Merajut Ukhuwah di Bulan Muharram: Menemukan Titik Temu Spiritual antara Musa, Husain, dan Persatuan Umat

Oleh: Mohsen Hasan, Koordinator Budaya,Sosial dan Agama,Isu Global Dewan Pakar DPP NasDem

Jun 23, 2026 - 18:07
Merajut Ukhuwah di Bulan Muharram: Menemukan Titik Temu Spiritual antara Musa, Husain, dan Persatuan Umat

​BULAN Muharram selalu hadir membawa getaran spiritual yang mendalam bagi jagat raya. Namun, di tengah kumandang selawat dan zikir, bulan suci ini tak jarang menyisakan riak-riak ketegangan sosiologis antara dua mazhab besar Islam: Sunni dan Syiah. Perbedaan rekonstruksi sejarah dan fikih seputar hari Tasu’a dan Asyura (9 dan 10 Muharram) kerap kali meruncing menjadi sekat pemisah.

​Padahal, jika kita menyelami samudra maknanya lebih dalam, Muharram menyimpan energi unifikasi (persatuan) yang luar biasa. Muharram bukanlah panggung untuk mempertajam polarisasi, melainkan sebuah madrasah agung untuk merajut tiga narasi besar: kewajiban menjaga persatuan umat, heroisme Nabi Musa AS melawan tirani Firaun, dan pengorbanan suci Imam Husain bin Ali di Padang Karbala.

​Bagaimanakah teks-teks suci al-Qur'an dan khazanah hadis dari kedua mazhab menuntun kita untuk menemukan titik temu spiritual ini?

​ Narasi Pertama: Fondasi Teologis Persatuan Umat (Ukhuwah Islamiyah)

Sebelum melangkah pada wilayah historis, al-Qur'an secara tegas telah meletakkan batu pertama bagi bangunan persaudaraan Islam. Perbedaan mazhab, dalam pandangan teologis yang sehat, adalah wilayah ijtihad ragawi yang tidak boleh merusak esensi ruhani satu akidah.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali 'Imran [3]: 103:

​وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

​"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara."

​Ayat ini mengunci satu kesadaran: persatuan bukanlah sebuah pilihan politik, melainkan perintah syariat. Menjelang Muharram, ayat ini universal memanggil baik kaum Sunni maupun Syiah untuk menurunkan ego sektarian dan mengingat kembali nikmat terbesar, yaitu persaudaraan di bawah panji Islam.

Narasi Kedua: Melacak Jejak Syukur Nabi Musa AS

Bagi garis tradisi Sunni, hari Asyura adalah momentum emas retrospeksi atas kemenangan kebenaran terhadap kezaliman purba. Hari di mana Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun.

​Dalam Tradisi Sunni (Sahih al-Bukhari), narasi ini diabadikan secara autentik melalui riwayat Ibnu Abbas RA:

​عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ، فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ، فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ. فَقَالَ: «أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ» فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ .

​Dari Ibnu Abbas RA, sesampainya Nabi SAW di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka berkata: 'Ini adalah hari yang agung, hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun, maka Musa berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah.' Maka Nabi bersabda: 'Aku lebih berhak terhadap Musa daripada mereka.' Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa."

​Menariknya, nilai historis keselamatan Nabi Musa ini tidak ditolak oleh tradisi Syiah. Dalam kitab rujukan utama fikih Syiah, Wasa'il al-Syiah karya Al-Hurr al-Amili, ditemukan riwayat dari Imam Ja'far al-Sadiq (Imam ke-6 Syiah) melalui jalur Imam Ali bin Abi Thalib WS:

 ​عَنْ جَعْفَرٍ، عَنْ أَبِيهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ: صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ .

​Dari Ja'far, dari ayahnya (Imam al-Baqir) AS, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi pernah melakukan puasa pada hari Asyura."

Meskipun mazhab Syiah di masa kemudian memandang makruh puasa penuh pada hari tersebut demi menghindari keserupaan dengan perayaan Bani Umayyah, pengakuan terhadap kesucian historis awal hari Asyura menunjukkan adanya akar teks yang beririsan. Kedua mazhab sepakat bahwa Asyura memuat memori tentang runtuhnya keangkuhan sebuah tirani.

 Narasi Ketiga: Karbala dan Spiritualitas Pengorbanan Imam Husain

​Jika Sunni memandang Asyura dengan kacamata kemenangan Musa, maka Syiah menguncinya pada tragedi kemanusiaan terbesar di Karbala tahun 61 Hijriah: kesyahidan Imam Husain AS. Namun, benarkah narasi Husain hanya milik Syiah? Di sinilah titik temu itu kembali bersinar.

Seluruh umat Islam, tanpa memandang sekat mazhab, sepakat bahwa mencintai Imam Husain adalah bagian dari manifestasi mencintai Rasulullah SAW.

Dalam Khazanah Sunni (Sunan al-Tirmidzi), kedudukan spiritual Imam Husain digambarkan dengan sangat mesra oleh Rasulullah SAW:

​حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ، أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا، حُسَيْنٌ سِبْطٌ مِنَ الْأَسْبَاطِ

​"Husain adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari Husain. Allah mencintai orang yang mencintai Husain. Husain adalah salah seorang cucu dari beberapa cucuku."

Sedangkan dalam Khazanah Syiah (Al-Kafi), narasi pengorbanan Imam Husain diletakkan sebagai simbol perjuangan menegakkan keadilan yang mutlak, sebagaimana wasiat beliau saat berangkat menuju Karbala:

​إِنِّي لَمْ أَخْرُجْ أَشِراً وَلاَ بَطِراً وَلاَ مُفْسِداً وَلاَ ظَالِماً، وَإِنَّمَا خَرَجْتُ لِطَلَبِ الإِصْلاحِ فِي أُمَّةِ جَدِّي

​"Sesungguhnya aku tidak keluar untuk berbuat keburukan, kesombongan, kerusakan, ataupun kezaliman. Aku keluar semata-mata untuk mencari perbaikan (islah) pada umat kakekku (Rasulullah)."

Narasi moral dari Karbala melampaui batas-batas ritus fisik (latmiyah atau memukul dada). Husain adalah milik Sunni yang mengagumi keteguhannya memegang prinsip, dan Husain adalah napas bagi Syiah yang merawat ingatan atas duka keluarganya. Ketika figur Husain ditarik ke ruang universal, Tragedi Karbala menjelma menjadi simbol perlawanan global terhadap korupsi kekuasaan dan penindasan kemanusiaan.

Epilog: Jembatan Dialog di Hari Esok

​Mempertemukan Sunni dan Syiah pada momen Tasu’a dan Asyura tidak menuntut keduanya untuk meleburkan identitas fikih mereka. Biarlah saudara-saudara Sunni menjalankan puasa Asyura-nya dengan kekhusyukan syukur, dan biarlah saudara-saudara Syiah merenungkan duka Karbala dengan imsak dan majelis ilmunya.

Titik temunya ada pada etika forum dan kesamaan substansi moral. Ketika kaum Syiah berkomitmen menjaga kehormatan para sahabat Nabi yang dicintai Sunni, dan kaum Sunni membuka hati untuk ikut merasakan kepedihan atas terbantainya Ahlul Bait Nabi di Karbala, maka Muharram tidak akan lagi menjadi musim menuai konflik.

Musa mendidik kita tentang harapan akan datangnya pertolongan Allah dari cengkeraman kezaliman. Husain mengajarkan kita tentang harga sebuah martabat iman yang tak boleh tunduk pada kehinaan. Dan Al-Qur'an membingkai keduanya dalam satu rumah besar bernama: Ukhuwah Islamiyah.

Semoga negeri kita senantiasa dianugerahi suasana yang aman, tenang, sejahtera, dan makmur, di bawah naungan umat yang saling memahami, bukan saling menghakimi. Wallahu a’lam bish-shawabi. (*)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow