Hilirisasi Sulteng: Besar Investasi, Besar Pula Serapan Tenaga Kerja Lokal?

Oleh: Akhsan Intje Makkah*

Agustus 15, 2026 - 15:19
Hilirisasi Sulteng: Besar Investasi, Besar Pula Serapan Tenaga Kerja Lokal?
Akhsan Intje Makkah

Hilirisasi dan industrialisasi menjadi salah satu prioritas penting pemerintah dalam RAPBN 2027 yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI, Jumat, 14 Agustus 2026. Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri, memperkuat struktur industri, menciptakan lapangan kerja dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kebijakan itu sangat relevan dengan Sulawesi Tengah. Daerah ini telah menjadi salah satu pusat hilirisasi nasional, terutama industri berbasis nikel.

Data pemerintah menunjukkan, pada triwulan I 2026, realisasi investasi hilirisasi di Sulawesi Tengah mencapai sekitar Rp24,1 triliun, tertinggi di Indonesia. Besarnya investasi tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, di balik angka yang besar itu, terdapat pertanyaan mendasar: seberapa besar manfaat investasi tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat Sulawesi Tengah?

Pengamat Kebijakan Publik Drs. Taufik Yoto Kembal, MM mempertanyakan terutama kontribusi investasi hilirisasi terhadap angkatan kerja lokal Sulteng.

Menurutnya, investasi yang besar idealnya tidak hanya terlihat dalam angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak nyata melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.

“Kalau investasi hilirisasi begitu besar masuk ke Sulawesi Tengah, tentu kita berharap dampaknya juga besar terhadap masyarakat Sulteng. Salah satu indikator paling nyata adalah penyerapan tenaga kerja lokal,” demikian pokok pandangan Drs. Taufik Yoto Kembal, MM.

Karena itu, ia mempertanyakan bagaimana sebenarnya komposisi tenaga kerja pada industri hilirisasi di Sulteng, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Berapa banyak tenaga kerja yang berasal dari Sulawesi Tengah dan berapa yang berasal dari luar daerah? Pada posisi apa tenaga kerja lokal ditempatkan? Apakah sebagian besar hanya mengisi pekerjaan operasional, atau sudah banyak yang menduduki posisi teknis, profesional, supervisor dan manajerial?

Pertanyaan tersebut penting karena keberhasilan hilirisasi tidak semestinya hanya diukur dari besarnya investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Jangan Berhenti pada Angka Investasi

Sulteng memang mencatat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pada triwulan I 2026, ekonomi Sulteng tumbuh 8,32 persen, sementara industri pengolahan tumbuh 15,09 persen.

Angka tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh industri pengolahan terhadap perekonomian daerah. Namun, pertumbuhan ekonomi harus diterjemahkan menjadi manfaat yang dirasakan masyarakat. Masyarakat tentu ingin mengetahui apakah investasi puluhan triliun rupiah tersebut benar-benar membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan dan menciptakan peluang bagi anak-anak muda Sulteng.

Di sinilah pentingnya pemerintah membuka data tenaga kerja industri hilirisasi secara transparan. Bukan hanya jumlah keseluruhan tenaga kerja, tetapi juga asal daerah, tingkat pendidikan, keahlian, jenjang jabatan dan tingkat pendapatan.

Dengan data itu, publik dapat menilai apakah besarnya investasi telah sebanding dengan manfaat yang diterima masyarakat lokal.

Kualitas SDM Lokal

Persoalan tenaga kerja bukan hanya soal jumlah. Menurut Drs. Taufik Yoto Kembal, MM, aspek kualitas juga perlu mendapat perhatian. Jangan sampai masyarakat lokal hanya memperoleh pekerjaan pada level tertentu, sementara posisi yang membutuhkan keahlian tinggi dan menawarkan pendapatan lebih besar justru didominasi tenaga kerja dari luar daerah.

Jika kondisi seperti itu terjadi, maka hilirisasi belum sepenuhnya menjadi instrumen peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal. Padahal, idealnya industri yang berkembang di Sulteng menjadi ruang pembelajaran dan peningkatan kompetensi bagi tenaga kerja daerah. Anak-anak muda Sulteng tidak hanya menjadi pekerja, tetapi secara bertahap mampu menjadi teknisi, tenaga profesional, supervisor, engineer, manajer bahkan pelaku usaha yang masuk dalam rantai pasok industri. Karena itu, pemerintah daerah perlu memastikan pendidikan, SMK, perguruan tinggi dan lembaga pelatihan benar-benar terhubung dengan kebutuhan industri.

Investasi Harus Meninggalkan Kesejahteraan

Hilirisasi tentu bukan sesuatu yang harus dipersoalkan keberadaannya. Sebaliknya, hilirisasi merupakan peluang besar bagi Sulteng untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan mempercepat pembangunan. Yang perlu dipastikan adalah manfaatnya jangan berhenti pada kawasan industri. Investasi harus menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, membuka peluang bagi UMKM dan pengusaha daerah, serta memperkuat ekonomi masyarakat.

Karena itu, pertanyaan Drs. Taufik Yoto Lemba, MM patut menjadi perhatian pemerintah: ketika investasi hilirisasi Sulteng menjadi yang tertinggi secara nasional, apakah penyerapan tenaga kerja lokal juga sudah sebanding dengan besarnya investasi tersebut?

Pertanyaan itu bukan untuk menolak investasi. Justru sebaliknya, ini merupakan dorongan agar investasi benar-benar memberikan efek berganda bagi daerah. Sebab ukuran keberhasilan hilirisasi bukan hanya berapa besar investasi yang masuk ke Sulteng, tetapi juga berapa besar nilai tambah, lapangan kerja, peningkatan kualitas SDM dan kesejahteraan yang tinggal di Sulteng.

Hilirisasi jangan hanya mengubah bijih nikel menjadi produk bernilai tambah. Hilirisasi juga harus mengubah kualitas hidup masyarakat Sulawesi Tengah.

*(Mantan Komentator RRI Palu

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow