Saat Sedekah Mampu Menghidupkan Harapan yang Telah Mati

Oleh:  Mohsen Hasan

Agustus 24, 2026 - 17:01
Saat Sedekah Mampu Menghidupkan Harapan yang Telah Mati

KISAH ini dinukil oleh penulis dari majalah berbahasa Arab negara Kuwait dan beliau seorang penggerak asosiasi kemanusiaan filantropi terkenal khususnya di daerah Afrika pendiri yayasan "Al Aun".

 Pendakwah Sayid Dr. Abdul Rahman Hamood Al-Sumait ( bin smeit )  rahimahullah bercerita:  ​Suatu hari aku sedang berdiri, lalu aku mendengar tangisan, ratapan, dan permohonan seorang wanita Afrika kepada salah satu dokter yang bertugas membantu dan merawat anak-anak kecil di misi kami di Afrika.

​Jujur, aku tersentuh oleh kegigihan dan keteguhannya dalam memperjuangkan keinginannya, maka aku pun berbicara dengan sang dokter. Dokter itu berkata kepadaku:

"Bayinya ini secara medis sudah dianggap mati dan tidak akan sadar. Dia ingin aku memasukkan bayinya ke dalam daftar anak-anak yang akan kita rawat! Uang yang akan kita keluarkan untuk anaknya tidak ada gunanya. Dia adalah anak yang hanya akan bertahan hidup beberapa hari saja, dan uang itu lebih berhak diberikan kepada orang lain..."

​Dr. Al-Sumait berkata: Ibu tersebut memandangku saat dokter menceritakan hal itu dengan tatapan memohon dan penuh harapan. Aku pun berkata kepada penerjemah:

"Tanyakan padanya, berapa banyak uang yang dia butuhkan setiap hari?" Penerjemah memberitahuku jumlahnya, dan aku mendapatinya sangat sedikit, setara dengan harga sebuah minuman bersoda di negaraku!

​Maka aku berkata: "Tidak masalah, aku akan membayarnya dari uang pribadiku," dan aku menenangkan ibu itu. Wanita itu pun hendak mencium tanganku, tetapi aku melarangnya.

Aku berkata kepadanya: "Ambillah ini, ini biaya hidup untuk anakmu selama satu tahun penuh. Dan jika uangnya habis aku menunjuk ke salah satu asistenku dia akan memberimu apa yang kamu butuhkan."

 Aku pun menandatangani cek agar dia bisa mencairkan jumlah uang yang telah disepakati.

 

​Bulan dan tahun berganti dan jujur, aku sendiri sebenarnya menganggap anak itu sudah meninggal, apa yang aku lakukan saat itu hanya untuk menenangkan hati sang ibu yang malang dan membahagiakannya, terlebih lagi dia baru saja masuk Islam—dan aku telah melupakan seluruh kejadian itu!

​Setelah lebih dari 12 tahun, ketika aku berada di pusat misi, salah satu staf mendatangi dan berkata:  "Ada seorang wanita Afrika yang bersikeras ingin bertemu denganmu, dia sudah datang beberapa kali."

Aku berkata padanya:  "Suruh dia masuk!"

Masuklah seorang wanita yang tidak aku kenal bersama seorang anak laki-laki berwajah tampan dan tenang. Wanita itu berkata kepadaku:

"Ini anakku, Abdul Rahman. Dia telah menyelesaikan hafalan Al-Qur'an dan banyak hadis Rasulullah saw, dan dia berharap bisa menjadi seorang pendakwah Islam bersama kalian...!"

​Aku terheran-heran dan berkata kepadanya: "Mengapa engkau bersikeras meminta hal ini dariku?!"

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Lalu aku menatap anak yang tenang itu, dan aku mendapatinya berbicara bahasa Arab dengan tenang.

Dia berkata kepadaku: "Jikalau bukan karena Islam dan kasih sayangnya, aku tidak akan hidup dan berdiri di hadapanmu saat ini. Ibuku telah menceritakan kisahmu bersamanya, dan bagaimana engkau menafkahiku sepanjang masa kecilku. Aku ingin berada di bawah bimbinganmu. Aku menguasai bahasa Afrika dan mengenalnya dengan sangat baik. Aku ingin bekerja bersama kalian sebagai pendakwah Islam, dan aku tidak membutuhkan apa pun kecuali sekadar makanan. Aku juga ingin engkau mendengarkan bacaan Al-Qur'anku..."

​Anak itu mulai membaca ayat-ayat dari Surah Al-Baqarah dengan suara yang sangat merdu, sementara kedua matanya yang indah menatapku, memohon agar aku menyetujuinya.

Seketika itu aku teringat dan berkata kepada ibunya:  "Apakah ini anak yang dulu ditolak untuk dimasukkan ke dalam perawatan?"

Ibunya menjawab: "Ya, benar!"

Anak itu menimpali: "Karena itulah ibuku bersikeras membawaku kepadamu, bahkan menamaiku dengan namamu, Abdul Rahman..."

​Dr. Al-Sumait berkata: Kakiku tidak mampu lagi menopang tubuhku. Aku tersungkur ke tanah dalam keadaan hampir lumpuh karena besarnya rasa bahagia dan terkejut. Aku bersujud syukur kepada Allah sambil menangis dan berkata:  "Harga sebuah minuman bersoda dapat menghidupkan satu jiwa, dan mengaruniai kita seorang pendakwah yang kita butuhkan?!"

​Anak ini kelak menjadi salah satu pendakwah paling terkenal di antara suku-suku di Afrika dan sangat diterima oleh masyarakat.

​Betapa banyak sedekah yang sedikit mampu mengubah kehidupan banyak orang dan membuat mereka bahagia, dan betapa banyak harta yang kita keluarkan secara sia-sia tanpa tujuan justru menjadi bencana bagi kita dan umat kita...

​Berselawatlah kepada Nabi Muhammad saw jika engkau telah selesai membaca. (*)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow