Safari Ramadan: Dari Spirit Ibadah ke Konsolidasi Kebangsaan
Oleh: Mohsen Hasan A, Pemerhati Sosial, Politik, Budaya & Isu Global - Dewan Pakar DPP Partai NasDem
SAFARI Ramadan bukan sekadar agenda kunjungan atau buka puasa bersama. Ia adalah ruang perjumpaan batin, forum kebangsaan, sekaligus energi kolektif yang menyatukan iman dan kepedulian sosial.
Di Indonesia, tradisi ini telah tumbuh menjadi bagian dari denyut kebudayaan umat menghubungkan masjid, pesantren, rumah rumah warga, hingga ruang-ruang dialog kebangsaan.
Momentum Ramadan adalah momentum penyucian diri. Namun dalam konteks sosial, ia juga momentum memperkuat silaturahmi, membangun optimisme, dan merawat persatuan bangsa.
Tahun ini, Surya Paloh, Ketua Umum Partai NasDem, kembali menggelar Safari Ramadan selama dua pekan, 21 Februari hingga 8 Maret 2026, di berbagai kabupaten dan kota di Pulau Jawa.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh nasional lintas latar belakang, di antaranya: Jusuf Kalla, Puan Maharani, Anies Baswedan,M Sufmi Dasco dan lain lain
Kehadiran tokoh-tokoh tersebut menunjukkan bahwa Ramadan melampaui sekat politik. Ia menjadi ruang dialog, refleksi, dan penyatuan visi kebangsaan.
Dalam salah satu orasinya, Surya Paloh menegaskan: “Safari Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan. Ini adalah panggilan moral. Kita ingin menjadikan Ramadan sebagai energi untuk memperkuat solidaritas sosial, membangun optimisme nasional, dan membentengi diri dari godaan kekuasaan yang menjauhkan kita dari nilai-nilai kejujuran dan kemanusiaan.”
Ia juga menambahkan: “Bangsa ini tidak boleh lelah berharap. Ramadan mengajarkan disiplin, pengendalian diri, dan empati. Jika nilai ini kita bawa ke dalam kehidupan berbangsa, maka Indonesia akan memiliki ketahanan moral yang jauh lebih kuat daripada sekadar ketahanan ekonomi.”
Safari Ramadan dalam konteks ini bukan hanya agenda politik, tetapi pendidikan karakter kolektif.
Sejarah mencatat, Ramadan kerap menjadi momentum kebangkitan nasional. Pada tahun 1924, para aktivis Muslim di Hindia Belanda memanfaatkan Ramadan untuk konsolidasi gerakan kemerdekaan. Masjid dan surau menjadi pusat pengopinian dan penyemaian gagasan kebangsaan.
Beberapa peristiwa penting yang bertepatan dengan Ramadan antara lain: Kongres Pertama Budi Utomo (3–5 Oktober 1908 / 7–9 Ramadan 1326 H); Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945 / 9 Ramadan 1364 H); dan Agresi Militer Belanda I (21 Juli 1947 / 3 Ramadan 1366 H). Ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya bulan spiritual, tetapi juga bulan transformasi sosial dan kebangsaan.
Di tengah masyarakat, Safari Ramadan berkembang dalam berbagai bentuk: Mengunjungi masjid untuk Tarawih dan kajian; Berkunjung ke pesantren untuk belajar dan berbagi; Buka puasa bersama keluarga dan sahabat; Kegiatan sosial berbagi takjil dan santunan.
Manfaatnya nyata: mempererat silaturahmi, meningkatkan keimanan, memperbanyak amal kebaikan, dan menumbuhkan empati sosial.
Tradisi ini memperlihatkan bahwa Islam hadir bukan hanya sebagai ritual individual, tetapi sebagai kekuatan sosial yang mempersatukan.
Safari Ramadan dalam Perspektif Islam
Islam mendorong silaturahmi dan kepedulian sosial: “Barangsiapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim) ; “Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar.” (HR. Muslim) ; “ Barangsiapa yang memberi makan orang berbuka puasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa.” (HR. Tirmidzi).
Safari Ramadan menjadi wadah konkret untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut. Namun ia harus dijalankan dengan niat yang tulus, tanpa berlebihan, dan tanpa mengurangi kekhusyukan ibadah.
Lebih dari itu, Safari Ramadan menginspirasi “safari kebaikan” sepanjang tahun bahkan lintas agama dan komunitas.
Mengunjungi tetangga yang sakit, berdialog dengan pemeluk agama lain, mengadakan kegiatan sosial, hingga membangun ruang kebersamaan adalah bentuk-bentuk konkret dari semangat Ramadan yang diperluas.
Ramadan mengajarkan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi dari karakter. Tidak hanya dari program, tetapi dari keteladanan.
Ramadan sebagai Energi Bangsa
Safari Ramadan adalah refleksi bahwa Indonesia dibangun di atas budaya silaturahmi dan gotong royong. Ia adalah ruang di mana iman bertemu kebangsaan, dan ibadah bersenyawa dengan kepedulian sosial.
Sebagaimana disampaikan Surya Paloh dalam penutup orasinya: “Jika Ramadan mampu menyatukan hati, maka Indonesia akan selalu punya harapan. Selama kita menjaga persaudaraan, bangsa ini tidak akan pernah kehilangan arah.”
Safari Ramadan bukan sekadar perjalanan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah perjalanan hati dari ego menuju empati, dari perbedaan menuju persatuan, dari ritual menuju transformasi.
Selamat Berpuasa dan Bersafari Ramadan dalam rangka meningkatkan Spritual,Jasami serta etika dan moral kita berbangsa dan bernegara.
Minggu 22 Februari 2026M /4 Ramadan 1447H. (*)
Apa Reaksimu?
