Haissem, Penerus Trah Hassan di Sepak Bola Mesir

Lupakan dulu sejenak kontroversi tentang keberpihakan wasit dan FIFA yang begitu menguntungkan Argentina-nya Lionel Messi saat melawan Mesir di babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Juli 9, 2026 - 10:52
Haissem, Penerus Trah Hassan di Sepak Bola Mesir
Pemain sayap tim nasional Mesir Haissem Hassan (kiri) berusaha menggiring bola melewati pengawalan dua pemain Argentina Julian Alvarez (tengah) dan Nico Tagliafico dalam pertandingan 16 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat, Selasa (7/7/2026) waktu setempat. AFP/Roberto Schmidt

JAKARTA, METROSULAWESI.NET- Lupakan dulu sejenak kontroversi tentang keberpihakan wasit dan FIFA yang begitu menguntungkan Argentina-nya Lionel Messi saat melawan Mesir di babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Sebab, sebelum kontroversi itu mewujud, ada satu sosok dari skuad Mesir yang patut mendapat sorotan lampu di panggung sepak bola Piala Dunia 2026. Ia bernama Haissem Hassan.

Hassan adalah nama belakang yang cukup identik dengan catatan emas dalam sepak bola Mesir. Entah apakah Haissem menyadari itu, mengingat ia lahir di Bagnolet, Prancis, pada 8 Februari 2002, dan tumbuh besar di sana.

Rasanya, Haissem mungkin lebih sering mendengar epos Zinedine Zidane kala memimpin Prancis menjuarai Piala Dunia 1998 atau menyaksikan langsung kiprah Kylian Mbappe muda mencuri perhatian penikmat sepak bola sejagat saat membantu Les Bleus juara Piala Dunia 2018.

Apalagi Haissem muda sempat membela tim kelompok usia Prancis, termasuk saat mereka menempati peringkat ketiga Piala Dunia U17 2019 di Brasil. Di tim kelompok usia, secara keseluruhan Haissem mengemas dua gol dalam tujuh penampilan untuk Prancis U17 dan sembilan kali main bersama Prancis U18 berbuah satu gol.

Bisa juga Haissem kecil tumbuh dengan mendengar nama legendaris Tarak Dhiab, peraih penghargaan Pemain Terbaik Afrika 1977 dari Tunisia, negara asal ibunda Heissam.

Namun, rasanya ayahanda Haissem --yang berkewarganegaraan Mesir-- punya lebih banyak stok cerita, demi menuturkan kisah para Hassan penyokong kesuksesan Pasukan Firaun di kancah sepak bola Afrika.

Jejak para Hassan

Sekali lagi nama belakang Hassan adalah sesuatu yang lekat dengan prestasi dalam tim nasional sepak bola Mesir, jauh sebelum Haissem memutuskan untuk memperkuat Pasukan Firaun per Maret 2026 lalu.

Bila menilik hal paling sederhana, statistik, tiga Hassan telah bertengger di daftar 10 pemain dengan jumlah penampilan terbanyak bagi tim nasional Mesir.

Ahmed Hassan, gelandang serang yang namanya kerap disebut-sebut sebagai salah satu pesepak bola Afrika terbaik sepanjang masa, bertengger di puncak daftar tersebut dengan 184 kali penampilan untuk Mesir dalam kurun waktu 1995–2012.

Lantas persis di bawahnya adalah Hossam Hassan yang mencatatkan 176 penampilan sepanjang 1985–2006. Kemudian saudara kembar Hossam, Ibrahim Hassan, ada di urutan kelima dengan 131 penampilan dalam rentang waktu 1988–2002.

Jejak para Hassan tak hanya berhenti di situ. Hossam, yang kini menjadi pelatih timnas Mesir, adalah pemain tersubur sepanjang masa bagi Pasukan Firaun dengan torehan 69 gol. Mantan bintang Liverpool, Mohamed Salah, membayangi di posisi kedua hanya terpaut satu gol.

Rekor Hossam mungkin akan disamai atau bahkan dilampaui Salah, jika pemain berusia 34 tahun itu tidak memutuskan pensiun dari timnas Mesir selepas Piala Dunia 2026.

Namun, nama Hossam Hassan akan tetap kekal dalam deretan pesepak bola terbaik Mesir sepanjang masa. Sebagaimana juga Ahmed yang sepanjang kariernya mencetak 33 gol untuk Mesir, menempatkannya di urutan keenam daftar prestisius tersebut.

