Penerbangan Perdana AirAsia di Palu Dilakukan 7 Maret 2026
Penerbangan perdana maskapai AirAsia ke Palu akan dilakukan pada 7 Maret 2026. Sehari sebelumnya akan diluncurkan buku berjudul Pilah Pilih Pulih.
PALU, METROSULAWESI.NET - Penerbangan perdana maskapai AirAsia ke Palu akan dilakukan pada 7 Maret 2026. Sehari sebelumnya akan diluncurkan buku berjudul Pilah Pilih Pulih.
Hal itu terungkap saat Wali Kota Palu, H. Hadianto Rasyid, menerima audiensi dari perwakilan AirAsia dan ARKOM Indonesia terkait pra inaugurasi rute penerbangan Palu serta kolaborasi kemanusiaan.
Pihak AirAsia dan ARKOM turut mengundang Wali Kota untuk menghadiri seremoni inaugural tersebut.
Pada pertemuan itu, Direktur ARKOM Indonesia, Yuli Kusworo, berharap momentum peluncuran buku dan pembukaan rute penerbangan ini dapat memperkuat sinergi pembangunan Kota Palu, khususnya dalam mewujudkan kota yang tangguh (resilient).
Hal ini dinilai sejalan dengan program prioritas Pemerintah Kota Palu di bawah kepemimpinan Wali Kota Hadiyanto.
Yuli juga menekankan bahwa tantangan perubahan iklim serta potensi bencana di masa depan menuntut kesiapan bersama.
Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat agar lebih tangguh menjadi bagian penting dari agenda kolaborasi ke depan.
Pertemuan tersebut berlangsung hangat dan penuh semangat kebersamaan, dengan harapan sinergi antara Pemerintah Kota Palu, AirAsia, dan ARKOM Indonesia dapat terus berlanjut demi kemajuan serta ketangguhan Kota Palu di masa mendatang.
Buku Pilah Pilih Pulih merupakan catatan perjalanan rekonstruksi pascabencana yang dilakukan bersama Pemerintah Kota Palu dan didukung oleh AirAsia, khususnya melalui program di kawasan Mamboro Perikanan yang sebelumnya juga meraih penghargaan internasional.
“Kami mengundang Pak Wali untuk memberikan sambutan dalam launching buku tersebut. Buku ini berisi catatan kecil rekonstruksi yang dulu kita lakukan bersama Pemkot dan didukung oleh AirAsia,” ujar Yuli.
Ia menjelaskan, buku Pilah Pilih Pulih memuat tiga fase penting pascabencana.
“Pilah” menggambarkan masa emergensi saat seluruh elemen bergerak bersama masyarakat.
“Pilih” merupakan fase rekonstruksi, sedangkan “Pulih” adalah tahap adaptasi dan mitigasi dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Menurut Yuli, semangat kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil menjadi kunci keberhasilan program tersebut.
Kolaborasi ini bahkan mendapat apresiasi dari pemerintah nasional.
“Ini bagian dari kolaborasi yang cukup bagus antara pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat sipil. Yang sudah terjalin dan sukses besar ini perlu kita lanjutkan,” tambahnya. (*)
Apa Reaksimu?
