Sigap Hadapi Bencana Letusan Volcano: Pembelajaran Dari Gunung Colo (1)

Oleh: H. Sofyan Farid Lembah.

Sep 7, 2026 - 18:47
Sigap Hadapi Bencana Letusan Volcano: Pembelajaran Dari Gunung Colo (1)
H. Sofyan Farid Lembah.

AWAL September,   4 gunung berapi serentak erupsi akibatkan  ruang udara penerbangan sementara ditutup. Maskapai Garuda dan Lion Air sejak kemaren sudah resmi umumkan pembatalan penerbangan, konon sejak kemaren ada 22.000 calon penumpang  batal terbang.

Beruntung tak ada kasus kemarahan konsumen, mereka semua sadar dan memilih re schedule juga refund ticket. Ini adalah bencana bukan kesengajaan.

Seperti biasa, di warung kopi setiap peristiwa pasti ada dibahas. Berita viral soal kasus "pelakor" hanya sehari tertutup bencana erupsi di atas. Nama nama tokoh masyarakat dan handai taulan yang terhalang terbang ramai dibicarakan. Sore itu kopi pahit panas dinikmati sambil terus memantau kondisi bencana khas warung kopi.

Saat seperti ini teringat peristiwa 40 tahun lalu tepatnya 23 Juli 1983. Hari itu erupsi dahsyat mengguncang kota Ampana.Dari pulau Una

 Una Letusan dahsyat gunung Colo dengan guncangan serta debu vulkanik menyebar sampai ke lembah Palu, Poso, Luwuk bahkan hingga ke Kalimantan Barat. Kota Palu salah satunya dihujani abu. Kota berubah berwarna putih bukan hanya bangunan juga pepohonan utama pohon kelapa dilapisi abu tebal.

Hari itu tidak bisa dilupakan. Hari itu adalah hari menjelang Orientasi penerimaan Mahasiswa baru di Universitas Tadulako. Pagi hari lewat penerbangan pesawat Bouraq membawa kami calon mahasiswa dari Jakarta menuju kota Palu. Penerbangan yang kemudian membawa kami harus bermalam di Balikpapan. Apa sebab? Tersiar berita sejak di pesawat telah terjadi letusan gunung Colo dan abu sudah menutup kota. Pesawat 3 (tiga) kali berputar dan gagal mendarat dan akhirnya kembali ke Balikpapan. Oleh maskapai kami diberi penginapan di salah satu hotel di Bukit Bakaran, Balikpapan. Rijal sepupu saya bertanya,  bagaimana sudah nasib kita? Besok pembukaan Opspek yang dahulu masih bernama PPS sebelum kebijakan POLBINMAWA masa NKK/BKK.

Semalaman kami sibuk menghubungi pihak lembaga kampus penyelenggara, malam itu tak ada komunikasi masuk. Baru kami tahu keesokan harinya kondisi sebenarnya kota Palu. Abu vulkanik sebabkan kota lumpuh total. Tak ada yang berani keluar rumah akibat hujan abu halus. Kampus dikosongkan atas perintah Rektor, dan kegiatan kemahasiswaan sementara diliburkan. Meskipun pikiran lega tapi kami masih terdampar di Balikpapan. 2 hari 1 malam kami jalani hari hari di kota Balikpapan hingga datangnya kebijakan maskapai memulangkan balik ke Jakarta dengan pesawat yang sama.

Sesampai di Jakarta,  upaya mencari informasi terus dilakukan untuk bisa kembali ke Palu. Beruntung sehari kemudian penerbangan ke Palu kembali dibuka. Tanpa menunggu lama  ticket Bouraq kami beli dan segera tske off berangkat ke Palu. Alhamdulillah  penerbangan kali ini menjadi penerbangan kedua yang bisa tembus setelah  Merpati Air Lines. Pendaratan meski tidak berlangsung mulus tapi setidaknya membuat lega seluruh penumpang. Pesawat mendarat zig zag di landasan pacu dan ketika kecepatan menurun baru terlihat pemandangan sesungguhnya bandara Mutiara Palu seperti landasan putih berkilau tapi bukan kilauan lapisan salju melainkan lapisan putih abu abu dari debu vulkanik.

Alhamdulillah begitu pintu pesawat terbuka  semua bersyukur meski hembusan angin panas  disertai abu halus vulkanik menerpa wajah dan masker. Saya dan Rijal menjejakkan kaki di atas debu vulkanik. Bahagia bercampur waswas.  Bahagia karena bisa segera ikuti Orientasi Mahasiswa dan was was karena tak tahu seperti apa model orientasi di atas tanah berdebu.

Seminggu kemudian resmilah kami berdua menjadi mahasiswa Universitas Tadulako yang membanggakan setelah lewati hari hari orientasi digenjot habis habisan oleh para senior kampus. Ramli Nuntung, Ramli Tantu, Andi Mulhanan, Nasir Lakaeng, Yodhy R.Massie, Asluddin Hatjani, Norna Mardjanu, Fadlun Hamid, Rahman Kasim, dan para senior lainnya yang banyak menanamkan apa arti seorang mahasiswa dan apa peran Universitas Tadulako bagi Daerah. Tulisan lepas ini tidak bermaksud jelaskan soal OPSPEK itu sendiri, tapi saya ingin bercerita soal letusan gunung Colo itu sendiri khusus soal kesigapan penanganannya.(bersambung)

Silae-Palu

7 September 2026

*) H. Sofyan Farid Lembah, Pekerja Sosial

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow