generasi berikutnya dan tidak hanya berhenti mendalami AI, akan ada lebih banyak inovasi termasuk komputasi kuantum yang diperkirakan membawa perubahan besar dalam berbagai sektor.

Sebagai regulator, pemerintah perlu menyiapkan langkah mitigasi risiko terhadap perkembangan teknologi baru agar transformasi digital berlangsung secara aman dan memberi manfaat bagi masyarakat. (antara)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow