Semifinal Prancis vs Spanyol: Final Yang Terlalu Cepat

Sejak kickoff Piala Dunia 2026, kebanyakan orang sudah memimpikan Prancis dan Spanyol bertemu dalam partai final turnamen terbesar FIFA edisi ke-23 yang diikuti 48 tim ini.

Juli 14, 2026 - 17:24
Semifinal Prancis vs Spanyol: Final Yang Terlalu Cepat
Grafik ilustrasi pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Spanyol yang dijadwalkan berlangsung di Stadion AT&T, Arlington, Texas, Amerika Serikat, Selasa (14/7/2026) waktu setempat. ANTARA INFOGRAFIK/Vintan Rahmadanti

JAKARTA, METROSULAWESI.NET- Sejak kickoff Piala Dunia 2026, kebanyakan orang sudah memimpikan Prancis dan Spanyol bertemu dalam partai final turnamen terbesar FIFA edisi ke-23 yang diikuti 48 tim ini.

Untuk itu, pertemuan mereka dalam semifinal Piala Dunia 2026 di Dallas Stadium, Arlington, Texas, Amerika Serikat, pada Rabu (15/7) pukul 02.00 WIB adalah final yang terlalu dini terjadi.

Kedua tim sama hebatnya dalam menyerang dan bertahan, sehingga menjadi dua tim paling lengkap dalam Piala Dunia 2026. Mereka sangat pantas untuk melangkah sampai sejauh ini. Faktor xG mereka menempati urutan kedua dan ketiga; Prancis 13,31 dan Spanyol 12,75.

Kendati Spanyol sulit menjebol gawang Tanjung Verde pada fase grup, tim ini bersama Prancis sampai ke semifinal setelah melewati perjalanan yang lebih mulus dan lebih mengesankan dibandingkan dengan Argentina dan Inggris, semifinalis lainnya.

Mereka diisi oleh bintang-bintang sepak bola hebat yang bermain dalam satu tim yang kompak yang rela membunuh egonya sehingga tercipta kohesi dan chemistry yang begitu kuat di dalam tim.

Enam pertandingan sebelum semifinal membuktikan fakta itu.

Kedua tim sama-sama membuat 110 peluang untuk menciptakan total 26 gol, dan menjadi dua tim yang paling sulit dibobol lawan ketika Argentina dan Inggris selalu kebobolan dalam empat dan tiga pertandingan terakhirnya.

Spanyol sudah lima kali clean sheet, dan Prancis sudah empat kali.

Prancis bahkan tidak pernah lagi kebobolan semenjak mengalahkan Norwegia 4-1 dalam pertandingan fase grup terakhirnya. Spanyol kebobolan dalam laga terakhir kala menghadapi Belgia dalam perempat final.

Namun Spanyol sebenarnya lebih menyeramkan karena sejak kickoff Piala Dunia 2018 di Rusia, La Roja baru sekali kalah dalam 27 pertandingan pada dua turnamen sepak bola utama (Piala Dunia dan Piala Eropa).

Di luar adu penalti, La Roja tak terkalahkan pada 14 laga terakhir Piala Dunia dan Piala Eropa, yang di antaranya mereka hiasi dengan sembilan kali clean sheet.

Spanyol juga memenangkan 18 dari 38 pertemuan dengan Prancis sebelum ini.  Les Bleus menang 13 kali dalam duel di antara mereka.

Spanyol adalah pihak pemenang dalam dua laga terakhir melawan Prancis, yakni semifinal Piala Eropa 2024 ketika menang 2-1, dan final Nations League Eropa 2025 saat menang 5-4.

Adu gengsi

Tapi Les Bleus tak akan dibuat kecut hati oleh performanya pada dua laga terakhir menghadapi La Roja itu, karena mereka memenangkan satu-satunya pertemuan dengan Spanyol pada Piala Dunia sebelum Piala Dunia 2026 saat Le Bleus menang 3-1 dalam 16 besar Piala Dunia 2006.

Ini bisa membesarkan hati Kylian Mbappe cs, apalagi Prancis sudah lebih sering bermain di semifinal Piala Dunia ketimbang Spanyol.

Prancis sudah tujuh kali bermain di semifinal Piala Dunia yang dua di antaranya berakhir dengan trofi juara pada 1998 dan 2018. Spanyol baru sekali, yakni 2010 saat mereka juara dunia.

Prancis juga menjadi tim yang paling konsisten dalam delapan tahun terakhir karena selalu masuk semifinal Piala Dunia dalam tiga edisi berturut-turut. Hanya Jerman dan Brasil yang melakukan pencapaian serupa Prancis ini.

