DARI RUANG KELAS MENUJU DAMPAK NYATA
“Transformasi Pembelajaran Mendalam Berbasis Data dan Artificial Intelligence untuk Mewujudkan Generasi Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur”
Gesti Sri A’yuning S.Pd, TK Negeri Banawa Gunung Bale, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
Perubahan dalam pendidikan sering kali dikaitkan dengan hadirnya teknologi baru. Namun, berdasarkan pengalaman saya sebagai guru di TK Negeri Banawa Gunung Bale bahwa perubahan sesungguhnya berawal dari keberanian guru untuk merefleksikan praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan. Tekhnologi dapat membantu guru, tetapi transformasi pembelajaran dimulai ketika guru mampu dalam mengambil keputusan berdasarkan data sebagai dasar untuk memahami kebutuhan belajar murid.
Pandangan tersebut selaras dengan kebijakan Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah yang menempatkan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) sebagai pendekatan pembelajaran yang menghadirkan pengalaman belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) (Kemendikdasmen 2025).
Pada Pendidikan anak usia dini, pendekatan ini memperkuat hakikat belajar melalui bermain yang memberikan kesempatan kepada murid untuk membangun pengetahuan, karakter, serta mengasah kemampuan berpikir sesuai dengan tahap perkembangannya (Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022).
Ketika mulai menerapkan pendekatan tersebut, saya menyadari bahwa tantangan utama bukan pada keterbatasan di sekolah, melainkan bagaimana menjaga keseimbangan antara tanggung jawab profesional guru dan kehadiran yang utuh bagi murid. Menyusun modul ajar, asesmen, menyiapkan media pembelajaran, hingga melengkapi berbagai administrasi merupakan bagian dari tugas yang tidak dapat diabaikan.
Di sisi lain, saya juga ingin memiliki waktu yang cukup untuk mengamati perkembangan murid, memberikan pendampingan, dan membangun interaksi belajar yang bermakna. Kondisi inilah yang mendorong saya mencari cara agar kualitas pembelajaran tetap meningkat tanpa mengurangi perhatian kepada murid.
Perubahan cara berpikir tersebut semakin menguat ketika sekolah melakukan analisis Rapor Pendidikan melalui Perencanaan Berbasis Data (PBD) bersama Kelompok Kerja Guru internal sekolah. Berdasarkan analisis ini kami menemukan bahwa indikator Perencanaan untuk Proses Pembelajaran yang Efektif, Kualitas Perencanaan dan Pengaturan Lingkungan Belajar masih perlu penguatan. Data tersebut bukan hanya sekedar angka dalam laporan, tetapi sebagai cerminan praktik pembelajaran yang perlu di perbaiki.
Diskusi bersama rekan guru membuka ruang refleksi, melalui wadah ini kami berbagi pengalaman mengenai tantangan dalam menyusun perangkat ajar, merancang asesmen, memilih media yang sesuai, hingga menciptakan lingkungan belajar yang berpihak kepada murid.
Kepala sekolah senantiasa memberikan dukungan dan dorongan penggunaan data sebagai dasar dalam mengambil keputusan serta membangun budaya refleksi dalam setiap proses perencanaan pembelajaran. Dari proses inilah saya memahami bahwa peningkatan mutu pembelajaran bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan hasil kolaborasi seluruh warga sekolah.
Pengalaman tersebut merubah cara pandang saya, bahwa perangkat pembelajaran merupakan dokumen yang harus diselesaikan sebelum mengajar. Kini saya melihat sebagai proses pedagogis yang menentukan kualitas pengalaman belajar murid. Setiap modul ajar saya susun berdasarkan capaian pembelajaran, hasil asesmen awal, karakteristik perkembangan anak, indikator kertercapaian tujuan pembelajaran, serta konteks lingkungan tempat mereka tumbuh.
Refleksi tersebut membawa saya pada pemahaman baru tentang pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). AI bukan hanya sebagai tujuan atau sekedar tren teknologi, melainkan sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan efisiensi kerja guru.
Waktu yang sebelumnya banyak digunakan untuk menyusun perangkat pembelajaran mulai dapat dialihkan untuk merancang pengalaman belajar, mengamati perkembangan murid, memberikan umpan balik, dan membangun komunikasi yang lebih intensif dengan orang tua. Bagi saya teknologi tidak menggantikan peran guru, melainkan memberi ruang agar guru dapat lebih banyak hadir dalam proses belajar murid.
Berdasarkan pengalaman inilah saya mulai mengembangkan praktik pembelajaran yang mengintegrasikan Perencanaan Berbasis Data, refleksi melalui Kelompok Kerja Guru, dukungan kepala sekolah, serta pemanfaatan Artificial Intelligence ke dalam pembelajan mendalam.