Kontribusi para Hassan bagi Mesir bukan angka statistika semata. Hossam dan Ahmed bersama-sama memenangkan dua trofi Piala Afrika untuk Mesir pada 1998 dan 2006.

Dua trofi itu menyusul satu gelar juara Piala Afrika lain yang sudah diraih Hossam bersama Mesir pada 1986. Sedangkan Ahmed kemudian menambah dua trofi Piala Afrika lagi pada 2008 dan 2010, membuat Mesir jadi tim pertama dan satu-satunya yang menjuarai Piala Afrika tiga edisi beruntun.

Boleh jadi ekspektasi atas tuah magis nama belakang Hassan pula yang mendorong federasi sepak bola Mesir menunjuk Hossam sebagai pelatih timnas mereka dan saudara kembarnya Ibrahim selaku direktur timnas.

Hassan baru

Haissem mungkin merasa beruntung, atau justru tertekan. Sejak ia mengenakan seragam Timnas Mesir, dua saudara kembar Hassan —Hossam dan Ibrahim— selalu hadir di tepi lapangan, menjadi saksi setiap langkahnya.

Memulai karier profesional di klub kasta kedua Prancis Chateraoux dan melakoni debut senior dalam usia 16 tahun pada 2018, Haissem menuai perhatian setelah meninggalkan Villarreal pada 2024 untuk bergabung dengan kasta kedua Spanyol Real Oviedo.

Pada musim pertamanya, Haissem mencetak empat gol dan tiga assist dalam 43 pertandingan liga demi membantu Oviedo naik ke La Liga setelah finis sebagai peringkat ketiga dan memenangi playoff promosi.

Meski kontribusi golnya bersama Oviedo turun pada musim 2025/26, nama Haissem justru naik daun sebab ia kemudian dijajaki oleh Mesir dan Tunisia untuk membela tim nasional mereka, meninggalkan Prancis yang persaingannya jauh lebih ketat dan berat.

Maret 2026 Haissem memilih untuk membela Mesir dan namanya masuk dalam daftar skuad sementara pilihan Hossam menyongsong Piala Dunia 2026.

Sayang, dokumen kepindahan federasi Haissem terhambat, sehingga ia baru bisa melakoni debutnya bersama Mesir saat masuk sebagai pemain pengganti dalam laga 32 besar melawan Australia yang dimenangkan lewat adu penalti di Arlington, Texas, Amerika Serikat, Jumat (3/7) pekan lalu.

Haissem lantas mencuri perhatian dalam laga 16 besar melawan Argentina. Sayangnya, kegemilangan Haissem kemudian "dirusak" oleh deretan keputusan kontroversial wasit asal Prancis, Francois Letexier.

Pada menit ke-58, Haissem memimpin serangan balik Mesir yang berujung keberhasilan Mostafa Zico menyarangkan bola ke gawang Argentina. Haissem merebut bola dari penguasaan Lisandro Martinez sebelum melewati setidaknya tiga pemain Argentina dan menyodorkan si kulit bundar yang diteruskan kepada Salah ke arah Zico, penyelesai akhir serangan.

Sayang gol itu kemudian dianulir oleh Letexier setelah ia meninjau tayangan ulang di monitor VAR tepi lapangan, dan memvonis Haissem terlebih dulu melanggar Lisandro Martinez dalam situasi perebutan bola.

Haissem pada akhirnya tetap mencatatkan assist untuk gol Zico yang disahkan sebagai gol kedua Mesir pada menit ke-67. Namun, penampilan pemain sayap berusia 24 tahun itu terpaksa berakhir lebih cepat sebab ia ditarik keluar tiga menit kemudian selepas jeda turun minum babak kedua karena tampak mengalami sedikit cedera.

Sebagaimana nasib Mesir yang berakhir tragis di tangan sederet keputusan wasit yang seolah-olah membuka jalan bagi Argentina untuk membalikkan keadaan, kiprah Haissem di turnamen ini pun harus terhenti.

Namun, kepulangan lebih awal tidak menghapus kesan positif tentang Haissem. Penampilannya melawan La Albiceleste memperkuat argumen bahwa Haissem layak menjadi penerus Mohamed Salah di sayap kanan, terutama ketika Pemain Terbaik Afrika 2017 dan 2018 itu memutuskan gantung sepatu dari timnas.

Haissem masih punya masa depan panjang dan perkembangan karier anggota baru trah Hassan di timnas Mesir ini adalah salah satu narasi yang menarik untuk diikuti. (ant)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow