Pakar: Perlu Percepatan Integrasi Industri Halal Untuk Pacu Daya Saing

Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF Nur Hidayah menyatakan bahwa pemerintah perlu mempercepat integrasi industri halal di Indonesia, baik dari produksi, pembiayaan, maupun logistik supaya dapat berdaya saing global.

Juli 14, 2026 - 20:53
Pakar: Perlu Percepatan Integrasi Industri Halal Untuk Pacu Daya Saing
Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF Nur Hidayah saat memaparkan hasil kajian pada acara seminar Nasional "Catatan Tengah Tahun Ekonomi syariah Indonesia 2026" di Jakarta, Selasa (14/7/2026). ANTARA/Khaerul Izan

JAKARTA, METROSULAWESI.NET- Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF Nur Hidayah menyatakan bahwa pemerintah perlu mempercepat integrasi industri halal di Indonesia, baik dari produksi, pembiayaan, maupun logistik supaya dapat berdaya saing global.

"Ekosistem halal perlu diintegrasikan sehingga pembiayaan syariah, industri halal dan UMKM bisa terkumpul dalam satu rantai nilai yang benar sehingga membentuk satu ekosistem yang terintegrasi," kata Nur Hidayah di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, saat ini Indonesia masih menjadi pasar besar pada industri halal, namun perlu upaya keras untuk menjadi produsen halal global.

Nur Hidayah mengatakan bahwa ekspor produk halal Indonesia masih didominasi komunitas berbasis sawit. Sementara produk halal olahan bernilai tambah tinggi belum menjadi penggerak pertama ekspor.

Dari data yang ada, kata dia, kelapa sawit dan turunannya masih menguasai ekspor produk halal dengan 34,16 persen, ditempel fashion muslim sekitar 8,67 persen dan bahan kimia kosmetik halal 5,46 persen.

Padahal dari segi skala pasar dan posisi global konsumsi produk halal kata dia, bertumbuh 5,88 persen menjadi 25,98 miliar dolar AS. Kemudian kontribusi ke rantai pasok PDB itu sekitar 27 persen, namun peringkat di "stand of global islamic economic", Indonesia turun dari 3 ke 4 dan kawasan industri baru beroperasi di 4 kawasan.

"Sehingga besarnya konsumsi belum menghasilkan daya saing global. Sertifikasi halal terus meningkat tetapi transformasi menuju industrialisasi, hilirisasi dan ekspor bernilai tambah masih menjadi tantangan kita," ujarnya.

Untuk itu, Indef, kata Nur Hidayah merekomendasikan agar kapasitas produksi perlu dioptimalkan. Selain itu sertifikasi perlu ditingkatkan menjadi keunggulan kompetitif dan juga ekosistem halal perlu diintegrasikan, sehingga pembiayaan syariah, industri halal dan UMKM bisa terkumpul dalam satu rantai nilai yang benar dan dapat membentuk satu ekosistem yang terintegrasi.

"Tantangan utama industri halal Indonesia bukan lagi memperluas sertifikasi melainkan mengintegrasikan sertifikasi dengan industrialisasi, pembiayaan, logistik dan ekspor sehingga terbentuk rantai nilai halal yang menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing global," katanya. (ant)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow