Early Warning System Dalam Tata Kelola Kebencanaan Kebakaran Di Kota Palu
Oleh Sofyan Lembah*
PAGI indah dihidangkan tampilnya sang Mentari orange kemilau dalam kabut tipis asap di ufuk Timur. Ini mungkin pertanda seharian kita bakal bermandikan peluh akibat suhu ekstrim hingga 37 * C atau bisa jadi penanda adanya kasus kebakaran baik Hutan maupun rumah dipermukiman akibat suhu tinggi ekstrim tersebut. Semoga ini tidak terjadi.
Bila di Kalimantan, kasus kebakaran hutan (KARHUTLA) sudah menjadi bencana nasional yang membuat miring otak penguasa negara-negara tetangga, maka kasus KARHUTLA di lembah Palu belum sampai titik mencemaskan. Hanya soal kasus kebakaran di perumahan penduduk bisa membuat kecemasan baru.
Tiba masa tiba akal, adalah perilaku penyenggara pelayanan publik yang lalai karena tidak memiliki sense of crisis sekaligus tidak dimilikinya manajemen resiko memadai. Contoh terakhir, belum lama digelarnya pertemuan pelaku perparkiran (juru parkir) setelah adanya kasus penembakkan juru parkir. Kota tersentak kaget atas terjadinya peristiwa kematian itu, padahal berbagai pelaporan masyarakat sudah lebih sebulan mu cul diruang publik atas perilaku aneh sang juru parkir yang selalu membawa sajam dipinggang di area parkir. Tentu pertemuan itu bagus dilaksanakan ketimbang tidak sama sekali. Ini adalah reaksi bukan sebuah estimasi sikap tindak preventif
Dalam sebuah manajemen resiko kebencanaan dikenal adanya sebuah sistem peringatan dini yang memungkinkan penyelenggara pelayanan publik membuat rencana antisipatif terjadinya sebuah bencana termasuk bagaimana mengelolanya menjadi sebuah manajemen yang efektif menghadapi resiko kebencanaan termasuk soal kebakaran ini. Sedikit informasi di lapangan yang memadai untuk sebuah proses edukasi, koordinasi dan sinkronisasi tentang keben canaan kebakaran ini. Padahal soal kebakaran ini mungkin bisa menjadi problem sosial dekat yang meruntuhkan kejumawaan laporan keberhasilan pembangunan selama ini.
Keterbatasan atas nama efisiensi tidak bisa dijadikan alasan tidak dimulainya upaya menghidupkan tombol-tombol early warning system di kota. Hanya lewat koordinasi, sin kronisasi dan edukasi yang masif tombol-tombol itu mulai ditekan agar bisa membangunkan kesadaran semua pihak tentang pentingnya persiapan menghadapi bencana kebakaran dengan segala konsekuensinya.
Selasa siang ini terdengar raungan sirene pemadam kebakaran. Itu merupakan pertanda awal. Tak cukup segelas es cukur "Atam" yang legend membunuh kekhawatiran soal kebakaran itu. Hal yang pasti, September ini harus menjadi bulan yang menyenangkan bukan bulan menyedihkan dimana air mata dan darah tertumpah. Olehnya forum kewaspadaan dini atas bencana segera dihidupkan secara masif. Tak boleh kita lalai.
Silae-Palu, 1 September 2026
*) Sofyan Lembah, Pekerja Sosia
Apa Reaksimu?

