Warga Tolai Perkuat Adaptasi di Tengah Iklim yang Makin Sulit Diprediksi
Warga Desa Tolai, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mulai memperkuat langkah adaptasi menghadapi perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.
PARIMO, Metrosulawesi– Warga Desa Tolai, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mulai memperkuat langkah adaptasi menghadapi perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Sosialisasi Kesehatan Reproduksi di Masa Kekeringan serta pelatihan pembuatan biopori dan pengolahan sampah organik yang digelar Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) bersama Forum Aksi Iklim Desa Tolai, Minggu (30/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pustu Pererenan, Dusun 10, Desa Tolai, itu diikuti sekitar 30 warga yang didominasi kaum perempuan. Kegiatan digelar setelah masyarakat menyelesaikan masa panen raya pada awal hingga pertengahan Agustus.
Kepala Puskesmas Torue, Ni Made Nomiati, hadir memberikan materi mengenai kesehatan reproduksi di tengah kondisi kekeringan. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada pentingnya menjaga sanitasi dan kebersihan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko penyakit selama musim kemarau.
Sementara itu, Kepala UPTD Pertanian, Wahidian Pantoli, memberikan pelatihan mengenai pengolahan sampah organik dan pembuatan biopori sebagai bagian dari upaya mendorong pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Desa Tolai selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil padi andalan di Kabupaten Parigi Moutong. Namun, kondisi iklim yang berubah turut memberikan tantangan besar bagi sektor pertanian.
Kemarau yang terjadi pada 2025 menyebabkan sebagian lahan pertanian warga terdampak kekeringan. Tanaman padi dan jagung mengalami penurunan produksi, bahkan sebagian petani harus menghadapi gagal panen.
Kondisi tersebut mendorong warga untuk tidak hanya bergantung pada hasil pertanian utama, tetapi juga mencari cara lain untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Salah satunya melalui pemanfaatan lahan pekarangan untuk menanam berbagai jenis sayuran.
Seusai pelatihan, kelompok ibu-ibu langsung mempraktikkan penanaman bibit terong, sawi bok choy atau pakcoy, bayam, dan kangkung di salah satu pekarangan warga Dusun 10.
Bibit yang telah dibagikan kemudian dibawa pulang untuk ditanam di pekarangan masing-masing warga.
Ni Luh Apriliani, salah satu anggota kelompok, mengatakan kegiatan tersebut memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga.
“Kita sangat senang dengan kegiatan seperti ini. Apalagi setelah gagal panen tahun kemarin, pemanfaatan lahan pekarangan sangat membantu warga,” ujarnya.
Selain persoalan pangan, warga juga menilai perubahan iklim perlu dihadapi dengan meningkatkan pemahaman mengenai kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi perempuan dan remaja.
Anggota Satgas PPA Desa Tolai, Ni Wayan Ayu Handayani, mengatakan informasi mengenai kesehatan reproduksi menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi kondisi kekeringan.
“Saat kekeringan kita kadang menyepelekan sanitasi dan kebersihan yang ternyata rawan terhadap penyakit reproduksi. Ini informasi penting bukan hanya bagi ibu-ibu, tapi juga bagi remaja perempuan,” ungkap Ayu.
Inisiatif masyarakat tersebut mendapat dukungan dari Yayasan IPAS Indonesia yang selama ini memiliki perhatian pada isu keadilan reproduksi serta akses layanan kesehatan reproduksi bagi perempuan dan remaja.
Melalui kegiatan tersebut, warga tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai kesehatan dan lingkungan, tetapi juga mulai membangun langkah praktis untuk menghadapi dampak perubahan iklim dari tingkat rumah tangga.
Warga berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Dengan demikian, masyarakat Desa Tolai diharapkan semakin memiliki ketahanan dan kemandirian dalam menghadapi perubahan cuaca maupun ancaman bencana yang semakin sulit diprediksi. (*/ap)
Apa Reaksimu?

