Menuju Universitas Kelas Dunia Berbasis Keunggulan Wilayah

Oleh Prof Ali Saukah *)

Agustus 31, 2026 - 06:12
Menuju Universitas Kelas Dunia Berbasis Keunggulan Wilayah

BANYAK perguruan tinggi Indonesia ingin menjadi universitas kelas dunia melalui publikasi internasional, kerja sama global, mobilitas akademik, dan pemeringkatan. Semua itu penting, tetapi pertanyaan mendasarnya adalah: untuk apa, dan melalui strategi apa?

Universitas kelas dunia tidak seharusnya sekadar meniru universitas ternama. Jika semua mengejar indikator yang sama, dunia akan kehilangan kekayaan intelektual dari keunikan tiap wilayah.

Oleh karena itu, pertanyaan yang lebih tepat adalah: "Apa yang dapat kami kontribusikan kepada dunia karena kami berada di wilayah ini?" Di sinilah keunggulan wilayah menjadi modal strategis.

Lokal menuju global

Setiap wilayah memiliki persoalan, sumber daya, budaya, dan peluang yang berbeda. Kekhasan ini bukan keterbatasan, melainkan sumber keunggulan akademik yang relevan secara global.

Berbagai isu, seperti hutan tropis, perubahan iklim, keanekaragaman hayati, kemaritiman, pangan, kesehatan, pendidikan daerah terpencil, dan transformasi digital, memiliki dimensi lokal, sekaligus global. Universitas di wilayah tersebut memiliki keunggulan untuk memahaminya dari sumbernya.

Oleh karena itu, universitas perlu membangun signature research areas: bidang riset unggulan yang berangkat dari kekhasan wilayah dan menghasilkan pengetahuan serta solusi yang diakui dunia. Prinsipnya bukan lokal versus global, melainkan local to global.

Universitas tidak harus unggul dalam semua bidang. Pilihlah bidang yang berakar pada keunggulan atau persoalan wilayah, memiliki nilai ilmiah dan relevansi global, dan didukung kapasitas akademik yang dapat dikembangkan berkelanjutan.

Pilihan tersebut perlu diperkuat melalui dosen, kelompok riset, laboratorium, program studi, mahasiswa pascasarjana, publikasi, pendanaan, jejaring internasional, serta kerja sama dengan pemerintah, industri, masyarakat, dan lembaga internasional. Reputasi global bukan proyek pencitraan, melainkan hasil akumulasi keunggulan akademik yang konsisten.

Riset dan pendidikan

Riset dan pendidikan harus menjadi dua penggerak utama yang saling memperkuat. Universitas perlu menetapkan pertanyaan besar yang penting bagi wilayah, sekaligus relevan bagi dunia.

Universitas di Kalimantan, misalnya, dapat berfokus pada hutan tropis, keanekaragaman hayati, energi, atau pembangunan wilayah. Universitas pesisir dapat mengembangkan kemaritiman, ekosistem laut, ketahanan masyarakat pesisir, atau ekonomi biru.

Universitas di kawasan industri dapat memilih transformasi industri, teknologi, energi, atau sumber daya manusia. Bidang lain tetap diperlukan untuk pendidikan, tetapi tidak semuanya harus menjadi penggerak reputasi global.

Fokus memungkinkan sumber daya terbatas menghasilkan karya yang menonjol. Keunggulan juga dapat dibangun melalui pendidikan: pendekatan pedagogis yang konsisten, pembelajaran berbasis persoalan nyata, integrasi riset, pendidikan lintas disiplin, pembelajaran berbasis masyarakat, serta penguatan karakter dan kepemimpinan. Universitas dapat dikenal dunia bukan hanya karena penelitiannya, tetapi juga karena cara mendidik manusia.

Reputasi karya

Pemeringkatan dapat menjadi alat ukur, tetapi bukan tujuan utama. Reputasi tumbuh ketika karya universitas dibaca, digunakan, dikutip, diterapkan, dan dipercaya.

Oleh karena itu, keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah publikasi. Hal yang lebih penting adalah kualitas penelitian, kontribusi terhadap ilmu, pengaruh terhadap kebijakan, pemanfaatan oleh masyarakat dan industri, mutu pengalaman belajar, kualitas lulusan, serta jejaring internasional. Universitas perlu beralih dari publish more menuju contribute more, dan dari teaching more menuju educating better.

Pendidikan sebagai identitas

Mahasiswa perlu belajar melalui persoalan nyata, riset, proyek, pemecahan masalah, kolaborasi lintas disiplin, praktik profesional, dan keterlibatan masyarakat. Keunggulan pendidikan dibangun melalui kurikulum relevan, dosen yang kompeten secara pedagogis, asesmen yang mendorong pemikiran mendalam, teknologi yang bermakna, dan budaya akademik yang menempatkan mahasiswa sebagai pembelajar aktif.

Universitas dapat memiliki signature sebagai tempat terbaik untuk mendidik pemimpin masyarakat pesisir, ilmuwan lingkungan tropis, profesional kesehatan berbasis komunitas, atau pendidik daerah terpencil.

Identitas itu dibuktikan melalui pengalaman belajar dan hasil pendidikan, bukan slogan. Dengan demikian, universitas menghasilkan lulusan yang mampu bersaing, sekaligus memahami persoalan wilayah dan berkontribusi secara global.

Universitas tidak perlu menjauh dari persoalan lokal agar menjadi internasional. Justru, universitas dapat dikenal dunia karena memiliki sesuatu yang bernilai untuk dibawa ke dunia.

Internasionalisasi bukan sekadar mendatangkan mahasiswa asing, menandatangani banyak kontrak kerja sama atau mengirim dosen ke luar negeri. Internasionalisasi yang substantif terjadi ketika akademisi dari berbagai negara bekerja sama menjawab persoalan penting.

Universitas di Indonesia tidak harus menjadi universitas asing di Indonesia. Ia harus menjadi universitas Indonesia yang unggul dalam bidang tertentu, sehingga dunia membutuhkan pengetahuan dan pengalaman pendidikannya.

Jalan berbeda

Tidak perlu ada satu cetak biru bagi seluruh universitas di Indonesia. Universitas pertanian dapat menjadi pusat pengetahuan pertanian tropis. Universitas kepulauan dapat menjadi rujukan ilmu kelautan. Universitas di kawasan budaya dapat mengembangkan kajian kebudayaan. Universitas yang kuat dalam pendidikan dapat menjadi rujukan inovasi pendidikan. Keunggulan global dapat tumbuh dari keunikan lokal, melalui penelitian maupun cara mendidik manusia.

Strateginya ialah mengenali kekhasan wilayah, memilih bidang unggulan, merumuskan signature research dan signature education, membangun kapasitas, menghasilkan pengetahuan dan lulusan berkualitas, memecahkan persoalan nyata, membangun jejaring internasional, dan melaksanakannya secara konsisten.

Universitas kelas dunia bukan terutama universitas yang berada di peringkat global, melainkan universitas yang memiliki karya, pendidikan, dan lulusan yang dibutuhkan dunia. Indonesia tidak memerlukan banyak "Harvard versi Indonesia". Indonesia memerlukan universitas yang menemukan keunikannya, mengembangkannya menjadi kekuatan akademik, dan membawanya ke panggung dunia.

Perjalanan menuju reputasi global bukan perlombaan untuk menjadi serupa, melainkan gerakan untuk menjadi unggul karena berbeda. (ant)

*) Prof Ali Saukah, Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow