Hannah Latih Perempuan Adat Kalbar Perkuat Ketahanan Ekonomi melalui Literasi Keuangan

Forest Programme V bersama Balai PSKL Wilayah Kalimantan (BPSKL Banjarbaru) menyelenggarakan kegiatan Penguatan Literasi Keuangan Keluarga bagi Perempuan Adat di Kalimantan Barat (Kalbar) pada 3–6 Agustus 2026. Kegiatan yang diikuti 23 perempuan adat tersebut, bertujuan untuk meningkatkan kapasitas komunitas dalam mengelola keuangan, menentukan prioritas, serta membangun ketahanan finansial keluarga dari tingkat tapak.

Agustus 16, 2026 - 07:30
Hannah Latih Perempuan Adat Kalbar Perkuat Ketahanan Ekonomi melalui Literasi Keuangan
Peserta kegiatan Penguatan Literasi Keuangan Keluarga bagi Perempuan Adat di Kalimantan Barat (Kalbar) foto bersama dengan pamateri. Kegiatan ini digelar pada 3–6 Agustus 2026. (Foto: Dok Hannah Asa Indonesia)

PALU, METROSULAWESI.NET - Forest Programme V bersama Balai PSKL Wilayah Kalimantan (BPSKL Banjarbaru) menyelenggarakan kegiatan Penguatan Literasi Keuangan Keluarga bagi Perempuan Adat di Kalimantan Barat (Kalbar) pada 3–6 Agustus 2026. Kegiatan yang diikuti 23 perempuan adat tersebut, bertujuan untuk meningkatkan kapasitas komunitas dalam mengelola keuangan, menentukan prioritas, serta membangun ketahanan finansial keluarga dari tingkat tapak.

Dalam pelatihan ini, Hannah Asa Indonesia terlibat langsung sebagai Research, Learning & Capacity Development Partner. Kehadiran lembaga ini tidak hanya untuk menyampaikan materi, melainkan juga melakukan pengamatan lapangan guna memahami kebutuhan riil peserta secara kontekstual.

Koordinator Nasional Forest Programme V, Desy Ekawati, menjelaskan bahwa penguatan literasi keuangan bagi kaum perempuan memiliki keterkaitan erat dengan keberhasilan pengelolaan perhutanan sosial.

“Pelatihan ini adalah bagian dari bagaimana kita memperkuat pengelolaan perhutanan sosial dengan skema hutan adat, dengan memperkuat peran perempuan yang menjadi ujung tombak dalam pengelolaan keuangan keluarga,” ujar Desy.

Melalui pendekatan ini, perempuan adat diposisikan sebagai figur sentral yang mengelola sumber daya, memprioritaskan kebutuhan, serta mengambil keputusan keuangan strategis demi mengantisipasi risiko masa depan.

Kondisi ekonomi di lapangan menunjukkan bahwa pendapatan keluarga masyarakat adat umumnya masih fluktuatif. Katarina, salah satu peserta pelatihan, mengonfirmasi bahwa penghasilan mereka selama ini sangat bergantung pada hasil panen yang tidak menentu, sementara kebutuhan rumah tangga terus meningkat.

Kondisi tersebut membuktikan bahwa ketahanan finansial (financial resilience) tidak hanya bertumpu pada besar kecilnya pendapatan, tetapi pada kecakapan mengelola sumber daya yang terbatas. Selama empat hari, Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, mendampingi peserta melalui simulasi praktis, mulai dari penyusunan anggaran, pencatatan kas, hingga penyiapan dana darurat.

Kepala Seksi Wilayah III BPSKL Banjarbaru, Susanto, berharap ilmu yang didapatkan mampu membawa perubahan perilaku dalam administrasi domestik sekaligus memperkuat kepedulian ekologis.

“Harapannya kegiatan ini bisa memberikan ilmu yang bermanfaat bagi pengelolaan keuangan yang mungkin selama ini belum betul-betul tercatat, serta makin memberikan kesadaran agar lebih peduli terhadap lingkungan hutan adatnya,” kata Susanto.

Bagi Hannah Asa Indonesia, draf pembelajaran dari Kalimantan Barat ini diposisikan sebagai pilot learning experience. Lembaga ini menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima manfaat (beneficiaries), melainkan sebagai mitra riset untuk menyempurnakan instrumen evaluasi, materi ajar, dan metode pendampingan ke depan.

“Kami percaya bahwa literasi keuangan harus hadir di tempat masyarakat hidup, bekerja, dan membangun ekonominya. Pembelajaran tidak boleh berhenti di ruang kelas,” tegas Mardiyah.

Pasca-pelatihan, data dan temuan lapangan akan direfleksikan untuk memformulasikan alat praktis (practical tools) yang menjamin pengetahuan keuangan ini dapat terus dipraktikkan secara berkelanjutan oleh komunitas adat.

Reporter: Udin Salim 

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow