Menyapa Sahabat dari Sudut Warung Kopi
Oleh: H.Sofyan Farid Lembah*
DONALD Trump siapa yang tak kenal? Dunia kartun anak-anakpun bahkan akrab dengan penyebutan sebagai Donald Bebek. Bukan hanya sekadar sebagai Presiden Negara Adigdaya belaka. Semua mengenal dia, tapi bukan berarti dia mengenal kita. Jangan sesekali menyapa, Hay, hello atau sambil menepuk pundak beliau. Deng Ciao Ping saja belum tentu berani melakukannya. Salah besar bila kita menyapa apalagi menepuk pundak itu tindakan baik. Bisa saja mendapat respons negatif. Masalah hukum bisa saja muncul. Presiden Venezuela bahkan dia culik. Apa yang tidak bisa dilakukan Trump? Dia penguasa dunia Syukur syukur kalo satu tepukan dia hanya bilang, who are You? Siapa ente? Saya kenal? Orang Kaili bilang, bisa ta salah kedo atau ta kets. Ini bukan soal keberanian tepuk pundak Presiden Amerika. Tapi Ini soal adab.
Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan bila bertemu sahabat, bahkan orang yang mungkin anda tidak sukai sekalipun, sampaikan salam. Assalamu'alaikum. Jauh lebih elegan. Insha Allah dampaknya bagus.
Pembelajarannya adalah sekali lagi jangan so akrab. Belum tentu orang yang ditepuk pundaknya akan menerima dengan hati lapang. Itu harus hati-hati. Jangan sesekali lakukan terhadap sahabat sekalipun. Mohonkan maaf atau maafkan bila orang yang kita tepuk pundaknya tidak berkenan. Ini bergantung soal perasaan dan adab.
Ketika Rajab berlalu berganti Sya'ban dan datangnya Ramadhan maka bergembiralah menyambut ke dua bulan suci tersebut. Tak cukup kita mengucapkan salam dan berkata Marhaban. Ada sebuah ritual ibadah yang harus dilaksanakan kaum mukminin agar naiknya maqom di mata Allah sebagai orang yang bertaqwa. Berpuasa, shalat Tarawih, Tahajud, berzakat dan ibadah lainnya menjadi ritual ibadah yang dibutuhkan menyambut puncak Ramadhan hingga datangnya Syawal. Siapkah kita menyambut ke dua bulan suci tersebut?
Bagi kaum mukminin di Sulawesi Tengah harapan penyambutan ke dua bulan suci tersebut adalah terjaminnya situasi dan kondisi kondusif dimana mukminin bisa aman melaksanakan ibadah ritual di atas tanpa gangguan termasuk di dalamnya soal kesiap tanggap daruratan bila terjadi force mayeur. Harus diyakinkan para penguasa baik Bupati, Walikota hingga Gubernur sebagai penguasa mempunyai perencanaan mitigasi bencana baik alam, non alam maupun konflik sosial yang tepat agar keseluruhan ibadah terselenggara maksimal. Di samping itu, saya berkeyakinan da. Menaruh harap para penguasa telah mempunyai estimasi kebijakan yang bisa menggembirakan masyarakat luas di tengah kesulitan dan beban kehidupan utamanya yang dirasakan masyarakat kecil pada umumnya. Tentu para penguasa telah mempunyai strategi pencapaian kebijakan tersebut, bukan sekadar kebijakan menepuk bahu kaum muslimin. Merayakan Iedul Fitri di bulan Syawal kelak adalah sebuah pencapaian mutlak ruhani dan jasmani masyarakat Sulawesi Tengah. Wallahualam bissawab.
Ulujadi, Palu 28 Rajab 1447 H
*) H.Sofyan F Lembah, Sosial Worker
Apa Reaksimu?