Tim asuhan Didier Deschamps itu kini berusaha menjadi tim ketiga setelah Brasil dan Jerman, yang tiga kali berturut-turut mencapai final Piala Dunia.

Prancis juga berusaha mengulang pola sukses Brasil pada periode 1994-2002, yakni juara dunia, lalu menjadi runner up dan akhirnya juara dunia lagi. Prancis adalah juara dunia 2018 dan runner up 2022.

Sebaliknya, Spanyol bisa mengulang pola 2010 ketika menjuarai Piala Dunia setelah dua tahun menjadi juara Piala Eropa. Pada 2024, Spanyol adalah juara Eropa.

Pokoknya, pertemuan antara kedua tim bisa dilihat dari banyak perspektif, yang untuk itu pertemuan mereka sering disebut sebagai salah satu rivalitas terbesar dan terpanas di dunia sepak bola modern.

Pertemuan ini juga menjadi simbol untuk profil liga profesional mereka, yang termasuk lima besar di Eropa.

Ligue 1 Prancis dengan 78 pemain dan LaLiga Spanyol dengan 74 pemain adalah penyumbang terbesar pemain dalam Piala Dunia 2026, setelah Liga Inggris dan Bundesliga.

Mereka menjadi kiblat sepak bola banyak tim Piala Dunia 2026.

Oleh karena itu, pertemuan di antara mereka adalah adu gengsi dan adu supremasi antara dua kiblat sepak bola, yang sama-sama menyerang tapi dengan penekanan penguasaan bola yang berbeda.

Jika penguasaan bola yang dilakukan Prancis lebih cair dan lebih vertikal, serta mengandalkan fisik yang kekar, maka Spanyol melakukannya lebih horisontal, yang berpusat pada umpan-umpan pendek, kendali posisi, dan penguasaan teknik, yang dikenal dengan tiki-taka.


Rodri vs Michael Olise

Namun berbeda dengan pelatih-pelatih Spanyol sebelumnya, Luis de la Fuente lebih pragmatis.

Pragmatisme itu terlihat saat menghadapi Belgia, yang kuat di lapangan tengah.

Biasa menempatkan poros tunggal Rodri dalam formasi 4-1-2-3, de la Fuente mengubah pola ini dengan menyandingkan Rodri dengan Fabian Ruiz dalam pola 4-2-3-1.

Seperti Belgia, Prancis juga memiliki duet lapangan yang kuat, yang sejauh ini efektif dijalankan oleh Adrien Rabiot dan Auriel Tchouameni atau Manu Kone.

Untuk itu, mungkin saja de la Fuente mempertahankan pola bermain seperti saat mengalahkan Belgia dalam perempat final.

Jika itu yang terjadi, maka akan ada persaingan terbuka untuk adu klinis, antara kuartet serang Les Bleus dan la Roja.

Apakah kuartet Desire Doue, Michael Olise dan Ousmane Dembele dengan ujung tombak Kylian Mbappe lebih tajam dari pada kuartet Alex Baena, Dani Olmo dan Lamine Yamal dengan ujung tombak Mikel Oyarzabal?

Semua akan tergantung bagaimana lini tengah dikuasai, dan bagaimana lini belakang bereaksi dari sengatan para kuartet serang kedua tim.

Yang juga menarik dari laga ini adalah duel antara playmaker Rodri di jantung permainan Spanyol, melawan playmaker Michael Olise yang kadang ditempatkan di sayap kanan serangan Prancis, dan kadang tepat di belakang Mbappe.

Rodri dan Michael Olise sama-sama sangat pentingnya bagi kedua tim, karena menjadi landasan taktik tim mereka dalam menentukan bagaimana mengendalikan permainan, bertahan, dan menciptakan gol.

Bedanya, jika Rodri lebih nyaman berperan sebagai pengatur tempo, pelapis pertahanan, dan perusak ofensif lawan untuk dibalikkan sebagai transisi ke menyerang, maka dengan visi, umpan dan crossing-nya, Olise adalah tenaga paling kreatif dalam skuad Prancis yang piawai membongkar pertahanan lawan, serapat apa pun pertahanan itu.

Bersama pemain-pemain eksplosif seperti Mbappe dan Olise, Prancis sedikit lebih diunggulkan dalam pertandingan ini. Tapi siapa pun yang memenangkan pertandingan ini, amat layak menjadi juara Piala Dunia 2026. (ant)

 

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow