Dalam Sepekan Karhutla di Sulteng Hanguskan 79 Hektare, Touna Terbanyak

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulteng mencatat, dalam sepekan terakhir kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menghanguskan sekitar 79 hektare hutan dan lahan di sejumlah wilayah.

Agustus 27, 2026 - 06:30
Dalam Sepekan Karhutla di Sulteng Hanguskan 79 Hektare, Touna Terbanyak
Petugas gabungan berusaha memadamkan kobaran api dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Kalendang Desa Balinggara, Kabupaten Tojo Una-una (Touna), Senin, 17 Agustus 2026. (Foto: Dok. BPBD Sulteng)

PALU, METROSULAWESI.NET - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulteng mencatat, dalam sepekan terakhir kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menghanguskan sekitar 79 hektare hutan dan lahan di sejumlah wilayah. 

Dalam rentang waktu 17 hingga 22 Agustus 2026 terjadi enam kasus, dimana tersebar di Kabupaten Tojo Una-Una, Donggala, dan Kota Palu.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Sulteng Asbudianto, Kabupaten Tojo Una-Una menjadi wilayah dengan laporan karhutla terbanyak, yakni empat kejadian. 

Masing-masing terjadi di Desa Balingara dan Desa Longge, Kecamatan Ampana Tete, Kelurahan Malotong, Kecamatan Ampana Kota, serta Desa Tampanombo, Kecamatan Ulubongka.

“Sementara dua kejadian lainnya terjadi di Desa Alindau, Kecamatan Sindue Tobata, Kabupaten Donggala, dan kawasan Barako, Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu,” kata Asbudianto kepada wartawan Senin (24/8/2026).

Dari empat kejadian yang memiliki data luasan tersebut, sedikitnya 79 hektare hutan dan lahan terdampak. Luasan terbesar tercatat di Desa Longge, Tojo Una-Una, mencapai sekitar 55 hektare, disusul Desa Balingara sekitar 20 hektare. 

Sementara kebakaran di Kelurahan Malotong dan Desa Tampanombo masing-masing berdampak sekitar dua hektare.

Menurut Asbudianto, kondisi musim kemarau yang menyebabkan vegetasi dan lahan menjadi kering, ditambah angin kencang akibat fenomena El Nino turut meningkatkan risiko karhutla di sejumlah wilayah.

Di samping itu, lanjutnya, sejumlah kejadian karhutla juga diduga kuat dipicu aktivitas manusia. Di antaranya membuang puntung rokok sembarangan, pembakaran lahan untuk membuka area pertanian tanpa pengawasan, serta sisa api unggun yang tidak dipastikan telah padam sepenuhnya.

"Kebakaran hutan ini ada dua penyebabnya. Satu memang penyebab alam, yang kedua adalah penyebabnya dari manusia," ujarnya.

Meski demikian, ia memastikan tidak terdapat laporan korban meninggal dunia, hilang, maupun luka-luka dari enam kejadian tersebut. Data BPBD juga belum mencatat adanya warga yang mengungsi akibat kejadian karhutla tersebut.

Dia menambahkan, ancaman karhutla kembali bertambah setelah kebakaran dilaporkan terjadi di Desa Jojo, Kabupaten Sigi, pada 23 Agustus 2026. Kejadian tersebut menjadi laporan terbaru setelah enam kejadian yang tercatat BPBD Sulteng pada periode 17–22 Agustus.

Oleh sebab itu, BPBD Sulteng kembali meminta masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran di lahan maupun kawasan yang berpotensi merambat ke hutan. 

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas. (rri/*)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow