Merawat Hutan Adat dari Meja Dapur Perempuan Kalbar
Ruang kelas yang kaku dan deretan kursi perkotaan sering kali dianggap sebagai tempat utama untuk menimba ilmu. Namun, bagi 23 perempuan adat di Kalimantan Barat (Kalbar), pembelajaran paling berharga justru lahir dari lingkaran diskusi yang akrab, dekat dengan riuh rendah hutan yang selama ini menghidupi mereka.
Hannah Asa Indonesia Beri Literasi Keuangan di Kalbar
PALU, METROSULAWESI.NET - Ruang kelas yang kaku dan deretan kursi perkotaan sering kali dianggap sebagai tempat utama untuk menimba ilmu. Namun, bagi 23 perempuan adat di Kalimantan Barat (Kalbar), pembelajaran paling berharga justru lahir dari lingkaran diskusi yang akrab, dekat dengan riuh rendah hutan yang selama ini menghidupi mereka.
Selama empat hari, dari tanggal 3 hingga 6 Agustus 2026, para perempuan ini berkumpul dalam agenda Penguatan Literasi Keuangan Keluarga bagi Perempuan Adat. Kegiatan ini diinisiasi oleh Forest Programme V bersama Balai PSKL Wilayah Kalimantan (BPSKL Banjarbaru). Pematerinya dari Hannah Asa Indonesia yang berkantor pusat di Kota Palu Sulawesi Tengah.
Pada pelatihan itu, meja dapur dan dompet keluarga tidak lagi dilihat sekadar sebagai urusan domestik, melainkan sebagai benteng pertahanan ekonomi dan kelestarian hutan.
Bagi masyarakat adat, menjaga hutan bukan sekadar persoalan menanam pohon, tetapi juga tentang bagaimana menjaga dapurnya tetap ngepul. Koordinator Nasional Forest Programme V, Desy Ekawati, melihat ada benang merah yang kuat antara pengelolaan perhutanan sosial dan pengelolaan keuangan rumah tangga.
“Pelatihan ini adalah bagian dari bagaimana kita memperkuat pengelolaan perhutanan sosial dengan skema hutan adat, dengan memperkuat peran perempuan yang menjadi ujung tombak dalam pengelolaan keuangan keluarga,” tutur Desy.
Ketika perempuan adat cakap mengatur keuangan, mereka sedang membangun perisai bagi keluarganya agar tidak rentan terhadap guncangan ekonomi. Ketahanan inilah yang nantinya membuat komunitas tidak mudah goyah atau terpaksa mengeksploitasi hutan secara berlebihan saat masa-masa sulit datang.
Tantangan nyata di lapangan diungkapkan oleh Katarina, salah satu peserta pelatihan. Di daerahnya, denyut ekonomi keluarga sangat bergantung pada hasil panen yang sifatnya musiman dan tidak menentu. Di sisi lain, laju kebutuhan hidup dan urusan rumah tangga terus berjalan setiap hari tanpa bisa diajak berkompromi.
Cerita Katarina adalah potret umum. Di sinilah literasi keuangan mengambil perannya. Ketahanan finansial (financial resilience) ternyata bukan soal seberapa besar uang yang dibawa pulang, melainkan bagaimana uang yang ada dikelola secara bijak di tengah keterbatasan.
Melihat realita tersebut, Hannah Asa Indonesia hadir bukan sebagai guru yang mendikte dari mimbar, melainkan sebagai Research, Learning & Capacity Development Partner. Sang pendiri, Mardiyah, turun langsung memandu simulasi praktis—mulai dari memisahkan keinginan dan kebutuhan, mencatat pengeluaran harian, hingga pentingnya menyisihkan dana darurat.
Kepala Seksi Wilayah III BPSKL Banjarbaru, Susanto, menaruh harapan besar pada perubahan perilaku pascapelatihan ini.
“Harapannya kegiatan ini bisa memberikan ilmu yang bermanfaat bagi pengelolaan keuangan yang mungkin selama ini belum betul-betul tercatat. Semoga selain meningkatkan kapasitas mereka, kegiatan ini juga bisa makin memberikan kesadaran agar lebih peduli terhadap lingkungan hutan adatnya,” ungkap Susanto.
Bagi Hannah Asa Indonesia, perjalanan di Kalbar ini adalah sebuah pilot learning experience. Mereka menganut prinsip bahwa pelatihan hanyalah sebuah awal. Proses belajar yang sesungguhnya baru dimulai saat para peserta kembali ke rumah masing-masing dan berhadapan dengan realita harian.
Lembaga ini menempatkan masyarakat adat bukan sekadar sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai ruang refleksi bersama. Temuan, tantangan, dan cerita dari para perempuan ini dikumpulkan sebagai bahan riset berharga untuk menyempurnakan metode pendampingan di masa depan.
“Kami percaya bahwa literasi keuangan harus hadir di tempat masyarakat hidup, bekerja, dan membangun ekonominya. Karena itu, pembelajaran tidak boleh berhenti di ruang kelas,” pungkas Mardiyah.
Ketika mentari terbenam di bumi Kalbar pada akhir pelatihan, para perempuan adat itu pulang membawa babak baru. Di tangan mereka, kini ada catatan keuangan yang lebih rapi, rencana masa depan yang lebih terukur, dan komitmen yang lebih kuat untuk menjaga hutan adat—mulai dari pengelolaan keuangan di dalam rumah mereka sendiri.
Reporter: Udin Salim
Apa Reaksimu?