Keseluruhan proses ini saya wujudkan melalui kegiatan bermain yang kontekstual, pemanfaatan teknologi secara bermakna, dan integrasi kearifan lokal pesisir Donggala sehingga pembelajaran bukan hanya sebatas menyenangkan tetapi memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi murid.
Dari Data Menuju Praktik Pembelajaran yang Bermakna
Refleksi melalui Perencanaan Berbasis Data mendorong agar dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna tanpa menghabiskan sebagian besar waktu untuk menyelesaikan administrasi, asesmen, media pembelajaran, dan berbagai dokumen pembelajaran lainnya.
AI saya gunakan sebagai penyusun rancangan awal, sedangkan seluruh hasilnya tetap saya telaah, validasi, dan sesuaikan dengan capaian pembelajaran, indikator ketercapaian pembelajaran, karakteristik murid, serta konteks lingkungan TK Negeri Banawa Gunung Bale.
Dengan demikian, AI membantu meningkatkan efisiensi kerja guru, sementara keputusan pedagogis tetap menjadi tanggung jawab saya. Efisiensi tersebut memberikan lebih banyak waktu untuk mengamati perkembangan murid.
Pembahasan
Menghadirkan Pembelajaran Mendalam Melalui Bermain, Teknologi, dan Kearifan Lokal. Perubahan pada tahap perencanaan saya implementasikan dalam praktik pembelajaran di kelas. Sebagai guru Pendidikan anak usia diani, saya meyakini bahwa pembelajaran yang bermakna lahir dari pengalaman belajar yang dialami langsung oleh murid. Oleh karena itu, setiap kegiatan pembelajaran diirancang berdasarkan prinsip belajar melalui bermain dengan memberikan kesempatan kepada murid untuk mengeksplorasi, bertanya, mencoba, berdiskusi, dan menemukan pengetahuan melalui pengalaman nyata.
Lingkungan pesisir Donggala menjadi titik awal pembelajaran karena dekat dengan kehidupan murid. Sebagai besar orang tua berprofesi sebagai nelayan dan pedagang hasil laut. Pendekatan kontekstual ini membantu murid menghubungkan konsep yang dipelajari dengan pengalaman sehari – hari.
Berdasarkan konteks tersebut, saya mengembangkan RONCIDA (Robot Nelayan Cilik Donggala) sebagai inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal yang mengintegrasikan bermain, literasi, numerasi, STEAM, dan berpikir komputasional. Melalui berbagai tantangan dalam permainan, murid belajar menyusun urutan langkah, mengenali pola, memecahkan masalah, mengambil keputusan, serta bekerja sama. Pada saat yang sama, mereka juga mengembangkan karakter disiplin, tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemampuan berkolaborasi.
Gambar 1. Alur Tranformasi Pembelajaran di TK Negeri Banawa Gunung Bale
Untuk memperkaya pengalaman belajar, saya memanfaatkan Animated Drawing, Virtual Reality, dan Papan Interaktif Digital. Media tersebut membantu murid memahami konsep yang sulit diamati secara langsung, mengidupkan hasil karya mereka serta meningkatkan keterlibatan dalam aktivitas belajar yang interaktif dan menyenangkan.
Penggunaan teknologi selalu dipadukan dengan kegiatan bermain dan refleksi sehingga mendukung tujuan pembelajaran. Dengan pendekatan ini, teknologi berfungsi untuk memperkaya pengalaman belajar, sementara interaksi antara guru dan murid tetap menjadi inti dari proses pembelajaran. Ketika data, teknologi dan kearifan lokal dipadukan secara tepat, ruang kelas tidak hanya menjadi tempat murid memperoleh pengetahuan tetapi juga mengembangkan karakter, kompetensi, serta kemampuan berpikir melalui pengalaman belajar yang bermakna.
Dampak Nyata: Dari Transformasi Praktik Guru Menuju Peningkatan Kualitas Pembelajaran
Transformasi pembelajaran yang saya lakukan membawa perubahan terhadap peran sebagai guru. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) membantu meningkatkan efisiensi penyusunan perangkat pembelajaran. Perubahan tersebut mulai terlihat dalam proses belajar di kelas.
Murid menjadi lebih percaya diri menyampaikan pendapat, aktif bertanya, mampu bekerja sama, serta lebih berani mencoba berbagai strategi dalam menyelesaikan tantangan belajar. Melalui RONCIDA, murid belajar mengenali pola, memecahkan masalah, dan memperbaiki kesalahan melalui proses mencoba.
Dukungan Animated Drawing, Virtual Reality, dan Papan Interaktif Digital semakin memperkaya pengalaman belajar sehingga konsep yang dipelajari menjadi lebih konkret, menarik, dan mudah dipahami.
Transformasi ini mendorong perubahan budaya belajar di sekolah. Diskusi dalam kelompok kerja guru semakin memperkuat budaya refleksi dan kolaborasi. Sedangkan Perencanaan Berbasis Data menjadi landasan dalam menyusun program peningkatan mutu pembelajaran. Guru tidak lagi berfokus pada penyelesaian administrasi, tetapi semakin terdorong untuk merancang pembelajaran berdasarkan kebutuhan nyata murid.
Perubahan praktik tersebut diperkuat oleh Rapor Pendidikan Tahun 2025. Indikator Perencanaan untuk Proses Pembelajaran yang Efektif meningkat dari 66,45 menjadi 83,47, indikator Kualitas Perencanaan meningkat dari 59,61 menjadi 92,50, sedangkan Pengaturan Lingkungan Belajar meningkat dari 83,92 menjadi 88,19.
Selain itu indikator proses belajar yang sesuai bagi Anak Usia Dini mencapai 88,64, didukung oleh peningkatan pada indikator Pendekatan Bermain 86,73, Ekspektasi Pendidik 99,96, serta Perhatian dan Dukungan Pendidik 83,64. Data tersebut menunjukkan bahwa transformasi tidak hanya meningkatkan kualitas perencanaan, tetapi juga praktik pembelajaran dan lingkungan belajar yang semakin berpihak kepada murid.
Dampa k positif juga dirasakan oleh orang tua, mereka semakin memahami bahwa bermain merupakan proses belajar yang bermakna bagi anak usia dini dan lebih aktif mendukung berbagai kegiatan pembelajaran di sekolah. Kolaborasi yang semakin erat antara sekolah dan keluarga menjadi salah satu faktor yang memperkuat tumbuh kembang murid secara optimal.
Secara keseluruhan, pengalaman ini menunjukkan bahwa transformasi pembelajaran lahir dari keberanian guru memanfaatkan data sebagai dasar refleksi, mengembangkan kompetensi profesional, serta memanfaatkan teknologi secara bijaksana untuk menghadirkan pembelajaran yang berpihak kepada murid.
Refleksi Guru: Transformasi Dimulai dari Keberanian untuk Terus Belajar
Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa transformasi pendidikan tidak diawali oleh hadirnya teknologi baru, tetapi oleh keberanian guur untuk terus belajar, berefleksi, dan memperbaiki praktik pembelajaran berdasarkan kebutuhan belajar murid. Data menjadi pijakan dalam mengambil keputusan, sementara teknologi berperan sebagai alat yang memperkuat proses belajar tanpa mengurangi esensi hubungan antara guru dan murid.
Pengalaman menerapkan pembelajaran mendalam semakin menguatkan keyakinan saya bahwa kualitas pembelajaran dibangun melalui perpaduan antara refleksi, data, teknologi yang bijaksana, serta penguatan nilai - nilai kearifan lokal. Ketika keempat unsur tersebut saling melengkapi, ruang kelas berkembang menjadi lingkungan belajar yang mendorong murid bukan hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun karakter, mengembangkan kompetensi, dan menumbuhkan kemampuan berpikir.
Saya percaya bahwa setiap guru, dimanapun ia mengajar memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi agen perubahan. Tidak harus menunggu sekolah dengan fasilitas lengkap, tidak harus menunggu program besar, dan tidak harus menunggu menjadi ahli teknologi. Perubahan justru lahir dari keberanian mencoba satu langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Tranformasi pendidikan yang sesungguhnya tidak diukur dari banyaknya aplikasi yang digunakan, melainkan dari banyaknya murid yang merasa dihargai, didengar, diberi kesempatan, dan memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.
Sebab masa depan Pendidikan tidak sedang menunggu lahirnya guru yang sempurna, melainkan guru yang terus bertumbuh. Guru yang berani mencoba meski belum sempurna, guru yang tidak lelah belajar meski telah lama mengajar, dan guru yangmenjadikan setiap refleksi sebagai awal lahirnya perubahan.
Dari ruang kecil harapan itulah akan lahir Generasi Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur. Tranformasi Pendidikan terbesar selalu dimulai dari satu guru yang memilih untuk terus belajar, satu ruang kelas yang dipenuhi keberanian untuk berubah, dan satu langkah kecil yang dilakukan secara konsisten demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
Daftar Pustaka
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam (Deep Learning): Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua. Jakarta: Kemendikdasmen.
Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025) Panduan Implementasi Pembelajaran Mendalam. Jakarta: Kemendikdasmen.
Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). Rapor Pendidikan TK Negeri Banawa Gunung Bale Tahun 2025. Platform Rapor Pendidikan.
Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2022). Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nomor 16 Tahun 2022 tentang Standar Proses pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar dan Jenjang Pendidikan Menengah.
UNESCO. (2023). Guidance For Generative AI in Education and Research. Paris:UNESCO
Dokumentasi
Kelompok Kerja Guru Internal Sekolah dalam menganalisis Rapor Pendidikan
Implementasi RONCIDA
Murid Belajar Dengan Virtual Reality
Murid Belajar dengan Animated Drawing
Apa Reaksimu?

